Jurnalis Warga Opini Terbaru

Bunga Kartini dan Mekarnya Nabila


Oleh: Husaini Muzakir Algayoni*

Sebahagian negara maupun daerah di belahan dunia ini masih mengekang keterlibatan perempuan dalam berekspresi dan berkreativitas, keberadaan perempuan hanya di rumah dan tidak boleh keluar dari lingkungan rumahnya bahkan perempuan tidak mempunyai hak dan kuasa untuk bersuara karena semua keputusan ada dipihak laki-laki. Praktik seperti ini karena tradisi yang telah mengakar dalam pelukan masyarakat walaupun terkadang tradisi menyalahi kodrat sebagai manusia yang mempunyai kebebasan dalam berekspresi dan berkreativitas.

Penulis tidak bisa membayangkan bagaimana perihnya perasaan seorang perempuan ketika dirinya dikekang oleh keluarganya karena aturan adat dan budaya yang membatasi pekerjaan perempuan. Satu gambaran bisa kita lihat dalam novel “Perempuan Suci” yang ditulis oleh Qaisra Shahraz yang mengisahkan peliknya realitas kehidupan perempuan ditengah-tengah kungkungan tradisi yang dibangun oleh laki-laki di negeri Pakistan yang eksotis.

Di Indonesia juga tidak kalah sengitnya ketika perempuan dipingit karena tradisi yang telah diterapkan, salah satunya terjadi pada sosok bernama Kartini, seorang gadis berdarah Jawa keturunan terhormat yang memegang teguh adat memingit. Kisah kehidupan Kartini tersimpan dalam buku “Habis Gelap Terbitlah Terang” yang dicetak pertama kali pada tahun 1945. Sosok perempuan yang satu ini menjadi legenda dan pahlawan bagi perempuan Indonesia pada umumnya maka tidak heran setiap tanggal 21 April diperingati hari Kartini sesuai dengan tanggal lahirnya.

Dalam buku “Habis Gelap Terbitlah Terang” dijelaskan bahwa sosok Kartini adalah orang yang peduli terhadap pendidikan, suka belajar, gemar membaca dan menulis, suka maju dan dia tahu masih banyak pengetahuan yang dapat dipelajari namun keadaan masyarakat ketika itu masih memegang adat istiadat yang tidak membolehkan perempuan berpelajaran dan tidak boleh bekerja di luar rumah. Maka dari itu, nasib anak gadis Jawa menurut saja, cuma satu saja tujuan hidupnya yaitu nikah dengan orang yang tidak dikenalnya.

Hatinya sakit dan merasa kesepian ketika ia dipingit oleh keluarganya maka dari itu Kartini membuka jalan dan merombak adat kebiasaan serta memperjuangkan kedudukan perempuan supaya mendapat pengajaran dan mendapat pekerjaan di luar rumah tangga. Dan jika perempuan itu berpelajaran, lebih cakaplah dia mendidik anaknya dan lebih cakaplah dia mengurus rumah tangganya dan lebih majulah bangsanya. Itulah perjuangan dan cita-cita dari seorang Kartini, ia bagaikan bunga indah yang indah dipandang mata yang membebaskan perempuan dari kungkungan tradisi.

Kartini lahir di daerah Jawa pada tahun 1808. Now, di tahun 2018 yang sama-sama ada angka delapannya lahir sosok bintang yang namanya menggema di dataran tanah tinggi Gayo dan suaranya bermelodi indah ketika seruling dan alunan lagu dangdut menghentakkan panggung membuat siapa saja yang mendegarnya pasti bergoyang, begitu juga dengan secangkir kopi Gayo berubah menjadi kopi dangdut. Nabila, itulah namanya dan nama lengkapnya penulis tidak tahu karena belum pernah berkenalan apalagi berjabat tangan.

Fenomena Nabila tentunya membawa angin segar ke negeri atas awan dan sebelum itu perlu kita cermati bersama-sama bahwa tidak ada kungkungan tradisi terhadap perempuan-perempuan Gayo sehingga perempuan Gayo bisa mengeluarkan bakatnya dan melepaskan kreativitasnya dalam hal-hal yang membanggakan dan bisa membawa harum nama daerah.

Kemudian perempuan Gayo juga bisa bersaing dengan daerah-daerah lain yang ada di Indonesia dan Nabila telah membuka jalan tersebut serta rasa optimisme untuk perempuan Gayo lain dan yang paling utama adalah mekarnya Nabila dengan bakat yang ia miliki telah mengharumkan perempuan Gayo dan menghantarkan nama Gayo menggelora keseluruh penjuru nusantara, mempromosikan kerawang Gayo, seni daerah seperti tari saman Gayo dan sahabatnya tari guel.

Bunga Kartini yang membebaskan perempuan dari kungkungan tradisi dan mekarnya Nabila mengharumkan perempuan Gayo. Dalam hal ini, penulis menggoreskan kata-kata untuk mendeskripsikannya:

Di kegelapan malam yang pekat
Langit berwarna merah menurunkan air hujan
Air hujan dengan lantunan irama padang pasir
Rintikan-rintikan air yang tajam
Namun menyentuh bumi dengan kelembutan

*Penulis: Kolumnis LintasGAYO.co

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *