Opini Terbaru

PKA Antara Polemik Revitalisasi dan Tradisi

Oleh: Rasyidin, M.Sn*

Apapun sanggahan dari penyelenggaraan Pekan Kubayaan Aceh ke tujuh. Baik juknis, juklaknya yang muncul dipermukaan tanah setelah di gubrak-gabrik dari warung kaki lima, pengamatan saya dari penelitian saya terhadap Mop-mop atau Biola Aceh yang muncul sejak tahun 1972 pada Pekan Kebudayaan Aceh kedua (ralat tahun 1973), dari obrolan kedai kopi oleh beberapa orang tua yang menyebut dirinya sebagai budayawan. Menyebut eksistensi Sandiwara Aceh, Geulanggang Labu, Sinar Jumpa, phub, Peh Tem dsb.

Ternyata semuanya hanya mitos kosong yang tidak ada dalam sejarah jejak rekam perkembangan teater Aceh. Setiap tahun atawa pertiga tahun penyelenggaraan Pekan Kebudayaan Aceh semuanya tidak pernah merevitalisasi kesenian teater selain Biola Aceh pada tahun 1972 dan PM Toh Tengku Adnan dan To’et yang ditampilkan pada tahun 1983 (inforamsi bisa diralat) tidak satupun dan Dalupa yang ditampilkan pada Pekan Kebudayaan Aceh tahun 1988.

Semua data yang diisukan pernah berjaya bahkan pelakunya masih hidup satu dua orang sampai sepuh saat ini, tidak satupun kesenian yang berkembang di kedai kopi itu dihadirkan dalam bentuk tayangan siluet atau photo pertunjukannya.

Keraguan saya terhadap semangat “Aceh Nation” atau “spirit Aceh Hebat” ternyata hanya sebuah semboyan jilatan yang bertujuan untuk melancarkan program ABS (Asal Bapak Senang). Semangat populis yang bertendesius politis dan bernada menjilat ternyata hanya sebuah alat untuk berkelit agar oknum-oknum tertentu yang lemah dan tidak memiliki latar pondasi merancang konsep visual seni pertunjukan agar dapat melampiaskan nafsunya untuk dapat menyedot rupiah untuk mereka dapatkan.

Hampir semua catatan yang saya kumpulkan dari semua perjalanan yang telah mewarnai Pekan Kebudayaan Aceh dari tahun ke tahun, ternyata semua data pertunjukan tersebut hanya menjadi bahan ulakan selepas makan siang ataupun bahan obrolan kedai kopi di pelataran Taman Budaya Aceh era tahun 1980-an.

Bahan yang diurai oleh para penulis catatan kaki dan lambung telah meramu catatan semu itu hanya menjadi bahan pengurai sakit hati para pelaku kesenian yang sampai saat ini tidak pernah menemukan kebahagiaan dalam berkebudyaaan di tanah kelahirannya.

Panitia PKA juga membubuhkan judul tema besar PKA dengan semangat Revitalisasi Kebudayaan, namun dalam pelaksaannnya konsep Revitalisasi tidak teraplikasi dengan baik dalam pelaksanaan PKA ke7.

*Penulis adalah Ketua Komite Teater Dewan Kesenian Aceh

 

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *