Buku Terbaru

Badshah Khan; Pejuang Muslim Antikekerasan


“Hal yang dilakukan oleh kekerasan adalah menciptakan kebencian di antara umat manusia dan menciptakan ketakutan”

Info Buku
Judul Buku : Badshah Khan: Kisah Pejuang Muslim Antikekerasan yang Terlupakan.
Penulis : Eknath Easwaran
Tahun Terbit : Cetakan Pertama, Desember 2008
Tempat Terbit: Yogyakarta
Penerbit : Bentang
Jumlah Halaman: 322
Resiator Buku: Husaini Muzakir Algayoni*

Di abad 21 seorang pejuang muslim dan juga pejuang kebebasan sejati menawarkan sebuah jalan antikekerasan untuk melawan kezaliman, ketika Inggris menggempur bangsanya dengan senjata; ia tidak mengangkat senjata dan ia tak sekali pun tergerak untuk membalas. Alih-alih untuk membalas ia bergerilya dari kampung ke kampung untuk menyerukan perdamaian. Dia mengajak banyak pemuda untuk mendukung gerakan Khudai Khidmatgar (Pelayan-pelayan Tuhan) yang didirikan pada tahun 1929, sebuah gerakan antikekerasan yang dilancarkan untuk membendung kekerasan dengan semboyan kebebasan dan memiliki tujuan pelayanan.

Disaat bangsanya digempur oleh Inggris, pejuang muslim antikekerasan yang terlupakan ini menyerukan antikekerasan. Inilah yang membuat penulis penasaran atas sikap pejuang muslim ini, kenapa ia menyerukan antikekerasan disaat musuh menggempur bangsanya dengan senjata? Pertanyaan ini yang akan penulis jawab dalam tulisan singkat ini untuk kita ketahui bersama-sama bahwa masih ada orang yang tidak menyukai kekerasasn disaat dunia dipenuhi dengan kekerasan, karena sebagian manusia masih menyukai yang namanya kekerasan; entah itu atas nama agama/politik untuk mencapai kekuasaannya atau jalan jihad dengan kekerasan yang menyalahi ajaran agama padahal kekerasan tidak dibenarkan dalam agama karena agama mengajarkan kedamaian dan membawa kedamain untuk manusia.

Pejuang antikekerasan tersebut lahir pada tahun 1890, ia sering dipanggil dengan Badshah Khan (Raja para Khan) sementara nama aslinya Abdul Ghaffar Khan. Badshah Khan berasal dari keluarga berdarah Pathan sebuah daerah perbatasan Pakistan dan Afghanistan; setelah India meraih kemerdekaan Pathan ini menjadi negara Pakistan. Dia adalah sahabat dekat Mahatma Gandhi seorang tokoh antikekerasan, dua tokoh ini membebaskan bangsanya dari kekerasan tanpa bersimbah darah; Mahatma Gandhi membebaskan India dan Badshah Khan membebaskan suku Pathan, yang mana suku Pathan mempunyai iman yang sederhana tetapi penuh gairah kepada Tuhan mendasari segenap aspek kehidupan mereka. Dengan mengetahui bahwa mereka kurang dalam pengetahuan agama membuat mereka mencari spiritualitas dalam kehidupan seseorang yang benar-benar taat.

Badshah Khan sebagai seorang pejuang antikekerasan terinspirasi dari kehidupan pemikir muslim Mahatma Gandhi, ia merespons gaya hidup sederhana Gandhi dan keteguhannya dalam kebenaran serta sikap antikekerasan dalam segala permasalahan kehidupan. Dalam diri Gandhi, Khan mengenali sosok Mahatma, sang “Jiwa Besar” orang sejiwa, seorang pencari yang tengah berupaya melayani Tuhan dengan melayani makhluknya yang paling miskin. Maka dari itu Badshah Khan tidak bisa diam ketika ia melihat kemiskinan, kebodohan, ketidakpedulian dan kekerasan disekitarnya sehingga ia mendirikan sekolah dan berjuang melawan kekerasan.

Dunia sekarang ini sedang berjalan ke arah yang aneh, anda bisa melihat kalau dunia ini sedang menuju kehancuran dan kekerasan. Hal yang dilakukan oleh kekerasan adalah menciptakan kebencian di antara umat manusia dan menciptakan ketakutan. Saya seorang yang percaya pada antikekerasan dan saya mengatakan bahwa tidak akan ada perdamaian atau keselarasan lahir ditengah-tengah umat manusia di dunia kecuali antikekerasan dipraktikkan. Karena antikekerasan adalah cinta kasih dan kasih itu mengobarkan keberanian di hati manusia, demikian kata Badshah Khan kepada seseorang pewawancara di Afghanistan pada tahun 1985.

Menurut keyakinanku yang terdalam, Islam adalah amal (pengorbanan tanpa pamrih), yakeen (iman) dan muhabat (cinta, kasih sayang). Amal, Tanpa ketiga ini, sebutan “Muslim” adalah bunyi terompet dan denting simbol al-Qur’an menyebutkan dengan sangat jelas bahwa iman kepada Tuhan Yang Esa tanpa ada yang kedua, dan kerja keras, cukup untuk menjamin keselamatan seseorang.

Buku setebal 322 halaman ini layak dibaca bagi orang yang antikekerasan sehingga pejuang yang terlupakan ini akan diingat kembali bagaimana perannya mengkampanyekan antikekerasan disaat ada kekerasan atau boleh saja membacanya bagi orang yang masih menyukai kekerasan dalam hal apapun sehingga membuka mata batin bahwa kekerasan bukanlah jalan mendapatkan kedamaian dan ketenangan.

Dengan mengetahui perjuangan Badshah Khan yang dijuluki “Gandhi dari Perbatasan” ini akan membuka pikiran kita bahwa menjadi seorang muslim sejati itu bukan mereka yang berkoar-koar dengan dakwahnya mengajak kebaikan tapi masih saja menebar permusuhan dan kebencian diantara manusia dan lebih parah lagi menebar kekerasan hanya untuk memenuhi kecocokan pikiran dan hatinya, Imam Syafi’i mengatakan mememuhi segala kecocokan dengan hati semua manusia adalah hal yang tidak mungkin dicapai.

Muslim sejati yang disampaikan oleh Badshah Khan adalah memiliki amal, yakeen dan muhabat. Mudah-mudahan kita bisa menjadi muslim sejati dengan peran sebagai manusia yang melayani Sang Pencipta dan melayani apa-apa yang diciptakan Sang Pencipta sesuai dengan makna Islam itu sendiri yaitu perdamaian dan orang muslim ialah orang yang damai dengan Allah dan damai dengan manusia.

“Dua jenis pergerakan dilancarkan di provinsi kita….
Pergerakan dengan kekerasan (perlawanan sebelum 1919)
Menciptakan kebencian di benak rakyat kita terhadap kekerasan. Namun, pergerakan tanpa kekerasan memenangkan cinta, hasrat dan simpati rakyat.”
(Badshah Khan)….

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *