Sara Sagi Terbaru

Sebait Nasihat untuk Pangeranku


 

Catatan Muhammad Nasril*

Salah satu hal yang membuat kita akan selalu mengingat terhadap suatu pristiwa adalah karena kejadian tersebut merupakan momen yang sangat berharga. Setiap orang pasti memiliki momen bahagia yang sulit untuk ia lupakan.

Begitupun aku,  tepatnya ketika tiga tahun lalu aku menulis “Tuhanku, karuniakanlah kepadaku dari sisi-Mu keturunan yang baik . Sungguh Engkau Maha mendengar permohonan, Alhamdulillah Ya Rabb. Telah lahir putra kami pada Kamis, 22 Januari 2015 pukul 17.15 WIB di Gayo Lues. Mohon doa rakan-rakan mandum semoga menjadi anak shaleh.”

Masih teringat jelas suasana saat itu, kenangan saat istriku Jusnaini Hasni harus pasrah kepada Allah atas segala yang Ia titipkan termasuk nyawa, dan saya juga telah memasrahkan apapun keputusan terbaik dari dokter untuk kelahiran anak kami yang pertama.

Sejak malam, istriku telah mulai merasakan sakit yang teramat sangat hingga akhirnya harus di bawa ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Gayo Lues sebelum subuh.

Tubuhku gigil, bukan hanya karena dinginnya udara pagi di negeri seribu bukit, tapi juga gigil membayangkan kemungkinan terburuk yang akan dihadapi orang yang sangat kucintai. Sungguh, gigil yang pernah kurasa tidak pernah segigil ini.

Sesampainya di rumah sakit, berkonsultasi dengan dokter dan menganjurkan istriku untuk di caesar karena alasan medis. Masih dengan gigilku kutanda tangani surat izin untuk melakukan tindakan operasi ini untuk istriku.

Mengikuti anjuran dokter untuk berpuasa,  saya, keluarga dan tenaga medis membantu mendorong istriku yang telah berbaring lemah di ranjang rumah sakit menuju ruang operasi. Tidak ada seorangpun yang dizinkan masuk mendampingi istriku termasuk aku.

Bak kata pepatah, tidak ada yang paling membosankan selain menunggu, dan kurasai pepatah ini kurang tepat untuk kondisiku sekarang, bukan bosan untuk menungguinya di ruang operasi, akan tetapi gundah, bercampur panik, dan aku baru merasai dingin yang mengeluarkan keringat.

Dzikir dan do’a tak henti kulantunkan di hati, dudukpun tak tenang, berdiri kaki terasa lumpuh, ku genggam erat tanganku yang berkeringat sembari terus melantunkan do’a terbaik untuk istriku.

Setelah beberapa jam kemudian, dokter memanggilku dan mengabarkan anak pertamaku telah lahir dengan selamat. Syukur tak henti kulantunkan, kupandangi wajah mungilnya dan kulantunkan adzan, air mata bahagia membasahi pipiku. Ahlan fi dunya Nak.

Kehadiranmu ke dunia menjadikan kami sebagai Abi sebagai ayah !dan ibu seutuhnya. Muhammad Ahza Elmutawally begitu nama yang kami sematkan, berharap agar kelak kau akan menjadi anak Shalih, seperti nama ulama besar di Mesir, Beu Meutuah dan gembira sesuai dengan nama yang telah kami berikan.

Nak, ketika petuah ini ayah tulis dalam sebuah catatan, usiamu telah genap 3 tahun 2 bulan dan 26 hari. Kau telah tumbuh menjadi anak lelaki yang menggemaskan, celotehanmu selalu membuat Abi dan Ummi merindu, kosa kata dan tingkahmu kini lincah.

Nak, seiring dengan berjalan waktu, engkau akan terus belajar dari kehidupan, engkau akan melihat betapa kuatnya arus dan kerasnya kehidupan, berbagai macam model manusia didunia ini, apalagi arus politik, rasanya tak lagi mengenal saudara dan Narkoba merajalela dimana mana. Namun sekuat apapun arus itu, engkau haruslah tetap kokoh nak, karena perjuanganmu untuk menggapai RidhaNya masih sangat panjang, teruslah melangkah, jangan takut nak, Abi dan Ummi siap menjadi madrasah untukmu.

Anakku, kelak saat engkau sudah tumbuh dewasa, jagalah Ummi, jangan bantah apalagi melawannya. Jika ia sakit, rawatlah Ia nak, karena sosoknya yang telah mendidikmu sampai engkau sukses kelak. Jangan buat hati Ummi sedih karena tutur dan tingkah mu, tapi bahagiakanlah ia nak, engkau akan mengerti kenapa, betapa sulit perjuangannya, semua ia lakukan untukmu, dan kelak saat engkau telah mengalaminya kau akan mengerti.

Anakku, dalam perjalanan kehidupanmu kelak kadang  Abi dan Ummi sering menegur dan tegas kepada mu. Itu bukan maksud Abi dan Ummi ingin menyakiti hatimu nak, tapi teguran ini adalah tanda cinta kami untukmu, dan ini adalah langkah memperbaiki diri untuk mengembalikanmu ke arah yang benar. Juga saat kami tegas, kami ingin pelajaran untuk mu tentang komitmen.

Nak, jika engkau menemukan pahitnya jalan kehidupan hari ini, itu merupakan pembelajaran dalam kehidupanmu, bahkan kadang nanti kamu lebih sering menghadapi. Maka bersabarlah anakku, karena kesabaran adalah kunci dalam melewatinya, walau sulit.

Anakku, hari ini ada Abi dan Ummi yang menggenggam tanganmu agar kau tetap kuat, kami akan terus berada di sampingmu agar saat kau jatuh, kami bisa mengangkatmu.

Tapi ingatlah anakku, Abi dan Ummi tidak selamanya bisa mengangkatmu saat kau jatuh, tidak selalu bisa mendampingimu, suatu saat nanti, kadang kami telah pergi, kau harus bisa berdiri sendiri, untuk itu kami ingin kelak kau hanya menggantungkan hidupmu kepada Allah bukan orang lain.

Oleh karena itu nak, dalam kehidupanmu jangan jauh dari ajaran agama, belajar dan terus belajar, karena seorang pemuda yang beragama kuat, akan menuntunnya pada jalan kehidupan yang benar saat yang lain memutuskan untuk berhenti.

Nak, Abi akan selalu berusaha membuat wajahmu ceria, tertawa dan tidak sedih. Karena sosok Ayah akan melakukan apapun untuk mu nak, badan dan seluruh anggota tubuh ini siap menjadi jembatan untuk kesuksesan mu, Abi tak akan mengeluh dengan keadaan, badai dan rintangan yang dihadapi dalam berjuang untukmu. Akan tetapi anakku ketahuilah. Hari ini sosok Abi yang menggendong mu, karena masih kuat akan tetapi kelak, engkaulah harapan Abi dan ummi yang akan mengangkat dan menggendong kami kelak, kami rindu sentuhan tangan dan tatapan wajahmu anakku.

Anakku, teruslah berjalan dan kadang berlari, berjuang untuk kebahagiaan dunia akhirat dan Kami akan terus menjadi jembatan untuk kesuksesan dunia maupun akhirat.

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *