Inilah Gayo Terbaru

Cara Berhitung Masyarakat Gayo

Drs Jamhuri, M.Ag, Ketua KNA Banda Aceh (foto:t Tarina)

Oleh : Drs Jamhuri, M.Ag*

Suket dan Sipet adalah takaran dan ukuran yang dikenal dalam masyarakat Gayo. Takaran ini dapat diketahui dari jenis, bentuk dan ukuran. Cara untuk menjelaskan jumlah dan banyak benda yang disuket (ditakar) atau dihitung bisa dilakukan dengan dua cara, yaitu:

Menghitung benda berdasarkan besaran

Penghitungan jumlah hewan juga dapat dilakukan dengan berbagai cara, diantaranya cara penghitungan berdasarkan satuan dengan menghitung setiap satuan atau setiap ekor hewannya. Penghitungan ini biasa digunakan untuk menghitung hewan yang mempunyai badan besar atau juga digunakan untuk menghitung hewan yang tidak mempunyai jumlah anak yang banyak. Maka penghitungannya dengan menyebut, sarakoro (satu kerbau), rowakoro (dua kerbau), tulukoro (tiga kerbau) atau juga binatang lain selain dari kerbau seperti kuda, kambing, anjing, biri-biri dan lain-lain.

Cara penghitungan hewan selanjutnya adalah dengan hanya menghitung jumlah induk dan tidak termasuk anaknya. Cara perhitungan seperti ini sering dilakukan dan dimaklumi oleh semua orang meski tanpa jumlah satuan yang pasti.

Misalnya, ada yang bertanya, berapa jumlah ayam Anda? pemilik ayam bisa menjawab dengan ara sara berine (satu indukan), rowa berine (dua indukan), tulu berine (tiga indukan) dan seterusnya. Hitungan ini memberi arti bahwa anak ayam atau ayam yang masih bertelor pertama tidak dimasukkan dalam hitungan karena pemilik ayam tidak pernah menghitung secara pasti berapa jumlah anak ayam yang dimilikinya.

Penghitungan jumlah dengan satuan juga digunakan untuk menghitung batang pohon, sara batang satu batang), rowa batang (dua batang), tulu batang (tiga batang), dan seterusnya. Hampir sama dengan cara menghitung hewan di atas, namun untuk pohon digunakan penghitungan satuan batang untuk setiap batang yang mudah dihitung. Tetapi apabila penghitungan digunakan untuk tumbuhan rimpang, dinamakan dengan perdu. Seperti menghitung batang pisang sara perdu, rowa perdu, tulu perdi. Demikian juga dengan batang bambu, jahe, kunyit, lengkuas dan lain-lain.

Menghitung benda berdasarkan jumlah dengan satuan.

Perhitungan ini dilakukan seperti menghitung buah atau biji-bijian dari yang terbesar hingga terkecil. Perhitungan ini bisa dilakukan dengan berbagai cara diantaranya buah dan bijian yang dapat dihitung berdasarkan satuan maka dapat dihitung satu demi satu. Selanjutnya juga dapat dilakukan untuk buah dan biji-bijian yang tidak dapat dihitung dengan satuan, baik karena terlalu banyak atau terlalu kecil maka dapat dihitung dengan melihat tempat.

*Penulis adalah dosen di Fakultas Syari’ah UIN Ar-Raniry Banda Aceh dan Ketua Negeri Antara (KNA) Banda Aceh.

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *