Keber Ari Gayo Pendidikan Terbaru

Perdana, Rumah Tahfidz Ar-Raudhah Jagong Gelar Tasyakuran


Catatan : Mahbub Fauzie*

Khairukum man ta’allamal Qur’aana wa ‘allamahu. Sebaik-baik kalian adalah yang belajar al-Qur’an dan mengajarkannya. Demikian satu di antara bunyi hadits Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Bukhari.

Semangat dari hadits inilah yang mendasari Ustadz Komaruddin Anshory (43 tahun) tidak pernah berhenti untuk berkiprah di lingkungan tempat tinggalnya, Kampung Jagong Kecamatan Jagong Jeget melakukan kegiatan keumatan berbasis membudayakan belajar dan mengajar (ta’lim muta’alim) kitab suci Al-Qur’an, pedoman umat Islam.

Berangkat dari rasa syukur nikmat atas keberhasilan keluarganya yang pada tahun 2015 mendapat salah satu juara Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) yang berhadiah umrah se-keluarga ke tanah suci,  satu di antara program keagamaan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Aceh Tengah masa kepemimpinan Ir H Nasaruddin – Drs H Khairul Asmara.

Saat di tanah suci itulah muncul inspirasi dan niat hati, setelah kembali ke tanah air akan merintis dan mendirikan rumah tahfidz, yakni tempat bagi generasi muslim muslimat di lingkungannya untuk belajar menghafal Al-Qur’an dan pelajaran-pelajaran berbasis ilmu-ilmu Al-Qur’an.

“Berdirinya rumah tahfidz ini diniatkan semenjak berada ditanah suci bersama keluarga yang mana kami diberi kepercayaan oleh pemerintah daerah sebagai salah satu contoh keluarga qurani sehingga kami dengan dana yg tidak sedikit pemerintah Kab Aceh Tengah memberikan penghargaan untuk kami,” tutur Komaruddin.

Dia menyadari bahwa dana yang dipakai pemkab untuk ber-umrah bagi keluarganya dan para juara yang lainnya adalah berasal dari ummat, maka dia berharap dan berkomitmen  benar-benar bisa dijadikan sebagai “amanah” bagi diri dan keluarganya yaitu menjadi contoh bagi masyarakat sekitar minimal dalam bidang gemar membaca alquran terbih lg memperdalam dalam bidang tajwid dan tahsinnya.

“Rumah tahfidz ini diberi nama Rumah Tahfidz Ar-Raudhah, karena munculnya gagasan ini ketika kami berada di masjid nabawi tepatnya ketika berada di Raudhah,”  ujarnya sembari mengatakan bahwa arah dan tujuan didirikanya untuk menambah keberadaan pendidikan al-Qur’an di Jagong Jeget yang belum ada lembaga yang secara khusus mengajarkan bidang hafalan.
“Dengan adanya tumah tahfidz ini kedepan insyallah bisa kita bisa  persiapkan SDM-SDM yang mampu menghafal Al-Qur’an,” tandas Komaruddin penuh semangat.

Komaruddin juga mengatakan bahwa dirinya bersama rekan seperjuangan didukung keluarganya telah berobsesi pada tahun ajaran 2018/2019 ini mendirikan Madrasah Tsanawiyah (MTs) Plus Tahfidz di Jagong Jeget. Saat ini sudah ada Madrasah Aliyah Swasta (MAS) Al-Huda yang sudah eksis keberadaannya. Dan dia juga sebagai pimpinannya.

Target kami, ujar Komar bahwa dalam kegiatan belajar-mengajar di MTs Tahfidz, bidang menghafal Al-Qur’an menjadi prioritas utama. Dan diharapkan, hingga MAS akan banyak anak didik yang bisa hafal 30 juz.

“Menuju ke arah itu, pada waktu libur panjang terutama seperri pada bulan ramadhan ini, kita mengadakan karantina menghafal alqur’an,” papar ustadz yang semasa remajanya banyak belajar ilmu agama pada Pondok Pesantren di Jawa Timur. “Dalam suasana Ramadhan bulan yang suci ini, diharapkan dapat mendekatkan generasi muslim untuk lebih cinta alqur’an,” tandasnya.

Tenaga Pengajar di Rumah Tahfidz Ar-Raudhoh

Tenaga pengajar di rumah tahfidz ini antara lain: Leni Mardiani Sari dan Anis khaerun Nisa yang juga diberi kepercayaan tahun 2016 lalu diberangkatkan umrah oleh Pemkab Aceh Tengah sebagai hadiah prestasinya dalam musabaqah Tahfizh wa Takhsin yang pernah diprogramkan pemkab di tahun itu.

Selain itu ada Evi Okta ltfiani dan Lisa Andriani. Sementara yang putra ada Mustofa dan Fathurrahman yang keduanya pernah belajar tahfidz di Cilacap Jawa Tengah.

Sementara itu atas dukungan ketua Yayasan Alhuda dan seluruh dewan guru Aliyah kami memperjuangkan berdirinya rumah tahfidz ini. Dengan bermodalkan dari menyisihkan uang saku umroh yg diberikan pemerintah kami beli tanah seluas 250 meter selanjutnya kami mulai membuat pondasi dengan rizki yang diberikan oleh Allah, sedikit demi sedikit serta shadaqah jariyah dari para mukhlisin dengan dukungan yang tenaga yang luar biasa dari santri seperti Yazid Alhakim dkk.
Dengan izin Allah rumah tahfidz ini dapat difungsikan setelah kurang lebih memakan waktu satu tahun dua bulan.

Karantina dan Tasyakur Pertama di Ramadhan Tahun 1439 H 

Ustadz Komar juga menuturkan, bahwa untuk karantina perdana kami baru bisa menampung santri yaitu 30 santri putri dan 13 santri putra. Karena terbatasnya fasilitas dan tenaga pengajar terpaksa beberapa santri yg lain tidak dapat kami tampung. Insyalloh tahun depan kita persiapkan.

Sementara untuk kegiatan karantina perdana ini santri hanya dibebankan infak 150 ribu.dengan rincian 100 rb untuk murabbi pembimbing santri. Sementara bagi yang berasrama biayanya 25 rb perhari untuk takjil, buka, snek malam serta makan sahurnya. Adapun program pasca romadhan adalan takhsin dan murojaah bagi yg sudah hafal. Program takhsin ini dimaksudkan agar ketika mengikuti karantina tahfidz nanti santri sudah benar-benar dapat membaca alqur’an dengan baik dan benar sehingga ketika mengikuti karantina tidak lagi terbebani dengan bacaan yang masih perlu diperbaiki.

Alhamdulillah, pada hari Minggu sore (10/6) telah sukses kami gelar kegiatan tasyakur pertama bagi santri-santri yang mengikuti karantina dalam suasana Ramadhan tahun ini. []

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *