Buku Sara Sagi Terbaru

Si Perusak (Snouck) dalam Buku Strategi Belanda Mengepung Aceh


Oleh: Husaini Muzakir Algayoni*
Judul Buku : Strategi Belanda Mengepung Aceh 1873-1945
Penulis : Yusra Habib Abdul Ghani, Nordin Hussin, Azlian Mohd Enh
Penerbit : Bandar Publishing Banda Aceh
Tahun Terbit : Cetakan Pertama, Maret 2015
Jumlah Halaman: 109

Sejak meletusnya Perang Aceh melawan Kolonialis Belanda pada tanggal 26 Maret 1873, para pejuang Aceh dengan gigih dan semangat mempertahankan tanah Aceh dari serangan musuh. Belanda tidak sanggup menaklukkan Aceh dengan strategi militer walaupun mempunyai persenjataan lengkap, salah satu faktor Belanda tidak sanggup menaklukkan Aceh ialah kuatnya aqidah Islam dalam tubuh rakyat Aceh ketika itu serta peran ulama sebagai motivasi jihad dan syair perang sabi sebagai media dakwah dalam membangkitkan keberanian.

Seorang orientalis ternama dan di akui keilmuannya oleh ilmuwan Eropa bahkan para sarjana Barat di anggapnya sebagai legendary figure (KBA dalam Acehnologi Vol 1), karena kemampuannya yang unik seperti energi intelektualnya yang tidak kenal lelah, ketelitian yang tajam dalam mengungkapkan semua pandangannya (Anthony Reid: Asal Mula Konflik Aceh: Dari Perebutan Pantai Timur Sumatera hingga Akhir Kerajaan Aceh Abad ke-19). Maka dari itu tidak heran bahwa dia adalah seorang pakar dalam bidang antropolog yang ahli tentang Islam dan budaya.

Sosok tersebut, orang Aceh menyebutnya sebagai tuan seunuet. Hal ini disebabkan oleh misinya yang bersifat merusak atau melibas (Sudirman, Tuan Seunuet. Serambi 02/2013). Sementara di daerah Gayo, dia menggunakan nama “Haji Putih” atau “Habib Putih” (M.H Gayo: Perang Gayo Alas Melawan Kolonialis Belanda). Dia murid dari dari salah seorang orientalis besar Belanda Michael Jan de Goeje dan dalam kalangan masyarakat Aceh maupun sejarawan namanya begitu masyhur yang kita kenal dengan nama Christiaan Snouck Hurgronje.

Sosok tentang C. Snouck Hurgronje telah banyak dikaji dan ditulis oleh sejarawan, salah satunya buku “Strategi Belanda Mengepung Aceh 1873-1945” yang ditulis oleh (Yusra Habib Abdul Ghani, Nordin Hussin, Azlian Mohd Enh). Nama Yusra Habib Abdul Ghani para pembaca budiman pasti telah mengenal dengan nama yang satu ini, sementara dua penulis lainnya berasal dari Malaysia dan keduanya merupakan pakar sejarah di Universitas Kebangsaan Malaysia.

Buku ini terdiri dari beberapa sub judul (1 sampai dengan 10), dari sub-sub judul tersebut ada satu sub judul yang membuat saya terkagum dan enak dibaca karena sebelumnya saya belum pernah mendapatkan referensi seperti yang tertera dalam buku ini yaitu tentang “Snouck Hurgronje Mengadopsi Strategi Johann Friedrich Carl Gericke,” disebutkan disini bahwa Strategi Snouck Hurgronje dalam menaklukkan Aceh ternyata terlebih dahulu diterapkan oleh Carl Gricke dalam menaklukkan tanah Jawa dan ini merupakan ketidak hebatan Snouck Hurgronje.

Seperti yang saya tulis diatas bahwa Belanda sulit menaklukkan Aceh karena aqidah Islam rakyat Aceh begitu kuat ditambah lagi dengan peran Ulama serta media dakwah dalam syair perang sabi menjadikan rakyat Aceh begitu gagah dan berani melawan kolonialis Belanda, maka dari itu Belanda merubah taktik dari militer ke non-militer untuk bisa menaklukkan Aceh. Nah, taktik non-militer inilah peran seorang Snouck Hurgronje dinilai sangat penting sebagai suatu terobosan.

Seperti yang kita ketahui bersama bahwa Snouck Hurgronje sempat belajar dan mendalami Islam di Mekah bahkan ia pura-pura masuk Islam dan mengganti nama dengan Abdul Ghaffar, ia mempelajari Islam dengan maksud dan tujuan tertentu. Maka tidak heran ketika ia berada di Aceh, pengetahuan Islamnya sudah mendalam sehingga ia bisa mempermainkan dan menebar kelemahan ajaran Islam baik dari luar maupun dari tubuh Islam itu sendiri.

Strategi non-militer yang dicanangkan oleh Snouck seperti memutus mata rantai antara kelompok Uleebalang dan Ulama, memisahkan Islam dan politik serta para jamaah haji yang berangkat dari Aceh mesti diawasi karena ditakutkan ketika pulang dari Arab, mereka akan membawa idea pan-Islamisme. Belanda melihat salah satu kekuatan Islam terletak pada sifat Internasionalnya dan ini terletak dalam ibadah haji.

Strategi yang diterapkan oleh Snouck Hurgronje di Aceh, ternyata terlebih dahulu diterapkan oleh Johann Friedrich Carl Gericke. Ia menerapkan taktik peleburan diri kedalam masyarakat Jawa, ketika menaklukkan orang Jawa melalui lembaga bahasa Jawa yang didirikan pada tahun 27 Februari 1832. Pada tahun 1827, Gericke menerjemahkan Kitab Injil kedalam bahasa Jawa; bahkan Gericke menyusup sebagai santri istimewa di Pesantren Tegal Sari, Ponorogo pada tahun 1829.

Kemudian ketika itu, didirikan Institut Bahasa di Jawa untuk studi bahasa-bahasa Timur, dengan maksud memajukan usaha penerjemahan Alkitab. Tujuannya, selain untuk mengalihkan pikiran dan pandangan orang Jawa kepada keunggulan Belanda, sekaligus merubah identitas dan aqidah ke-Islaman masyarakat Jawa yang fanatik kepada ajaran gomo jowo (Kejawen) dan mengikis spirit Islam. Taktik yang diterapakn oleh Gericke dijalankan secara rahasia dan perlahan-lahan, hingga masyarakat Jawa pada suatu masa akan lebih menghormati budaya dan tradisi Jawa termasuk ajaran agama Jawa (gomojowo) daripada ajaran agama Islam.

Demikian ulasan singkat tentang sosok Christiaan Snouck Hurgronje dalam buku “Strategi Belanda Mengepung Aceh: 1873-1945), dengan strategi yang ia terapkan mampu mengelabui rakyat Aceh ketika itu dengan jalan siasat politik pecah belah, memisahkan antara Uleebalang dan Ulama yang menjadikan rakyat Aceh terpecah belah dan merusak persatuan dan kesatuan semangat Aceh melawan Belanda dan mengaburkan ajaran-ajaran Islam. Di era sekarang ini, semoga tidak ada lahir watak-watak seperti Snouck Hurgronje yang wataknya suka merusak kesatuan dan persatuan untuk kepentingan individu maupun kelompoknya.

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *