Opini Terbaru

Berdakwah : Mangajak Kebaikan atau Menebar Kebencian

Oleh: Husaini Muzakir Algayoni*

Dakwah dalam pandangan Islam adalah seruan atau panggilan Islam untuk mengajak pada kebaikan amar ma’ruf nahi munkar “sosial control” atau menyampaikan/menginformasikan kepada khalayak ramai tentang ajaran Islam sebagaimana firman Allah swt: “Dan hendaklah dari kamu suatu kelompok yang mendakwahi (manusia) kepada kebajikan dan menyuruh yang baik dan melarang yang munkar” Q.S 3: 104. “Wahai rasul, sampaikanlah “informasikan” wahyu yang diturunkan kepada engkau dari Tuhan engkau” Q.S 5: 67.

Dakwah pada intinya adalah mengajak seseorang pada kebaikan, salah satu cara mengajak pada kebaikan ialah dengan bahasa yang baik karena tujuan dakwah dengan bahasa yang baik adalah menyampaikan berbagai makna atau tujuan-tujuan pesan yang menjadi sasaran kepada penerima dakwah (masyarakat) agar pesan tersebut benar-benar dipahami dan dihayati sehingga meresap kedalam hati bagi yang mendengarnya.

Akhir-akhir ini sebahagian orang diluar sana menyampaikan pesan dakwah dengan cara-cara yang tidak mendidik, berdakwah dengan cara kekerasan serta mengedepankan emosional sehingga yang terjadi keluar bahasa-bahasa yang bernuansa provokasi atau menebar kebencian antar sesama umat baik itu antar internal umat Islam sendiri maupun antar umat beragama. Kita sebagai pendengar harus bisa menganalisa dan mengkritisi apa yang disampaikan oleh para pendakwah, apakah dakwahnya tersebut bisa memecah belah persatuan atau sebaliknya mengajak pada kebaikan dan persatuan.

Islam adalah agama yang damai, sejuk dan indah. Ajaran-ajaran Islam merupakan rahmat bagi seluruh umat manusia, baik itu untuk pemeluk agama Islam itu sendiri bahkan untuk pemeluk-pemeluk agama lain. Oleh karena itu dalam berdakwah harus memperhatikan akhlak, bahasa yang baik dan penuh kelembutan; firman Allah berbunyi “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang dapat petunjuk.” Q.S 16: 125.

Sebagaimana K.H Abdurrahman Wahid atau lebih dikenal dengan Gus Dur, beliau seorang pemikir handal yang melahirkan pemikiran-pemikiran nyentrik, inklusif dan merupakan tokoh Islam liberal (Lihat buku 50 tokoh Islam Liberal Indonesia yang ditulis oleh Budi Hendrianto).

Indonesia mempunyai berbagai macam agama namun cara berdakwah beliau tidak pernah menyakiti hati siapapun yang ada hanya tuduhan-tuduah negatif kepada Gus Dur karena pemikirannya yang terlalu bebas dan memang pemikirannya sangat rumit sehingga tidak semua orang bisa memahami pemikiran dari seorang Gus Dur.

Drs. H. Rosidi. MA., (Dosen IAIN Raden Intan Bandar Lampung) melakukan riset tentang pemikiran dan gerakan dakwah Gus Dur, dengan mengangkat judul “Dakwah Multikultural di Indonesia (Studi Pada pemikiran dan gerakan Dakwah Abdurrahman Wahid)”. Dijelaskan, pemikiran dakwah multikultural Gus Dur bahwa, Islam sebagai agama rahmat harus didakwahkan dengan cara-cara damai dan menjauhi cara-cara kekerasan. Dakwah harus menghargai hak-hak kultural masyarakat. Pemikiran dakwah Gus Dur yang lain diantaranya pengembangan makna aswaja, pribumisasi ajaran Islam, Islam sebagai etika sosial, Islam anti kekerasan, mengikis egosentris, menerima keragaman dan perbedaan. Tribunjogja.com
Dari penjelasan diatas terdapat beberapa poin yang mesti direnungkan dalam berdakwah yaitu mengedepankan bahasa yang baik (mengajak kebaikan), lemah lembut dan tidak mengedepankan ujaran kebencian apalagi harus dengan kekerasan. Kewajiban seorang pendakwah hanya sebatas menyampaikan atau menginformasikan dengan cara yang baik, masalah diikuti atau didengarnya itu masalah lain dan tidak bisa memaksanya untuk mengikuti apa yang telah disampaikan.

Berdakwah dengan Goresan Pena

Berdakwah dizaman now ini dimana saja bisa baik itu melalui youtube, tulisan dimedia online bahkan dalam status media sosial sekalipun. Berdakwah dengan goresan pena/tulisan siapa saja bisa membacanya dimedia sosial bahkan Dr. Zakir Naik mengatakan “Muslims must be use social media for dakwah”, oleh karena itu setiap Muslim semestinya mempergunakan media sosial sebagai sarana dakwah mengajak pada kebaikan bukan malah menebar kebencian dimedia sosial.

Berdakwah dengan goresan pena/tulisan merupakan salah satu tradisi kaum intelektual Muslim dalam menyebarkan dakwahnya, lihat saja Ali bin Abi Thalib seorang Khalifah yang cerdas dakwahnya tersusun dalam buku Nahjul Balaghah, Imam al-Ghazali sang Hujjatul Islam karyanya sungguh fenomenal dalam buku Ihya Ulumuddin, Buya Hamka dan masih banyak intelektual Muslim lain menyampaikan dakwahnya dengan goresan pena/tulisan.

Sahabat dan para pembaca budiman walaupun ilmu yang kita miliki tidak seluas para ustad/ulama tapi setidaknya apa yang kita ketahui bisa share pada orang lain sehingga ilmu yang ada pada diri kita bisa bermanfaat bagi diri sendiri serta orang lain dan menghidupkan tradisi berdakwah intelektual Muslim dengan tulisan yang mengajak pada kebaikan bukan sebuah tulisan atau status dimedia sosial yang bernuansa menyebar kebencian.

*Kolumnis LintasGAYO.co

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *