Sara Sagi Terbaru

Tidak Ingin Hina, Muallaf Ini Putuskan jadi Pemulung

Feature : Husaini Algayoni*

Rossita BR Regar adalah perantau dari Pekanbaru yang kini menetap di Simpang Kompi Lampahan, Kecamatan Timang Gajah Bener Meriah yang sehari-hari bekerja sebagai pemulung atau mengambil barang-barang bekas seperti botol, kardus dan besi-besi tua di seputaran Kecamatan Timang Gajah dan Wih Pesam.

Masih dalam suasana lebaran Ibu Rossita bersama anaknya sudah menjalankan aktivitasnya mengambil barang bekas di seputaran pemandian air panas Bandar Lampahan.

Jauh hari sebelum hari ini, Ibu Rossita sering terlihat mengambil barang bekas di salah satu lokasi wisata di Gayo ini.

Kepada LintasGAYO.co, ibu dari enam orang anak ini mengatakan, ia merupakan perantau dari Pekanbaru dan sudah beberapa tahun di Bener Meriah bahkan dia sangat bersyukur tinggal di negeri di atas awan ini, karena dengan tinggal di Bener Meriah ia bisa memeluk agama Islam.

“Saya masuk Islam pada September 2017, disaksikan oleh Reje dan Imam Kampung Lampahan juga Wakil Bupati Bener Meriah Tgk. H. Sarkawi,” kata Ibu Rossita.

Alasan ibu Rossita memilih pekerjaan ini tidak lain karena tidak memiliki pekerjaan lain. “Yang penting halal dan tidak mencuri,” kata Ibu Rossita.

Menurutnya, semangat adalah kunci pekerjaan sehingga ia bisa menyekolahkan tiga anaknya yang masing-masing masih berumur 10, 15 dan 16 tahun.

“Bahkan saya sering mengajak anak saya (M. Furqan siswa Kelas V SD 1 Lampahan) untuk mengambil barang-barang bekas dengan tujuan memberi pendidikan agar dia bisa hidup mandiri ketika sudah dewasa dan tidak malu melakukan pekerjaan yang halal,” kata Ibu ini penuh semangat.

Akhir cerita singkat kami, penulis bertanya tentang fenomena pengemis yang semakin merajalela. “Hina rasanya hidup ini kalau mengemis, Allah masih memberikan fisik yang kuat dan sempurna maka harus digunakan dengan sebaik mungkin,” kata Ibu Rossita sebagai petuah penyiram rohani yang gersang

Sungguh banyak hal yang bisa kita jadikan hikmah dari perjalan hidup Ibu Rossi, bahwa kemuliaan bukanlah apa yang manusia lihat tapi apa yang Allah Ridha. Bukankah menjadi pemulung yang Allah Ridha lebih baik dari pada berbaju dinas, mobil mewah tapi dari hasil korupsi? [ZR]

*Penulis adalah kontributor LintasGAYO.co dan mahasiswa Filsafat Fakultas Ushuluddin UIN Ar-Raniry Banda Aceh.

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *