Catatan Redaksi Sara Sagi Terbaru

Mari Bangun Aceh Tengah Bersama, Jangan Ada Ancam-Mengancam!


Bangga rasanya bisa melihat Aceh Tengah maju. Namun kebanggaan itu kandas setelah membaca tanda-tanda zaman bahwa “Negeri Malem Dewa” ini akan mengalami kemunduran, baik dari pembangunan fisik maupun mental.

Penyebab utama adalah perpecahan dalam masyarakat Aceh Tengah sendiri; elit lawan elit, pejabat lawan polisi, jargon uken-towa, rebutan proyek, dan semua potensi yang memecah belah masyarakat.

Dalam proses pembangunan perlu adanya keamanan dan kenyamanan, baik bagi penyelenggara pemerintah maupun kontraktor sebagai pelaksana proyek pembangunan. Kalau sudah ada ancam-mengancam tentu sangat mengkhawatirkan pembangunan Aceh Tengah yang kita cintai ini.

Kota Takengon malam hari dari puncak BurniTelong. (Okta Bina)

Aceh Tengah telah banyak kehilangan tokoh pemersatu. Masyarakat yang terkotak-kotak tidak ada yang peduli. Krisis kepercayaan masyarakat terhadap tokoh meningkat sebab tokoh membaur dengan masyarakat kalau sudah ada maunya; menjelang Pilkada atau pemilu legislatif. Ini menjadi preseden buruk bagi generasi muda kita.

Dalam kondisi seperti ini, harus ada tokoh yang berinisiatif “memecahkan kebekuan” pembangunan di Aceh Tengah. Kita punya tokoh di DPR RI, Ir. Tagore Abu Bakar, juga ada Wagub Nova Iriansyah, ada enam anggota DPRA, juga ada elit kelas menengah; diantaranya Zulfikar AB, Imanuddin, Samsul Saba. Bersatulah memerangi musuh bersama yaitu, “Orang-orang yang menghambat Pembangunan di Aceh Tengah.”

Keberadaan elit menengah penting sebagai karburator. Mereka jembatan antara elit dan masyarakat bawah. Sejarah telah membuktikan Bupati TM Yusuf bisa keluar Aceh Tengah hanya dengan modal cat pilok.

(Fauzan Azima : Mendale, 2 Juni 2018)

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *