Opini Terbaru

HTI dan Pancasila; Menyikapi dengan Bijak dalam Bingkai NKRI

Oleh: Husaini Muzakir Algayoni*

Keberadaan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) memang dirancang untuk menolak paham Pancasila yang merupakan ideologi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), mereka berencana mengganti pemahaman Pancasila dengan konsep Khilafah. Maka dari itu, keputusan Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) menolak gugatan HTI terkait pembubaran organisasi kemasyarakatan (ormas) sudah tepat; kata Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfud MD saat menjadi pembicara dalam Dialog Solutif Gerakan Daulat Desa dengan tema ‘Bangkitnya Kedaulatan dan Martabat Rakyat Dalam Demokrasi Pancasila’ yang diadakan di Gedung Joang 45, Menteng, Jakarta Pusat, Senin (7/5/2018). okezone.com

Jauh sebelum HTI dibubarkan oleh pemerintah, penulis telah membaca majalah HTI “al-Wa’ie” sebagai media politik dan dakwah HTI. Majalah-majalah tersebut ada yang berisikan menentang konsep nasionalisme karena nasionalisme merupakan racun mematikan dan tidak sesuai dengan Islam. Dalam pandangan HTI demokrasi juga bertentangan dengan Islam, penyakit demokrasi mulai dari kepala hingga kaki. Karena itu, demokrasi harus dirombak semuanya dan solusinya hanya ada pada Khilafah.

Selain majalah, penulis juga membaca buku-buku yang berkaitan dengan anti pancasila dan demokrasi yang mengatakan pancasila adalah thagut ideologi dan demokrasi thagut di bidang politik dilengkapi dengan argumen-argumen berkelas sehingga penulis mengalami gejolak pemikiran antara menerima Pancasila atau menolak Pancasila karena penulis hidup di Indonesia yang berideologikan Pancasila. Maka dari itu, penulis mencari referensi pembanding untuk bisa menentukan sikap dengan bijak dalam kehidupan berbangsa dan beragama serta hidup dengan damai dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Gejolak pemikiran ini telah lama terpendam, maka tulisan ini bisa saja sebagai unek-unek yang dikeluarkan dari alam pikiran. Benar atau salah itu para pembaca setia LintasGAYO.co yang bisa menilainya dari sudut pandang masing-masing, penulis hanya mengeluarkannya dari alam pikiran yang telah lama terpendam. Dilihat dari momentnya juga begitu pas unek-unek ini dikeluarkan karena HTI telah dibubarkan oleh pemerintah, kemudian HTI mengajukan banding dan PTUN menolak seluruh gugatan HTI terkait pembubaran ormas.

Ideologi dan Implementasinya yang tidak sesuai dengan kehidupan berdasarkan Pancasila

Pancasila merupakan pandangan hidup Bangsa dan dasar Negara Republik Indonesia perlu dihayati dan diamalkan secara nyata untuk menjaga kelestarian dan keampuhan demi terwujudnya tujuan Nasional serta cita-cita Bangsa seperti tercantum dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945; (Ketetapan MPR RI Nomor: II/MPR1978 tentang Pedoman Penghayatan Pengamalan Pancasila). Dalam penghayatan dan pengamalan Pancasila merupakan kesatuan yang bulat dan utuh dari kelima sila. Pancasila yang bulat dan utuh itu memberi keyakinan kepada rakyat dan bangsa Indonesia bahwa kebahagiaan hidup akan tercapai.

Paham kebangsaan adalah dasar negara dan dasar negara adalah Pancasila, namun ada pihak-pihak yang berkata “Kami tidak memerlukan paham dan pendirian kebangsaan” dan “Agama tidak mau menerima paham kebangsaan” demikian dikatakan Bung Karno dalam Pidato pada Kursus Pancasila di Istana Negara, Juni 1958. Padahal dengan keyakinan dan kebenaran Pancasila, Maka manusia ditempatkan pada keluhuran harkat dan martabatnya sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa dengan kesadaran untuk mengemban kodratnya sebagai makhluk pribadi dan sekaligus makhluk sosial.

Ada beberapa ideologi yang bukan bersumber pada kepribadian bangsa Indonesia dan oleh karenanya bertentangan dengan Pancasila yang dapat menghambat kemajuan dan pembangunan bangsa. Pertama, ideologi yang bertentangan dengan Pancasila adalah Liberalisme, yang mana paham ini menekankan pada manusia sebagai individu dengan menonjolkan masalah hak-hak asasi, kebebasan, kemerdekaan dan persamaan sertamenumbuhkan sistem ekonomi liberal yang kemudian dikenal sebagai sistem kapitalis. Dalam kehidupan kenegaraan dapat menciptakan pengkotakan-pengkotakan dan persaingan bebas yang pada gilirannya dapat menumbuhkan eksploitasi terhadap manusia dan bangsa lain.

Kedua, Komunisme yang bertitik tolak dari paham pertentangan kelas dan secara khusus menolak adanya Tuhan Yang Maha Esa (atheistis) dengan diktator proletariat sebagai ciri kehidupan kenegaraannya. Ideologi yang satu ini bagaikan hantu bagi rakyat Indonesia karena isu ini selalu muncul pada musim pesta demokrasi untuk kepentingan politik dan tiba-tiba hilang kembali dengan sendirinya.

Ketiga, paham yang yang menyalahgunakan ajaran agama. Paham ini bertitik tolak dari penyalahatafsiran dan penyalah ajaran sesuatu agama tertentu untuk kepentingan suatu kelompok atau golongan dan dikembangkan atas dasar fanatisme yang sempit, dalam UUD 1945 ditegaskan bahwa negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab. Hal ini negara berkewajiban untuk melindungi, memelihara dan mewadahi aspirasi keagamaan umat beragama termasuk meningkatkan budi pekerti kemanusiaan dan cita-cita moral rakyat yang luhur.

Dari ketiga paham di atas para pembaca budiman bisa menilai dimana letak HTI berada atau tidak ada sama sekali; itu tergantung dari sudut pemahaman masing-masing, tapi yang jelas HTI memang dirancang untuk menolak paham Pancasila yang merupakan ideologi NKRI dan HTI berencana mengganti pemahaman Pancasila dengan konsep Khilafah seperti yang dikatakan oleh Mahfud MD di atas. Dan ini telah disinggung oleh Bung Karno pada tahun 1958 silam bahwa ada pihak-pihak yang tidak mau menerima paham kebangsaan dengan alasan agama tidak mengenal yang namanya paham kebangsaan.

HTI mengorek-ngorek ideologi NKRI yang telah diperjuangan oleh the founding fathers Republik Indonesia yaitu Pancasila, yang mana Pancasila kata Bung Karno “Aku bukan pencipta Pancasila, Pancasila diciptakan oleh bangsa Indonesia sendiri. Aku hanya menggali Pancasila daripada buminya Indonesia.” Sebagaimana kita ketahui bersama-sama bahwa Indonesia adalah bangsa yang unik (baca: Uniknya Bangsa Indonesia, LintasGAYO.co 08/01/2017) mempunyai berbagai macam agama, suku, bahasa dan warna kulit bersatu dalam bingkai NKRI yang berideologikan Pancasila.

Ketika ideologi bangsa digoyang maka pemerintah wajib menjaga ideologi tersebut karena Pancasila sebagai dasar negara yang merupakan kepribadian dan pandangan hidup bangsa. Pemerintah juga berkewajiban melindungi rakyatnya dari ideologi yang tidak sesuai dengan falsafah Pancasila sehingga bisa hidup saling berdampingan dalam perbedaan suku, bahasa maupun agama untuk menjaga kerukunan dan persatuan bangsa Indonesia.

Dalam pandangan penulis HTI bukanlah organisasi kemasyarakatan dengan gaya kekerasan atau radikal dalam berdakwah bahkan kalau kita lihat konsep dakwah HTI bermain dalam lingkungan orang-orang berpendidikan serta tokoh-tokoh HTI dan para pengikutnya mempunyai latar belakang pendidikan yang tinggi mulai dari dosen hingga mahasiswa, oleh karena itu kalau dikatakan HTI adalah ormas yang mengusung kekerasan atau radikal; menurut penulis itu kurang tepat. HTI bermain dalam ranah ideologi dan berperang melawan ideologi Pancasila, inilah yang menjadi pokok persoalan menurut penulis sehingga penulis berada dalam gejolak pemikiran.

Perang ideologi yang mereka gencarkan untuk menolak Pancasila, ini lebih berbahaya daripada perang dengan menggunakan senjata karena ketika pemahaman agama begitu sempit dan wawasan kebangsaan Indonesia tidak luas maka menimbulkan gairah untuk melawan ideologi Pancasila dengan cara kekerasan atau radikal bahkan melihat orang non-muslim saja mereka begitu alergi karena dikembangkan oleh atas dasar fanatisme yang sempit.

Untuk kasus seperti ini, model bacaan menentukan arah pikiran. Ketika hanya dibelenggu oleh bacaan yang bersifat eksklusif maka arah pikiranpun cenderung eksklusif; begitu sebaliknya ketika bahan bacaan terlalu terbuka/bebas maka arah pikiranpun bisa kebablasan tanpa ada arah. Maka dari itu, perlu referensi pembanding dalam bahan bacaan sehingga bisa memperoleh pikiran yang bisa menyejukkan dan membawa kedamaian dalam kehidupan berbangsa dan beragama.

Deliar Noer seorang pemikir dan penulis hebat yang lahir di Medan pada tahun 1926 mengatakan “Aku bagian umat, aku bagian bangsa.” Kemudian kita bagian dari mana? Apakah hanya dari bagian umat saja atau bagian dari bangsa saja, semoga kita bagian dari umat dan bagian dari bangsa sehingga bisa berperan dalam memajukan dan menjaga persatuan bangsa Indonesia.

Akhir dari tulisan ini, penulis mengutip perkataan Badshah Khan seorang pejuang muslim antikekerasan kepada rakyatnya kaum Pathan, kutipan ini bisa menjadi renungan untuk kita semua dan bisa jadi sindiran halus untuk semua rakyat Indonesia.

Ada dua jalan menuju kemajuan nasional:
“Yang satu adalah jalan agama, dan yang satunya adalah jalan patriotisme…. Kalian semua pernah mendengar tentang Amerika dan Eropa. Orang-orang Eropa di negara-negara tersebut mungkin tidak terlalu religius, tetapi mereka memiliki rasa patriotis, mencintai bangsa mereka dan memiliki kesadaran sosial.

“Lihatlah kemajuan yang telah mereka capai. Kemudian liahatlah diri kita sendiri! Kita bahkan sama sekali belum belajar untuk berdiri di atas kaki kita sendiri. Lihatlah standar kehidupan mereka dan kemudian lihatlah standar kehidupan kita.”

“Jika kita sekarang berada di jalan menuju kehancuran, itu karena kita tidak memiliki semangat religius yang sejati, atau semangat patriotisme yang sesungguhnya maupun rasa cinta kepada bangsa kita….

*Penulis: Kolumnis LintasGAYO.co

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *