Keber Ari Ranto Terbaru Wisata

Menelisik Rumah Singgah Presiden Kedua RI di Ujung Aceh


Catatan : Junaidi A Delung*

Presiden kedua Republik Indonesia, Soeharto ternyata telah menjajaki bumi Aceh dan kabarnya telah pernah membuat rumah singgah berupa villa untuk tempat berteduh. Setelah ditelusuri, ternyata kabar tersebut benar teraelip dalam sejarah peradaban Aceh, khususnya masa Orde Baru.

Rumah singgah tersebut keberadaannya terdapat di Aceh Besar, tepatnya perbukitan pelabuhan Malahayati Krueng Raya atau sering disebut Ujung Aceh.

Posisi tempat singgah ini berada di deretan perbukitan. Setelah melewati beberapa menit perjalanan menuju bukit Lamreh, atau wisata pantai Pasir Putih, Aceh Besar, bukit itu kini lebih dikenal dengan sebutan Bukit Soeharto.

Wahdini, penjaga Bukit Soeharto mengatakan rumah yang dijaganya itu telah berdiri sejak tahun 80-an, atau pada masa Soeharto menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia.

“Kurang lebih pada tahun 1980-an sudah didirikan rumah itu,” kata Wardini, yang sudah menjaga tempat tersebut kurang lebih sudah lima tahun.

Jika dilihat dari ukuran, rumah ini lumayan besar. Namun sayang, gambar atau bentuknya tidak tampak lagi, sebagaimana awalnya. Bangunan banyak yang di hanguskan pada masa konflik GAM-RI beberapa tahun silam.

Bangunan ini tampaknya indah dan besar, ketika dilihat dari keping reruntuhan yang ada. Meskipun tidak sebesar istana merdeka yang ada di Jakarta. Diperkirakan ukurannya, kurang lebih panjangnya mencapai 30 s.d 50-meter dan lebarnya 20 s.d 25 meter.

Wardini menambahkan, keberadaan rumah singgah Soeharto ini dulunya dihiasi dengan patung-patung yang masih berdiri kokoh. “Dulunya disini banyak patung-patung, termasuk patung Soeharto,” terangnya.

Namun disayangkan, keberadaan patung tersebut sudah tidak tampak lagi, dan telah hancur lebur dimasa konflik waktu GAM-RI tersebut. Saat sekarang ini hanya tinggal puing bangunan yang telah luluh lantah disekitaran tempat itu, bahkan tidak ada sedikitpun bekas ukirannya.

Meskipun demikian, ada beberapa bangunan yang masih kokoh berdiri dan masih eksis dari rumah singgah sejarah itu. Bangunan tersebut adalah prasasti Soeharto. Prasasti ini tampaknya dibangun pada tahun 09 September 1989. Hal ini diketahui karena terdapat tulisan didinding tugu itu bertuliskan (09-09-1989).

Jika ukuran dan bentuknya, prasasti ini biasa saja dan hampir mirip menyerupai kaki monas Jakarta. Akan tetapi tidak tinggi, namun diperkirakan berukuran kecil dengan ketinggian hampir dua meter. Prasasti tersebut masih tetap pondasinya, akan tetapi sudah dicoret dan tidak terawat sepenuhnya, sehingga tidak tampak indah.

Ada juga meriam peninggalan penjajah Jepang, yang masih berdiri tegap dan kuat sebagaimana meriam yang ada di museum Aceh, di pekarangan kota Banda Aceh. Tepat di dinding tempat meriam itu berada dituliskan, “meriam tahun 1943, peninggalan Jepang di gunung Momong Lampuuk, Lhok’nga.”

Selain meriam, juga terdapat puluhan pohon yang ditanam oleh tokoh-tokoh penting kala itu, sebagai wujud rasa andil menghiasi rumah singgah Bukit Soeharto. Ada beberapa orang nama penanam pohon yang ikut menuliskan dan menancapkan kenangan sejarah di seputaran lingkaran hias pohon itu. Seperti nama pohon Pulai, yang ditanam oleh panglima ABRI, Faisal Tanjung pada 25 Desember 1995. Kapuk Randu, yang ditanam oleh Suyudi, pada tahun yang sama, tanggal 25 Desember 1995. Serta puluhan pohon lainnya yang menghiasi tempat itu dengan nama penanam pohon.

Saat ini, bukit Soeharto ini telah dimanfaatkan menjadi wisata sejarah. Dari bukit ini juga tampak pelabuhan Malahayati dan tempat wisata lainnya yang cukup bagus. Selain pemandangan yang indah, juga disajikan monumen sejarah seperti yang diatas tadinya. Jadi, pengunjung tidak hanya berkunjung untuk menikmati pemandangan semata, melainkan juga bisa menikmati monumen sejarah Soeharto.

Tempat ini berada di daerah pelabuhan Malahayati, Aceh Besar, tepatnya di perbukitan arah menuju Lamreh. Semoga bisa menambah wawasan pengetahuan dan juga selamat menikmati keindahan alam yang cukup memukau di daerah sana. []

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *