Opini Terbaru

Tangisan Buku di Hari Buku Nasional

Oleh: Husaini Muzakir Algayoni*

“Untuk mengukur kualitas diri seseorang atau suatu bangsa dapat dilihat dari apa yang dibacanya” (Abdul Aziz Saefuddin).

Epistemologi merupakan cabang ilmu dalam bidang filsafat yang membicarakan masalah sumber pengetahuan/asal-usul ilmu diperoleh atau metode-metode ilmu didapatkan. Dalam aliran epistemologi Barat, sumber pengetahuan berasal dari empirisme (pengalaman), rasionalisme (akal/pikiran) dan intuisme sedangkan dalam epistemologi Islam dikenal dengan istilah bayani (pemahaman secara tekstual-normatif), irfani (spiritual-intuitif) dan burhani (rasional-demonstratif).

Antara epistemologi Barat dan epistemologi Islam mempunyai kelemahan dan keunggulan sesuai dengan perspektif masing-masing dari seorang pencari ilmu pengetahuan, rasionalisme eksis dalam epistemologi Barat sedangkan tekstual atau bayani merupakan ciri khas Islam dalam memperoleh pengetahuan maka tidak heran pada masa Dinasti Abbasiyyah merupakan masa keemasan dan kejayaan peradaban Islam dalam pengetahuan karena zaman ini dilakukan kegiatan penerjemahan serta majunya industri kertas sehingga lahirlah perpustakaan terbesar dan fenomenal dengan nama Bayt al-Hikmah di Baghdad, perpustakaan ini dibangun bukan hanya berpusat pada penerjemahan tetapi juga menjadi pusat pengembangan berbagai macam ilmu pengetahuan lainnya seperti filsafat, sains dan lain-lain.

Selain perpustakaan Bayt al-Hikmah dibangun pada masa Abbasiyyah, ada juga perpustakaan Dinasti Fatimiyyah di Mesir dengan Universitasnya al-Azhar. Universitas al-Azhar hingga sekarang ini masih eksis dan kokoh berdiri di Mesir dan merupakan salah satu Universitas kebanggaan umat Islam dan yang ketiga perpustakaan Kordoba (Spanyol) milik Dinasti Umayyah. Kejayaan Islam di Spanyol tinggal cerita dan yang tersisa hanyalah nama daerahnya dan nama klub liga Spanyol seperti Kordoba dan Granada.

Di era postmodern ini, hadirnya tekhnologi membuat orang dalam mencari pengetahuan tidak lagi bersusah payah atau melakukan hal-hal seperti pencetus ilmu pengetahuan yang melahirkan cara memperoleh ilmu pengetahuan (epistemologi) atau menghabiskan waktu di perpustakaan karena saat ini ilmu pengetahuan sudah menyebar di dunia internet.

Internet merupakan tempat favorit generasi zaman now mendapatkan ilmu pengetahuan, rela berlama-lama di warung kopi dilengkapi dengan fasilitas wifi serta ditemani secangkir kopi atau rela membeli kartu internet untuk browsing lewat handphone. Sementara itu, buku dalam bentuk kertas peninggalan para penulis (ulama dan ilmuwan) ditelantarkan di perpustakaan karena buku bukan lagi sebagai referensi primer dalam meningkatkan kualitas keilmuan, buku hanya hiasan semata di rak-rak perpustakaan. Buku baru diambil ketika ada tugas diberikan oleh dosen, andai saja buku bisa berbicara maka yang ia ucapkan mungkin saja “Kau menyentuhku disaat ada tugas ketika kau tidak ada tugas maka aku dicampakkan hingga berdebu di rak-rak perpustakaan, sungguh teganya dikau menyentuhku saat ada maunya.”

Dalam mencari referensi pengetahuan generasi zaman now memang lebih menyukai lewat internet daripada buku, walaupun tidak sepenuhnya lewat internet itu salah namun ketika referensi primer dari internet maka yang terjadi adalah kegoncangan dalam intelektual dan dipertanyakan kualitas keilmuannya. Karena tidak sepenuhnya dalam internet tersebut bisa dijadikan sebagai rujukan, bisa saja tulisan-tulisan dalam internet ditulis oleh orang-orang yang mempunyai kepentingan atau tidak pakar dalam bidangnya.

Abdul Aziz Saefuddin dalam bukunya “Republik Sinetron” mengatakan untuk mengukur kualitas diri seseorang atau suatu bangsa dapat dilihat dari apa yang di tonton atau dibacanya, untuk mengukur kualitas keilmuan kita maka kita tanyakan pada diri masing-masing; apa yang saya baca? Dari mana sumber bahan bacaan saya? Apakah dari buku sebagai referensi primer atau dari internet yang tidak jelas sumber referensinya. Dimana kualitas keilmuan kita? Itu hanya pribadi masing-masing yang bisa menjawabnya di hari buku nasional ini.

Negara-negara maju seperti Jepang, Perancis dan Finlandia sangat membudayakan aktivitas membaca maka tidak heran kualitas sumber daya manusia negara ini begitu hebat karena referensi primer pengetahuannya berasal dari buku, gaya ini pernah dilakukan umat Islam pada masa silam sehingga Islam berada dalam masa keemasan dalam peradaban ilmu pengetahuan namun gaya ini telah ditiru oleh negara-negara Barat. Kemudian bangsa kita, bangsa Indonesia posisinya dimana atau kita sendiri secara individu? Apakah buku masih eksis sebagai referensi primer pengetahuan atau hanya sebagai hiasan belaka di perpustakaan.

Kualitas diri dan kualitas bangsa kita, bisa dilihat dari apa yang kita baca dan bacaan tersebut apakah dari buku, internet atau dari bahan bacaan-bacaan hoax. Selamat Hari Buku Nasional 21 Mei 2018.

*Penulis: KolumnisLintasGAYO.co

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *