Ekonomi Inilah Gayo Keber Ari Gayo Terbaru

Sukri Kemerleng Sang Penyuplai 3,2 Ton Gula Aren ke Kota Takengon

Catatan : Sertalia*

Seiring menjamurnya kedai-kedai/coffee shop kopi Arabika Gayo di Takengon, Aceh Tengah, permintaan gula aren terus mebingkat. Pola minum kopi di Gayo yang tak lagi memakai gula pasir sebagai pemanis, mengembalikan trend minum kopi ala leluhur Gayo yang dikenal dengan nama kupi kertup.

Tak ayak, pengusaha kedai kopi disini menjadikan gula yang terbuat dari air pohon nira (aren) sebagai bahan baku utama untuk menciptakan rasa manis. Bukan hanya itu, kebutuhan rumah tangga dan jajanan makanan, menggunakan gula aren sebagai bahan baku juga disinyalir sebagai indikator meningkatnya permintaan terhadap gula tersebut.

Dari penelusuran LintasGAYO.co, ada dua daerah di Aceh Tengah yang menjadi produsen terbesar gula aren, yakni Kecamatan Linge dan Bintang lebih tepat di Kampung Serule.

Dalam sebuah lawatan ke Kampung Kemerleng, Kecamatan Linge, Aceh Tengah, LintasGAYO.co mencoba melakukan reportase bersama salah seorang pedagang pengepul gula aren. Seperti diketahui, daerah Kemerleng dan sekitarnya banyak ditumbuhi pohon aren (nira). Pohon-pohon ini diolah airnya menjadi gula oleh masyarakat sekitar. Banyak diantara warga disini menjadikan gula aren sebagai penghasilan utama.

Adalah Sukri atau akrab disapa Abang Gula, berasal dari Kampung Kemerleng, Kecamatan Linge, yang telah melakoni usaha sebagai pengepul gula aren sejak 12 tahun terakhir. Dibercerita, setiap seminggu sekali dirinya turun ke pusat Kota Takengon dan menjajakan barang dagangannya.

Di Kota Takengon, Abang Gula telah dinantikan beberapa pelanggannya. Ia pun mengaku, dalam sebulan dirinya bisa memasok gula aren sebesar 3,2 ton baik gula aren padat dan cair. “Jumlah itu hanya untuk pelanggan saya saja. Belum termasuk dengan jumlah permintaan dari pedagang yang non pelanggan, kalau dijumlahkan lagi bisa mencapai 4 ton, tapi kondisi ini hanya terjadi sesekali saja,” sebut sang Abang Gula, Sukri, beberapa waktu lalu.

Sebagai pedagang pengepul, Sukri mengaku dirinya harus tetap menjaga kualitas kepada para petani pembuat gula di daerah Linge. Saat ini ada puluhan petani gula yang bekerjasama dengan dirinya. “Saya harus memastikan kualitas gula aren yang bagus. Saya membelinya dari warga, meski ada beberapa yang saya kelola sendiri bersama keluarga,” ungkap Sukri.

Dalam sebulannya, penghasilan Abang Gula Sukri bisa mencapai belasan hingga dua puluhan juta rupiah. Tentu angka ini cukup mengiurkan. Saat ditanya berapa angka real dari penghasilannya, Sukri menjawab diplomatis. “Ya, cukup buat makan, tidak banyak, hanya belasan sampai dua puluhan juta saja, Alhamdulillah,” tandas Sukri sumringah.

Melihat pengakuan Abang Gula Sukri ini, sudah seharusnya Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah, melalui dinas terkait memperhatikan zona dataran rendah di Gayo ini. Harapannya, pohon nira yang selama ini tumbuh bebas dan liar di hutan Linge dapat ditingkatkan produksinya, dengan mencari pola perkembangbiakan dari pohon nira sehingga dapat ditanami masyarakat.

Melihat permintaan terhadap gula aren yang terus meningkat dari waktu ke waktu, bukan mustahil daerah Linge menjadi lokasi yang paling baik dikembangkan, sehingga dapat menjadi industri kecil rumah tangga bagi warganya.

Gula aren Linge dikenal dengan citarasa yang baik, bukan mustahil selain sebagai produsen kopi arabika terbaik, daerah Gayo juga bisa menjadi produsen gula areb terbaik yang hasil produksinya tidak hanya dipasakan di daerah saja, namun lebih dari itu bisa dipasarkan ke luar daerah. Semoga.

Editor : Darmawan Masri

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *