Sara Sagi Terbaru

Kantin Mieso Samalero, Bisnis Kuliner yang Berkembang Berkat Prinsip Kejujuran

Oleh : Fathan Muhammad Taufiq*

Dibandingkan dengan mie bakso atau mie ayam, popularitas ‘mieso’ relatif ‘kalah’ populer, karena nama mieso memang agak kurang ‘familiar’ di telinga para penggemar kuliner mie berkuah ini.

Lezatnya Mieso Samalero (Fathan Muhammad Taufik)

Sebenarnya mieso masih ‘saudara’ dengan mie bakso atau mie ayam, karena bahan dasarnya nyaris sama, yaitu campuran mie kuning (mie telor) dengan mihun (bihun) yang disiram dengan kuah sup berbumbu aneka rempah. Hanya bedanya pada tambahan jenis dagingnya, kalau mie bakso ‘dihiasi’ olahan daging olahan berbentuk bulat yang sudah tidak asing lagi, mie ayam dibubuhi dengan ayam cincang berbumbu semur, sementara mieso, ditaburi potongan daging atau suwiram ayam goreng/panggang.
Tapi khusus di kota Takengon, Dataran Tinggi Gayo di Aceh ini, popularitas mieso nyaris menyamai mie bakso maupun mie ayam.

Ketenaran mieso di daerah berhawa sejuk ini, tidak terlepas dari keberadaan sebuah kantin mieso “Samalero” yang sudah dikenal di seantero Tanah Gayo oleh semua kalangan mulai dari anak-anak sampai para dewasa. Kantin yang sudah berdiri sejak tahun 1983 ini memang menjadi satu-satunya kantin mieso yang paling populer di seputaran kota Takengon, ibukota Kabupaten Aceh Tengah ini, bahkan popularitasnya sampai ke beberapa daerah disekitarnya.

Kantin yang berada di lokasi strategis di kawasan Kebayakan ini, setiap hari ramai dikunjungi pembeli. Campuran mie kuning dengan mihun yang ditaburi potongan daging berbentuk dadu yang kemudian disiram kuah sop beraroma khas ini yang kemudian membuat banyak orang yang pernah mencobanya menjadi ‘ketagihan’ untuk kembali dan kembali untuk mencicipi kuliner yang konon hanya ada di Takengon ini. Sebegai pelengkap, juga disediakan sambal cabe rawit, kecap, cuka dan saos tomat, ada juga beberapa jenis gorengan seperti bahwan, tahu dan tempe goreng yang juga nikmat jika dicampurkan ke dalam mieso.

Kantin yang buka dari hari Sabtu sampai Kamis mulai jam 09.00 sampai jam 20.00 ini, selalu terlihat dipadati pengunjung dari berbagai kalangan, mulai anak-anak, remaja sampai orang tua. Seribu porsi yang disediakan setiap harinya, nyaris tidak pernah bersisa, karena selain rasanya ‘mak nyus’, harganyapun sangat terjangkau.
“Sejarah” Kantin Samalero.

Keberadaan kantin mieso yang kini sangat dikenal itu, mempunyai ‘riwayat’ yang cukup panjang. Berawal dari ‘perjuangan’ seorang perantau asal Sumatera Barat bernama Syafi’i Sutan Ma’ruf yang pada tahun 1970 an bekerja di warung mieso milik perantau asal Jawa Tengah. Sambil bekerja, Syafi’i kemudian belajar meracik bumbu dan membuat mieso, kebetulan sang pemilik warung tidak pelit berbagi ‘rahasia’ usahanya dan karena sudah bekerja cukup lama, Syafi’i pun sudah menjadi orang kepercayaan sang pemilik warung.

Hampir sepuluh tahun, Syafi’i bekerja sebagai karyawan warung mieso itu, dia harus menelan kekecewaan, karena dia terpaksa harus kena “PHK” akibat sang pemilik warung kembali ke Jawa dan warung misonya terpaksa di tutup. Syafi’i yang tidak punya keterampilan lain, terpaksa ‘pulang kampung’ ke ranah Minang bersama isteri dan anak-anaknya yang masih kecil. Namun kepulangannya ke ‘nagari’ asalnya, ternyata tidak mampu merubah nasib keluarganya, akhirnya dia memutuskan untuk kembali ‘mengadu nasib’ ke Tanah Gayo pada tahun 1983.

Berbekal ‘ilmu’ membuat mieso yang diperolehnya di tempatnya bekerja dulu ditambah modal dan peralatan seadanya, Syafi’i dibantu istrinya, Muslimat, mulai merintis usaha mieso secara kecil-kecilan di sebuah warung kecil yang disewanya. Sambil berjualan, diapun mencoba untuk ‘menyempurnakan’ resep yang sudah didapatnya semasa dia bekerja dulu, dengan menambahkan ‘bumbu rahasia’, akhirnya mieso buatannya jadi lebih enak, sehingga mulai digemari pelanggan. ‘Bumbu rahasia’ itu sebenarnya bukan sesuatu yang rahasia, dia hanya mengganti penyedap masakan dengan cairan gula pasir dan kaldu daging tanpa lemak. Dia juga mulai ‘berinovasi’ dengan mengubah campuran mieso dari daging ayam ke daging sapi atau kerbau, ini yang membuat mieso buatannya berbeda dengan mieso lainnya.

Satu hal yang paling dijaganya adalah kualitas dari bahan-bahan pembuatan miesonya, baik mie maupun bumbunya, begitu juga dengan daging yang digunakan, hanya menggunakan daging kualitas satu dan nyaris tanpa campuran lemak. Itu yang membuat mieso buatannya mulai dikenal dan digemari banyak orang. Karena mieso benar-benar mampu ‘menggugah selera’ maka kantin yang mulai berkembang itupun dia namai dengan nama ‘Samalero’ yang artinya kurang lebih ‘pengundang selera”. Bukan mengada-ada, aroma khas mieso Samalero memang ‘menggelitik’ orang untuk mencobanya, dan sekali mencoba, biasanya akan penasaran untuk mencicipinya lagi.

Seiring berjalannya waktu, kantin mieso Samalero pun terus berkembang, warung kecil yang disewanya tidak lagi mampu menampung pembeli yang terus ‘membludak’. Berbekal tabungan dari hasil berjualan mieso selama sekitar 10 tahun, Syafi’i akhirnya mampu membeli sebidang tanah yang cukup luas di pinggiran kota Takengon, yang kemudian dia bangun sebagai tempat tinggal sekaligus kantin tempat usaha bersama keluarganya. Berada di lintasan jalan menuju obyek wisata Danau Laut Tawar, lokasi kantin ini memang sangat strategis dan mudah diakses dari semua penjuru kota. Ini yang kemudian menjadi salah satu faktor maju pesatnya kantin mieso ini.

Meski kantinnya tidak pernah sepi dari pengunjung, Syafi’i yang sadar sebagai sebagai seorang perantau, sangat menghormati adat istiadat dan kearifan lokal setempat. Itulah sebabnya dia selalu menutup kantinnya setiap hari Jum’at, karena sebagai pemeluk agama Islam yang taat, dia menganggap bahwa bahwa hari Jum’at adalah waktu untuk beribadah dan beristirahat, sejalan dengan syariat Islam yang kini diterapkan di daerah yang kini menjadi ‘kampung halaman’ keduanya ini. Kebijakan ‘libur’ pada hari Jum;at ini bahkan sudah dia terapkan sejak dia merintis usahanya.

Dikelola oleh generasi kedua
Perjuangan pasangan Syafi’i dan Muslimat selama puluhan tahun, ternyata tidak sia-sia, usaha yang dirintis dari ‘nol’ ini, kini sudah berkembang menjadi usaha keluarga dengan omset belasan juta rupiah per hari. Meski peminatnya sangat banyak, Syafi’i tidak lantas menjadi ‘serakah’ dalam meraup rejeki, dia tetap membatasi ‘jam kerja’ dan porsi miesonya, dan untuk mempertahan kualitas dari mieso buatannya, dia sengaja tidak membuka cabang dimanapun, meski sebenarnya dia sudah memiliki beberapa ruko di lokasi-lokasi strategis.

Kantin Samalero selalu dipadati pengunjung (Fathan Muhammad Taufik)

Setiap hari, kantin ini hanya menyediakan 1.000 porsi dengan ‘banderol’ Rp13.000,- untuk setiap porsinya. Dengan porsi tersedia seperti itu saja, usaha keluarga ini sudah mampu meraup omset 13 juta rupiah per harinya, sebuah omset yang sangat besar tentunya untuk usaha kuliner yang hanya menyajikan satu macam menu ini.

Dari hasil usahanya ini, dia mampu menjadikan putra putrinya menjadi ‘orang’, salah seorang diantaranya kini menjadi seorang dokter, sementara beberapa anak lainnya sengaja ‘dididik’ menjadi ‘entrepreneur’ untuk meneruskan usaha keluarga ini.

Satu hal yang tetap dipertahankan oleh kantin ini, adalah takaran bumbu dan kualitas bahan yang digunakan. Untuk mie, hanya digunakan mie yang diolah dan diproses sendiri dijamin bebas dari bahan pengawet, sementara untuk daging hanya menggunakan daging kualitas satu yang tidak bercampur lemak sedikitpun, begitu juga dengan kuahnya, sudah diukur untuk seribu porsi dan tidak ditambah-tambah lagi airnya. Itulah sebabnya rasa dan aroma mieso ini tidak berubah sejak dibukanya kantin ini sekitar 35 tahun yang lalu, hal ini banyak diakui oleh para pelanggan tetap mieso ini.

Tahun 2016 lalu, Syafi’i Sutan Ma’ruf telah meninggalkan dunia fana ini dalam usia kurang lebih 70 tahun. Kepergian Syafi’i kemudian disusul oleh isterinya, Muslimat, setahun kemudian. Namun meski sudah ditinggalkan oleh perintisnya, usaha ini masih terus berkembang, dilanjutkan oleh putra putrinya, tentu saja tetap dengan mempertahankan ‘original reccipe’ peninggalan dari kedua orang tua mereka.

Karyawan Kantin Samalero (Fathan Muhammad Taufik)

Tak hanya menjadi sumber pendapatan keluarga yang dapat diandalkan, kantin Samalero juga mampu membuka peluang kerja dan menjadi tumpuan mencari nafkah bagi sekitar 10 orang pekerjanya. Sistem kekeluargaan yang diterapkan dalam manajemen usaha keluraga ini, membuat para karyawan merasa betah bekerja ditempat ini. Dan yang jelas, para pekerja di kantin ini di’gaji’ secara layak, melebihi standar Upah Minimum Regional. Menurut pengakuan beberapa keryawan, rata-rata mereka digaji antara 1,5 – 2,5 juta per bulan ditambah dengan uang makan 50 ribu per hari atau 1,5 juta rupiah per bulan, artinya mereka memperoleh penghasilan antara 3 sampai 4 juta per bulan. Persyaratan utama yang diminta dari semua karyawan hanya satu, yaitu kejujuran, karena perintis usaha keluarga ini memang sejak awal membuka usaha, sangat menjunjung tinggi kejujuran. Disamping itu, menjaga kebersihan tempat dan makanan serta memberikan pelayan yang terbaik kepada pengunjung, selalu ditekankan kepada para karyawan.

Itulah sebabnya, meski sudah beralih ke generasi kedua, usaha ini terus berkembang. Bagi keluarga Syafi’i, ‘menipu’ atau mencurangi pelanggan misalnya dengan mengurangi takaran atau menggunakan bahan baku sembarangan, adalah sebuah pantangan yang tidak boleh dilanggar. Dengan prinsip kejujuran inilah mereka terus bertahan dan berkembang dengan kualitas dan rasa yang tidak pernah berubah dari waktu ke waktu. Ini yang membuat hati para pelanggan seperti terpatri untuk terus mengunjungi tempat ini. Inilah bukti bahwa usaha yang dimulai dengan sebuah kejujuran, akan selalu membawa keberkahan, sebuah inpirasi dan pelajaran berharga dari Samlero, sebuah kantin mieso. Dan buat yang penasaran ingin mencoba kelezatan mieso Samalero, silahkan singgah di Jalan Abdul Wahab, Kebayakan, tepat di samping Mapolsek Kebayakan Takengon.

Baca : Genancing, rupanya mie so cuma ada di Takengon

 

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *