Sara Sagi Terbaru

Cerita di Balik Kesuksesan Peluncuran Novel Romansa Gayo dan Bordeaux


Catatan : Win Wan Nur*

Setelah menyelesaikan proses penulisan dan editing, Novel “Romansa Gayo dan Bordeaux” masuk ke tahap krusial lainnya: peluncuran.

Tahapan ini menjadi krusial karena akan menjadi bagian yang sangat menentukan, bagaimana karya perdana saya ini akan dipersepsi oleh para calon pembaca, karena dalam novel ini saya banyak mengangkat tema-tema kesetaraan, perlawanan terhadap diskriminasi, represi Orde Baru serta tentang keberagaman dan tentu saja tentang kopi sekaligus pariwisata.

Ketika Al Junishar, Dekan Fakultas Kopi Jakarta, yang menjadi penyelenggara acara peluncuran novel ini menanyakan siapa saja yang saya inginkan untuk menjadi pembicara, saya mengajukan empat nama: Nezar Patria, Azmi Abubakar, Reza Pahlevi dan Fikar W. Eda.

Saya mengajukan nama Nezar Patria karena diketahui umum dan diperlakukan sangat zalim oleh penguasa Orde Baru. Nezar adalah pendiri AJI yang kini merupakan anggota Dewan Pers dan juga Pemimpin Redaksi “the Jakarta Post”, koran berbahasa Inggris terbesar dan paling berpengaruh di Indonesia.

Nama kedua yang saya ajukan adalah Azmi Abubakar yang sekarang secara nasional dikenal sebagai pemilik museum peranakan Tionghoa. Saat ini di kalangan masyarakat Tionghoa sendiri, Azmi dipandang sebagai pembela mereka yang paling utama dari kalangan pribumi. Putra Gayo asal Bintang ini saya pilih karena saya juga mengisahkan diskriminasi yang dialami etnis Tionghoa. Sehingga tentu saja tak ada sosok yang lebih tepat untuk membicarakan tema tersebut dibanding laki-laki brewok yang sekarang saya panggil Aman Renggali ini.

Karena latar belakang novel saya mengenai pariwisata, maka nama ketiga yang saya harapkan hadir adalah Reza Pahlevi, mantan Kadis Pariwisata Aceh yang baru saja diangkat menjadi Asdep kemenpar.

Dan karena judul novel begitu jelas menunjukkan Gayo serta membicarakan kopi dari sisi budaya, jadi tentu saja harus ada seorang pembahas yang mengulas soal Gayo. Karena itu tentu saja tidak ada nama yang lebih tepat dibandingkan Fikar W. Eda, yang dalam penilaian saya adalah budayawan terbesar dan paling berpengaruh yang dimiliki Gayo pada saat ini.

Ketika mengajukan nama-nama tokoh “kelas berat” ini kepada Al Junishar, saya tentu sepenuhnya paham kalau tidaklah mungkin menghadirkan mereka semua secara bersamaan. Dengan mempertimbangkan segala kesibukan mereka, sebenarnya saya sendiri sudah senang sekali kalau satu saja dari keempat nama yang saya ajukan itu dapat hadir pada peluncuran novel “Romansa Gayo san Bordeaux”. Tapi nyatanya, Al Junishar memang seorang EO yang luar biasa hebat. Dari keempat nama besar yang saya ajukan itu, tiga di antaranya bisa hadir dan hanya Reza Pahlevi yang berhalangan karena tugas di luar kota.

Ketika sebuah acara diisi oleh nama-nama kelas berat seperti ini, tentu saja MC yang memandunya juga tidak pantas diberikan pada MC kacangan. Karena itulah saya secara pribadi meminta kepada Liza Cici Dayani, seorang MC Senior dan salah satu yang terbaik yang pernah dimiliki Aceh. Padahal sebenarnya Cici sudah memutuskan untuk pensiun dari dunia ini dan bahkan sebelumnya seorang gubernur pun tak mampu meluluhkan keputusannya untuk kembali turun gunung. Tapi entah karena alasan apa, ketika saya memintanya untuk menjadi MC pada acara peluncuran ini, dia langsung mengiyakan pada kesempatan pertama.

Sebagai penyelenggara, Al Junishar dengan Fakultas Kopi-nya tidak ingin acara yang diisi oleh para pembicara dan MC berkualitas tersebut hanya menjadi acara biasa saja. Dekan Fakultas Kopi ini membuat acara menjadi lebih menarik lagi dengan memberi selingan acara kesenian, tari dan lagu Gayo yang dimainkan oleh Sanggar Pegayon ditambah dengan permainan gitar dan biola dari dua musisi profesional. Keberadaan dua musisi profesional ini membuat saya terpikir untuk ikut tampil menyanyikan lagu Prancis, agar sesuai dengan judulnya, “Romansa Gayo dan Bordeaux.”

Ide saya langsung disambut baik oleh Al Junishar. Sayapun menunjukkan lagu yang ingin saya nyanyikan di acara ini, “Juste Pour Me Souvenir” dan “La Jument Michao” yang keduanya dipopulerkan oleh Nolwenn Leroy. Hanya butuh waktu 10 menit bagi mereka untuk mendengarkan lagu yang saya minta dan mereka pun langsung dapat memainkannya dengan sempurna.

Sementara itu, tim humas yang saya bentuk bersama Mahara Publishing dan Fakultas Kopi terus mempromosikan acara ini dengan gencar sehingga animo pengunjung demikian besar. Pada hari berlangsungnya acara, pengunjung benar-benar ramai dan beragam dari berbagai latar belakang, suku, bangsa dan agama. Begitu ramainya sampai-sampai beberapa orang bahkan tidak kebagian tempat. Beberapa yang hadir terpaksa menyaksikan acara ini dari lantai dua.

Fadhlullah TM Daud, wakil bupati Pidie yang kebetulan sedang berada di Jakarta, ketika mengetahui adanya acara ini langsung memutuskan untuk hadir. Tapi dari eemua pengunjung, yang paling membuat saya terharu adalah L.K Ara, sastrawan senior dan budayawan legenda hidup asal Gayo. Dengan tubuh rentanya, beliau memaksakan diri datang ke acara peluncuran novel perdana saya ini. Sungguh merupakan kehormatan yang begitu besar bagi saya.

Seperti yang saya prediksikan sebelumnya, kehadiran nama-nama yang saya harapkan dapat menghadirkan ulasan yang benar-benar berbobot. Nezar selain memuji novel ini juga tak segan melontarkan kritik yang sangat tajam. Azmi juga demikian. Selain mengakui kalau buku ini membahas tema-tema besar dan juga penuh dengan semangat perlawanan terhadap diskriminasi, Azmi juga mengeritik penggunaan kata Cina yang telah secara resmi diganti menjadi Tionghoa oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono melalui Keputusan Presiden Nomor 12 Tahun 2014. Kritik yang memiliki dasar yang sangat kuat ini membuat saya memutuskan untuk sepenuhnya menghilangkan kata “Cina” dan menggantinya dengan “Tionghoa” pada cetakan kedua novel saya yang akan terbit pada tanggal 21 maret nanti. Fikar W. Eda dalam kapasitasnya sebagai perwakilan Gayo, memilih untuk menjelaskan tentang Gayo di hadapan para audiens yang sangat beragam. Semua ini dipandu oleh Liza Cici Dayani dengan sempurna.

Semua pembicara yang hadir adalah sosok-sosok dengan karakter dan reputasi yang sangat kuat. Ketika moderator mencoba melemparkan pembahasan para pembicara kepada pengunjung untuk menjadi sebuah diskusi, sayangnya ada rasa segan dari para pengunjung untuk mengajukan pertanyaan. Alhasil hanya Pak L.K Ara yang terlibat dalam diskusi. Ketika Nezar mengatakan bahwa dalam buku ini saya membela Islam di hadapan barat tanpa perlu mengutip dalil kitab suci, rupanya hal tersebut mengingatkan Pak L.K Ara pada almarhum kakek saya yang pernah beliau ulas profilnya dalam sebuah karya tulis mengenai ulama-ulama Gayo. Menurut Pak L.K Ara, apa yang saya lakukan itu persis seperti prinsip kakek yang tak pernah mau mengutip ayat suci Al Qur’an ataupun hadits saat sedang memberi nasehat. Karena beliau takut penafsirannya atas ayat suci dan hadits yang dia kutip itu keliru, lalu orang menganggap ayat suci dan hadits itulah yang keliru, bukan penafsirannya.

Ketika diskusi berakhir, berita tentang acara ini pun langsung naik tayang di berbagai media online dengan mengutip komentar dari para pembicara. Rupanya, ini membuat animo para peminat terhadap novel “Romansa Gayo dan Bordeaux” meningkat tajam. Terbukti sejak itu, hanya dalam tempo kurang dari 24 jam, seluruh novel cetakan pertama yang dicetak sebanyak 500 eksemplar oleh Mahara Publishing, langsung habis terjual. Di Fakultas Kopi saja, saat acara peluncuran berlangsung, sekitar 60 eksemplar novel terjual habis. Setelah acara selesai, saya masih berbincang-bincang dengan para pengunjung, berfoto-foto dan menandatangani novel yang mereka beli. Dan ketika memutuskan pulang, hari sudah larut malam.

Begitulah, acara peluncuran novel perdana saya ini berjalan lancar dan sukses. Rasa terima kasih tak terhingga saya ucapkan bagi semua pihak yang telah berpartisipasi menyukseskan acara ini: moderator, para pembicara, para pengunjung, tim humas dan kredit terbesar tentu saja harus saya berikan pada Al Junishar dan seluruh staf Fakultas Kopi.

Saat ini kami kembali bekerja keras untuk menyiapkan peluncuran novel “Romansa Gayo dan Bordeaux” di Bali, yang rencananya akan dilaksanakan pada tanggal 26 Maret 2018 di Rumah Sanur, Jalan Danau Poso, Sanur.
Acara peluncuran novel ini rencananya akan menghadirkan dua orang pembicara: Noorca M. Massardi dan Jean Couteau.

Noorca M. Massardi adalah seorang budayawan besar dengan jejak karya yang begitu luar biasa. Beliau juga dikenal sebagai wartawan senior yang telah mewawancarai begitu banyak tokoh dunia. Salah satu yang menurut saya paling fenomenal adalah wawancara eksklusifnya dengan Ayatollah Khomeiny di Neuphle-le-Chateau, Perancis, pada bulan Januari 1978 untuk MBM TEMPO, Jakarta.

Pembicara kedua yang kami harapkan dapat hadir adalah Jean Couteau, budayawan dan pengamat seni asal Perancis yang telah lama bermukim di Indonesia. Beliau adalah peraih gelar master dalam bidang Sosiologi dari Universitas Sorbonne, Prancis dan gelar doktor dari EHESS yang juga merupakan cabang Sorbonne dengan disertasi mengenai ikonografi gambar Bali. Jean Couteau telah menulis lebih dari 15 judul buku dalam bahasa Inggris, Perancis dan Indonesia. Ia juga menerjemahkan karya sejarawan besar, Denys Lombard (Nusa Jawa Silang Budaya), Keping Rahasia Terakhir karya Jean Rocher serta novel Emilie Java 1904 karya Chatherine Von Moppes, dan sebagainya. Selain itu Jean Couteau juga dikenal sebagai penulis yang karya-karyanya dimuat di berbagai media, di antaranya KOMPAS, The Jakarta Post, Majalah Tempo dan berbagai media di Indonesia dan luar negeri. Jean Couteau juga dikenal sebagai kurator dan dosen Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar. Dirinya kerap diundang sebagai pembicara dalam forum-forum kebudayaan nasional maupun internasional.

Saya mengajukan nama mereka berdua kepada Rumah Sanur karena plot utama novel saya adalah mengenai percintaan interkultural Indonesia dan Prancis. Jadi di sini, mas Noorca M.Massardi adalah orang Indonesia yang pernah tinggal di Prancis, sehingga bisa melihat Prancis dengan jernih melalui kacamata keindonesiaannya, sementara Pak Jean Couteau adalah orang Prancis yang menetap di Indonesia, sehingga sangat mampu melihat Indonesia dengan kacamata keprancisannya.

Pada akhirnya, tentu saja saya berharap acara yang akan diselenggarakan di Bali akan memperoleh kesuksesan seperti peluncuran di Jakarta jumat lalu.

*Penulis Novel Romansa Gayo dan Bordeaux

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *