Jurnalis Warga Politik Terbaru

Kenapa Harus LGBT?

Oleh: Rayhanah*

Sebagai orang yang normal pasti mencintai lawan jenis, dengan demikian bukanlah manusia jika terjebak dengan pengaruh homoseksual seperti kaum Nabi Luth yang kisahnya Allah abadikan dalam Al-Quran, dan sekarang dipraktikkan kembali oleh sebahagian umat Nabi Muhammad SAW. Kaum Sodom (nama kaum Nabi Luth) adalah sebuah kaum yang cinta sesama jenisnya, sehingga Allah adzab dengan dikirimnya angin yang sangat dasyat (QS AL-Qamar : 53-54).

Allah melarang mencintai sesama jenis, karena hal ini sangat keji dan biadab. Allah menciptakan manusia berpasang-pasangan. Mufasir abad ke-8 Ibnu Katsir menanggapi kasus ini saat menafsirkan ayat 21 surat Ar-Rum bahwa diciptakannya kaum wanita sebagai pasangan hidup bagi laki-laki agar tercipta keserasian di antara mereka. Kalaulah pasangan itu dari jenis yang sama akan timbul keganjilan.

Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa mendapati orang yang melakukan perbuatan seperti kaum Nabi Luth, maka bunuhlah kedua-duanya, baik subjek maupun objeknya”. (HR. Tirmidzi).

Ini merupakan posisi dan sikap tegas Rasulullah SAW. Yang tentu saja bisa diadaptasikan dalam konteks hukum positif, misalnya, sebagaimana yang sudah dijelaskan secara jelas dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku seperti yang diungkapkan diawal.

Pakar kedokteran jiwa, dalam bukunya “Pendekatan Psikoreligi pada Homoseksual” (2009), mengungkapkan, kasus homoseksual tidak terjadi dengan sendirinya, melainkan melalui proses perkembangan psikoseksual seseorang, terutama faktor pendidikan keluarga dirumah dan pergaulan seksual. Homoseksual dapat dicegah dan diubah orientasi seksualnya, sehingga seorang yang semula homoseksual dapat hidup wajar lagi (heteroseksual). Bahkan dalam pandangan penulis buku itu, “Bagi mereka yang yang merasa dirinya terkena penyakit akut LGBT dapat berkonsultasi kepada psikiater yang berorientasi religi, agar dapat dicarikan jalan keluarnya sehingga dapat menjalani hidup ini dengan wajar dan sesuai akal sehat”.

Di Indonesia, komunitas LGBT belum bisa diterima oleh masyarakat. Tidak sedikit masyarakat berpadangan negatif, benci, kotor, serta jijik sampai mengucilkan dan memarjinalkan pelaku LGBT tersebut. Namun, terdapat juga sekelompok masyarakat yang justru pro terhadap komunitas ini. Salah satu bentuk pengaplikasiannya terbentuk beberapa LSM seperti Swara Srikandi di Jakarta, LGBT Gaya Nusantara dan lain sebagainya.

Komunitas LGBT semakin terbuka menunjukkan identitas diri di ruang publik dan gencar memanfaatkan teknologi informasi, termaksuk sosial media. Sarana chatting dan facebook yang dijadikan ruang untuk saling mengetahui, mengenal dan berbagi cerita menjadi ajang pencarian pasangan. Bukti-bukti di atas merupakan salah satu contoh berkembangan komunitas LGBT, yang menurut mereka merupakan hak asasi mereka yang patut dilindungi.

Kemudian bagaimana sikap kita melihat fenomena LGBT ini?, jika melihat antara maslahat dan mudharat yang terjadi, kita tidak mendukung dan juga tegas menolak.

Tentu menolak dengan menghadirkan solusi yang bijak, yakni dengan menunjukkan kepedulian dan terapi pengobatan kepada mereka yang telah terjangkit penyakit LGBT ini. Bagaimana wujud kepedulian itu?, bukan dengan mendukung tapi dengan terapi jiwa. Berdasarkan uraian diatas, para pakar kedokteran jiwa telah menerangkan bahwa LGBT ini bisa disembuhkan, baik melalui konsultasi kepada psikiater yang berorientasi religi (agama) agar dapat dicarikan jalan keluarnya.

Hanya dengan agamalah semua problematika hidup bisa diatasi, kemudian tidak berhenti disini; hal penting juga tidak bisa dilepaskan begitu saja kepada mereka yang sedang dalam proses berusaha untuk sembuh dari penyakit ini.

Jadi kita sebagai masyarakat yang membantu penyembuhan mereka dari penyakit berbahaya ini sekaligus meluruskan mereka dari jalan yang keliru sehingga kita semua terbebas dari perilaku yang dilarang oleh ajaran agama, bukan hanya agama Islam yang melarangnya tapi semua agama melarang yang namanya penyimpangan hubungan antar sesama jenis.

*Penulis: Mahasiswi Jurusan Psikologi Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *