Opini Terbaru

Khawarij dan Analisis Ganealogi Radikalisme Islam

Oleh: Husaini Muzakir Algayoni*

A. Pendahuluan

Kekerasan dan pemberontakan atas nama agama telah menyelimuti fenomena yang terjadi sekarang ini, mereka membawa nama agama; khususnya agama Islam. Tujuan dari kekerasan dan pemberontakan tersebut adalah untuk menegakkan Khilafah Islamiyyah dipermukaan bumi ini, namun cara yang mereka lakukan telah keluar dari ajaran Islam itu sendiri. Kelompok radikal seperti ISIS (Islamic State of Iraq and Syuriah) menjadi isu dunia saat sekarang ini serta kelompok-kelompok radikal lainnya menjadikan Islam sebagai alat untuk memberontak pemerintah yang sah bahkan mereka tidak segan-segan untuk membunuh orang yang tidak bersalah baik itu dari kalangan Muslim maupun non-Muslim dengan cara bom bunuh diri atau dengan serangan lewat senjata dihadapan publik.

Kekerasan dan pemberontakan tersebut jelas telah menyalahi ajaran agama Islam bahkan telah keluar dari aqidah yang sebenarnya, yang mana agama Islam tidak mengajarkan kekerasan kepada pihak lain bahkan kepada yang bukan Muslim. Islam diajarkan untuk saling rukun dalam kehidupan beragama agar kehidupan sosial antar pemeluk agama bisa saling menghargai antar sesama.

Kelompok radikal dalam memahami agama sangat berlebihan sehingga syaithan begitu mudah menggoda manusia untuk merusak agamanya. Mughalah atau ghuluw (sikap berlebih-lebihan) berarti tambahan dan melebih-lebihkan. Mughalah dalam beragama adalah sikap keras dan kaku dalam melewati batasan yang diperintahkan dan ditentukan dalam syari’at.[1]

Sikap berlebih-lebihan dalam hal aqidah muncul firqah-firqah (kelompok-kelompok), sebagian dari firqah-firqah ini bersembunyi di bawah syiar Islam, ayat-ayat al-Qur’an dan mazhab-mazhab yang benar. Oleh karena itu muncullah aliran-aliran yang dibahas khusus dalam Ilmu Kalam (Theology), salah satu dari aliran tersebut adalah Khawarij;[2] kelompok ini berlebih-lebihan dalam komitmen mutlak terhadap amalan-amalan dan perilaku lalu mereka mengkafirkan kaum muslimin pada umumnya.[3]

Pada dasarnya Syaithan merasuki ke dalam diri kaum Muslimin melalui dua pintu dengan maksud membujuk dan menyesatkan mereka. Pintu pertama: apabila seorang muslim tersebut termasuk kelompok orang yang sering melalaikan dan berbuat maksiat, syaithan memperindah kemaksiatan dan syahwat itu agar muslim tersebut semakin jauh dari ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Sesuai dengan sabda Rasulullah saw:
حُفَّةِ الْجَنَّةُ بِاالْمَكَارِهِ وَحُفَّةِ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ
“Surga itu dikelilingi oleh hal-hal yang dibenci sedangkan neraka dikelilingi oleh segala sesuatu yang menyenangkan.” (Diriwayatkan al-Bukhari dan Muslim).

Pintu kedua: jika seorang muslim tersebut termasuk kelompok orang yang taat lagi ahli ibadah, syaithan akan menghiasinya agar melampaui batas dan berlebih-lebihan dalam melaksanakan agama dengan tujuan merusak agamanya. Allah Ta’ala brfirman:
يَاأَهْلُ الْكِتَابِ لَا تَغْلُوْا فِي دِيْنِكُمْ وَلَاتَقُلُوْا عَلَى اللهِ إِلَّا الْحَقَّ
“Wahai ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah, kecuali yang benar.” (QS. 004. 171);
Rasulullah saw bersabda:
إِيَّاكُمْ وَالْغُلُوَّفِي الدِّيْنِ فَإِنَّمَا أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمُ الْغُلُوُّفِي الدِّيْنِ
“Jauhilah oleh kalian berlebih-lebihan dalam hal agama karena hancurnya umat sebelum kalian penyebabnya berlebih-lebihan dalam beragama.”

Syaithan menggoda ahli ibadah untuk merusak agamanya, baik dengan bermalas-malasan atau pun bersungguh-sungguh secara berlebihan dalam agamanya, sebagaimana yang terjadi pada golongan Khawarij maupun sekelompok orang yang ta’ajub dengan Pendapat khawarij.[4]

Seperti yang telah dijelaskan di atas bahwa berlebih-lebihan dalam hal agama maka akan membawa kepada sikap radikal, Khawarij salah satu aliran dalam Teologi Islam mempunyai kepercayaan yang amat kuat terhadap agama yang dipeluknya sehingga menolak mentah-mentah terhadap segala bentuk perbuatan dosa kendati amat sepele. Sikap itu melahirkan dogma-dogmanya yang lain seperti keyakinan bahwa setiap perbuatan merupakan bagian penting dari iman.[5] Satu ajaran dari fundamental dari kaum Khawarij yang timbul dari mereka yaitu, penolakan mereka atas pandangan bahwa iman semata-mata sudah mencukupi serta pandangan mereka bahwa amal adalah bagian esensi dari iman .[6]

Kemudian Komaruddin Hidayat juga mengatkan, wadah identitas kelompok ini vis a vis dunia sekitarnya yang dianggap dekaden, sebuah dunia iblis yang harus dimusnahkan. Mereka meyakini dirinya yang paling benar, paling dekat ambang pintu Tuhan (Kompas, 13 Desember 2002).[7]

Melihat dari pendahuluan diatas bahwa golongan Khawarij mempunyai peran andil dalam menyebarkan pikiran dan keyakinan yang begitu radikal dari semenjak lahirnya aliran ini hingga masa sekarang, oleh karena itu dalam tulisan ini akan dikupas tentang Khawarij serta hubungannya terhadap radikalisme Islam. Adapun bahan yang akan ditulis dalam pembahasan ini, penulis mengambil research library (hasil dari bahan bacaan) dan dari pembahasan-pembahasan dalam mata kuliah di Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-Raniry. Harapan dari penulis ialah agar seluruh generasi Islam mengetahui akar dari sebuah radikalisme atas nama agama yang mengakibatkan kekerasan dan pemberontakan sehingga generasi Islam tidak mudah terjatuh dalam cengkeraman radikalisme ini.

B. Pembahasan
1. Apa Itu Teologi Khawarij

Dalam sejarah Teologi Islam aliran khawarij merupakan aliran tertua dan merupakan awal dari perpecahan umat Islam secara nyata, yang mana aliran khawarij ini tidak menerima yang namanya arbitrase[8] (tahkim)[9] sehingga mereka keluar dari pasukan Ali bin Abi Thalib. Akhir dari peristiwa tahkim menghasilkan sebuah keputusan, yaitu menurunkan Ali bin Abi Thalib dari kursi kekhalifahan, sebaliknya mengangkat (menetapkan) Mu’awiyah menjadi pengganti Ali. Dengan demikian tahkim merugikan kelompok Ali dan di lain pihak menguntungkan Mu’awiyah. Hasil ini dianggap sangat mengecewakan kelompok Ali. Kekecewaan itu dilampiaskan sekelompok mereka dengan kemarahan dan menuduh Ali beserta pihak-pihak yang terlibat dalam peristiwa tahkim tersebut sebagai orang yang berdosa besar dan dianggap telah kafir.

Pandangan itu kemudian diikuti oleh orang-orang pegunungan (Badui) yang dalam perkembangan selanjutnya menjadi pengikut aliran ini. Inilah yang kemudian disebut dengan aliran Khawarij. Mereka bersemboyan bahwa “Tidak ada hukum selain hukum Allah” (La hukma illa li Allah).[10]

Khawarij adalah golongan yang gigih membela mazhab dan mempertahankan pendapatnya, serta pada umumnya ketat beragama dan paling mudah menyerang pihak lain. Dalam menyerang pihak lain, mereka menggunakan alasan dari pengertian lahir (tekstual) dari lafaz-lafaz al-Qur’an dan meyakini bahwa pengertian lahir itulah agama yang suci, yang tidak boleh dilanggar oleh seorang mukmin. Benak mereka telah dikuasai oleh semboyan “Tidak ada hukum kecuali hukum Allah”, yang kemudian dijadikan sebagai pedoman umum. Sempitnya mereka memahami pengertian lafaz-lafaz yang singkat tetapi luas maknanya itu menyeruapai pemahaman para pendukung faham Rousseau (1712-1778) dalam revolusi Perancis yang telah melakukan tindakan-tindakan kejam dan tercela. Mereka dirasuki oleh pemikiran kemerdekaan, persaudaraan dan persamaan. Atas nama pemikiran itu mereka melakukan pembunuhan dan penumpahan darah dimana-mana. Demikian juga dengan kelompok Khawarij yang telah dikuasai pemahaman sempit itu, Mereka menghalalkan darah kaum Muslimin, mewarnai tanah dengan merahnya darah dan menimbulkan kebencian disemua tempat.[11]

Khawarij tidak hanya dicirikan dengan kuatnya berpegang pada makna lahir lafaz-lafaz, tetapi juga dengan kegemaran menembus tawanan perang, cinta mati, dan siap menghadapi resiko bahaya hanya karena hal-hal yang tidak principal. Sebagian mereka kadang-kadang menjadi nekat hanya karena kecerobohan dan kacaunya motif-motif yang mendasari tindakan mereka.[12]

Ciri intoleransi, fanatisme dan eksklusivisme Khawarij, yang dimunculkan kedalam kebijaksanaan dan diangkat hampir-hampir kepada kedudukan sebagai ‘kredo’ dan melakukan perubahan politik melalui cara-cara kekerasan dan kekalapan adalah yang membedakan sekte Islam yang paling awal, Khawarij tak mempunyai implikasi doktrinal menyeleweng, tapi hanya berarti seorang ‘pemberontak’ atau ‘aktivis revolusi’.[13]
Kaum Khawarij terutama terdiri dari suku pengembara dan setengah pengembara dari semenanjung Arabia dan perbatasan-perbatasan Iraq, tetapi idealisme mereka yang mengajarkan persamaan mutlak, menarik sejumlah kaum Mawali Persia masuk kedalam golongan mereka. Persamaan yang mutlak yang tak kenal kompromi serta pertanggung jawaban didepan Tuhan adalah buhul-buhul semangat mereka, dan dari semangat ini muncullah sebagian besar ajaran-ajaran mereka dalam tuntutan mereka atas ‘amar ma’ruf dan nahi munkar’, yaitu suatu kewajiban yang digariskan al-Qur’an bagi kaum Muslimin, mereka menyerang tidak hana pemerintah Umayyah, tetapi juga mayoritas yang moderat dari ummat, yang mereka tuduh sebagai pengecut-pengecut yang selalu menyesuaikan diri dengan keadaan.[14]

Setelah melihat penjelasan diatas bahwa mula-mula kaum Khawarij, mempersoalkan Khalifah dan tahkim, tetapi kemudian merembet kepada soal-soal I’tiqad dan kepercayaan, sehingga dalam dunia Islam terbentuk suatu: paham yang dinamakan “paham Khawarij”. Setiap orang Islam harus mengetahui macam dan bentuk kaum Khawarij, khususnya yang bertentangan dengan paham Ahlussunnah wal Jama’ah, dengan tujuan agar kita terhindar dari paham yang keliru dari Khawarij ini. Memang golongan ini sudah hilang dibawa arus sejarah, tetapi pahamnya masih berkeliaran dimana-mana sehingga kita harus waspada.[15]

2. Islam dan Radikalisme

Agama dalam bentuk apapun merupakan kebutuhan ideal umat manusia. Peranan agama sangat menentukan dalam kehidupan manusia. Tanpa agama manusia tidak akan dapat hidup sempurna. Agama sebagi sistem keyakinan menjadi bagian dari sistem-sistem nilai yang ada dalam kebudayaan manusia dan menjadi pendorong, penggerak serta pengontrol tindakan-tindakan para pengautnya agar tidak menyimpang dari norma kemanusiaan.[16]
Asumsi yang ada selama ini berkenaan dengan relasi agama dan kekerasan adalah bahwa tidak satupun agama di dunia ini menerima konsep kekerasan secara sewenang-wenang sebagai suatu prinsip tindakan. Tindakan kekerasan merupakan perilaku yang mengandaikan adanya pemaksaan kehendak terhadap orang lain dan ini berarti melanggar hak-hak manusia. Secara normatif agama memandang kekerasan, lantas timbul pertanyaan umum di kalangan masyarakat: mengapa agama dalam realitasnya justru menjadi biang timbulnya kekerasan ?.[17]

Istilah radikalisme umumnya dipakai baik oleh kalangan akademisi maupun media masa uintuk merujuk pada gerakan-gerakan Islam politik yang berkonotasi negatif seperti “ekstrem, militan dan non toleran” serta anti-Barat/Amerika.[18] Arti dari kata radikal: secara mendasar (kepada hal yang prinsip), keras menuntut perubahan (undang-undang, pemerintahan). Sedangkan Radikalisme itu sendiri ialah paham atau aliran yang radikal dalam politik, paham atau aliran yang menginginkan perubahan atau pembaharuan sosial dan politik dengan cara kekerasan atau derastis dan sikap ekstrem dalam aliran politik.[19]

Radikalisme berasal dari kata radix (Latin) yang berarti akar menjadi inti dari makna radicalism yang secara politik kemudian diarahkan kepada setiap gerakan yang ingin merubah sistem dari akarnya. Sejarah istilah radicalism tersebut bahkan lebih banyak digunakan dalam perjalanan pertentangan politik di Barat dan sangat jarang digunakan dalam dunia agama baik Islam, Kristen maupun yang lainnya. Agama lebih mengenal istilah fanatisme yang hampir identik dengan keyakinan lahir batin atas ajaran agama yang kemudian dalam perkembangannya juga dipergunakan dalam berbagai situasi sosial maupun aliran politik. Sebagaimana penjelasan di atas, istilah radikalisme berasal dari bahasa latin radix, yang artinya akar, pangkal dan bagian bawah, atau boleh juga secara menyeluruh, habis-habisan dan amat keras untuk menuntut perubahan. Sedangkan secara terminologis, radikalisme merupakan aliran atau faham yang radikal terhadap tatanan politik; paham atau aliran yang menuntut perubahan sosial dan politik dalam suatu negara secara keras.[20]
Fazlur Rahman dalam bukunya Islam seperti yang telah dijelaskan diatas bahwa Aliran Khwarij tak mempunyai implikasi doktrinal menyeleweng, tapi hanya berarti seorang ‘pemberontak’ atau ‘aktivis revolusi’, begitu juga dengan gerakan radikalisme sekarang ini bahwa radikalisme sendiri sebenarnya tidak merupakan masalah sejauh ia hanya bersarang dalam pemikiran (ideologis) para penganutnya. Tetapi, ketika radikalisme pemikiran bergeser menjadi gerakan-gerakan radikal maka ia mulai menimbulkan masalah, terutama ketika harapan mereka untuk merealisir fundamentalisme[21] dihalangi oleh kekuatan politik lain karena dalam situasi itu radikalisme akan diiringi oleh kekerasan. Fenomena ini biasanya lantas menimbulkan konflik terbuka atau bahkan kekerasan antara dua kelompok yang berhadapan.[22]

3. Faktor-Faktor Munculnya Radikalisme Islam
Radikalisme Islam merupakan suatu gerakan yang melatarbelakangi gerakan terorisme, dianggap sebagai suatu masalah yang dihadapi oleh negara-negara di Asia Tenggara, terutama di Indonesia. Tindakan-tindakan kelompok radikalisme dapat dipahami, bahwa tidak disebabkan oleh faktor tunggal yang berdiri sendiri, melainkan ada faktor-faktor lainnya yang mengarahkan timbulnya sikap yang demikian, diantaranya faktor sosial, ekonomi, lingkungan, pendidikan serta politik menjadi turut andil dalam mempengaruhi timbulnya radikalisme Islam. Namun demikian, radikalisme Islam sering digerakkan oleh pemahaman agama yang sempit, terbatas perasaan, tertekan, terhegemoni, merasa tidak aman secara psikososial, serta ketidakadilan lokal dan global. Menurut Akbar S. Ahmed, salah satu faktor yang mempersubur terhadap pemahaman dan terjadinya radikalisme adalah masalah pendidikan. Bagi Akbar, pendidikan Islam menghadapi problem, pendidikan Islam terlalu sempit dan mendorong tumbuhnya chauvinisme keagamaan.[23]

Persoalan lain faktor munculnya radikalisme Islam dipicu oleh persoalan domestik disamping oleh konstelasi politik internasional yang dinilai telah memojokkan kehidupan sosial politik umat Islam. Dalam konteks domestik, misalnya berbagai kemelut telah melanda umat Islam mulai dari pembantaian kiai dengan berkedok dukun santet sampai tragedi poso (25 Desember 1998) dimana umat Islam menjadi korban. Sedangkan dalam konteks internasional, realitas politik standar ganda Amerika Serikat dan sekutunya merupakan pemicu berkembangnya radikalisme Islam ini. Perkembangan ini kian menguat setelah terjadinya tragedi World Trade Center (WTC) pada 11 September 2001. Mengenai tragedi ini, Amerika Serikat dan sekutunya disamping telah menuduh orang-orang Islam sebagai pelakunya, juga telah menyamakan berbagai gerakan Islam militan dengan gerakan teroris.[24]

Menurut Jhon L. Esposito pada masa lalu para penguasa dan pemerintahan Muslim telah menggunakan agama untuk membenarkan dan memobilisasi dukungan untuk perluasan dan penjajahan politik. Ekstremis agama dari kelompok awal seperti yang telah dijelaskan diatas yaitu Khawarij dan gerakan kontemporer seperti Jihad Islam Mesir dan al-Qaeda telah menggunakan pandangan teologis radikal, berdasarkan tafsiran kitab suci dan doktrin yang didistorsikan, untuk membenarkan kekerasan dan terorisme melawan masyarakat mereka sendiri dan komunitas internasional. Mereka telah menciptakan dunia dimana yang tidak mengikuti dan menerima kepercayaannya, Muslim atau non-Muslim adalah musuh yang harus diperangi dan diberantas dengan cara apapun.[25]

Telah dijelaskan diatas bahwa Islam radikal pernah muncul pada masa awal dalam bentuk gerakan kaum Khawarij. Inilah aliran politik pertama dalam Islam. Pengaitan politik dengan gerakan dan paham radikal kaum khawarij menunjukkan bahwa politik merupakan salah satu faktor yang dapat memunculkan radikalisme dalam Islam. Sementara itu, Ali Sami an-Nasysyar menunjukkan faktor lain, yakni pemahaman tekstual yang dimiliki kaum Khawarij, di samping faktor yang disebutkan sebelumnya. Mengacu pada indikator radikalisme di atas, Afif Muhammad pada pengantar bukunya Agama dan Konflik Sosial: Studi Pengalaman di Indonesia, menyebutkan ada lima hal yang menjadi faktor munculnya gerakan Islam Radikal di Indonesia:

Pertama: Islam Ideologis,[26] yaitu pemahaman yang menjadikan Islam tidak saja sebagai sistem teologi dan peribadatan, tetapi juga sebagi complete civilization. Islam tidak saja mengatur hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi mencakup seluruh aspek kehidupan. Islam merupakan agama wahyu serta agama yang benar, universal, dan tidak memerlukan sesuatu yang datang dari luar. Di sini Islam menjadi tolak ukur dan landasan bagi seluruh perbuatan seorang muslim. Penentangan terhadap segala sesuatu yang berasal dari luar Islam disertai dengan sikap bermusuhan, sehingga dari sini muncullah benih-benih radikalisme

Kedua: Kapitalisme[27] dan Sekularisme,[28] gelombang sekularisme yang memisahkan antar agama dan negara dampaknya juga pemisahan kehidupan sosial, sains dan teknologi dari nilai-nilai agama. Nilai-nilai moral dipindahkan dari agama ke ilmu pengetahuan. Dengan begitu kehidupan sosial pun terlepas dari ikatan agama dan dipijakkan pada ilmu pengetahuan modern. Implikasinya, ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang sangat pesat tetapi tanpa arah. Kebangkitan Barat ditandai dengan sekularisme menjadikan kapitalisme sebagai penyangganya. Berikutnya semangat kapitalisme yang mengedepankan kepemilikan dan penguasaan ekonomi menghasilakan penjajahan bentuk baru, kolonialisme ekonomi. Kolonialisme baru ini merambah dunia Islam, tak terkecuali Indonesia yang merupakan negar berkembang dengan sumber daya alam yang melimpah.

Kolonialisme Ekonomi di Indonesia ini sangat kentara sekali, sehingga melahirkan perlawanan dalam bentuk kekerasan. Dari sinilah lahir akar radikalisme kekerasan.
Ketiga: Untuk memecah kekuatan Muslim, Barat (Amerika dan Inggris), melalui perjanjian Balfour,[29] mendirikan negara Boneka yakni Israel. Kehadiran negara Yahudi ini, sangat ditentang oleh negara-negar Arab dan mulai muncullah konflik di Timur Tengah, khususnya Israel dan Palestina yang tidak pernah berhenti bahkan perdamaian keduanya pun tidak pernah terwujud, apalagi Amerika dan sekutunya selalu bermain dengan politik bermuka dua. Jadi, konflik tersebut di Intervensi Barat. Dan setiap perjanjian damai selalu menguntungkan Israel dan merugikan Palestina. Keberpihakan Barat kepada Israel ini, memicu kebencian kepada Barat. Karena Islam agama universal yang melintas batas-batas geografis, maka kebencian itu tersebar keseluruh dunia, terutama negara-negara yang berpenduduk Muslim, tak terkecuali Indonesia. Jadi, radikalisme timbul karena konflik Timur Tengah dan Intervensi Barat.

Keempat: Pemahaman normatif [30] terhadap ajaran Islam. Di dalam Islam terdapat aliran yang disebut salafiah. Aliran ini memiliki ciri-ciri tertentu antara lain: pemahaman Islam yang normatif tekstual, berorientasi ke masa lalu dan penolakan terhadap rasio dalam masalah agama. Pemahaman seperti ini melahirkan sikap eksklusif dan menutup diri terhadap pemahaman yang dilakukan pihak lain.

Kelima: Reformasi yang terjadi di Indonesia kembali memunculkan aspirasi diberlakukannya syari’at Islam dalam kehidupan Sosial. Usaha-usaha bagi dilaksanakannya ajaran Islam ini antara lain: dalam bentuk tuntutan terhadap berbagai praktik sosial yang bertentangan dengan Islam, misalnya penutupan tempat pelacuran, perjudian dan toko-toko minuman keras. Ketika tuntutan ini tidak atau belum direspon positif oleh pemerintah, kekecewaan pun muncul, lalu lahirlah anarkisme yang dibalut agama.[31]
Sikap Akademisi/Mahasiswa dalam Memahami Radikalisme Islam

Untuk memahami radikalisme kalangan Islam ini ada baik kita melihatnya dengan kacamata yang akademik agar pemahaman kita tidak bias oleh hadirnya sikap memihak atau munculnya sikap benci. Kita perlu sedikit melihat bagaimana peran agama dan bagaimana keterikatan para pemeluknya terhadapnya. Pada tataran teoritis, sebenarnya terdapat dua konsep penting yang dipunyai oleh setiap agama yang bisa memepengaruhi para pemeluknya dalam berhubungan diantara mereka, yakni: fanatisme dan toleransi. Dua konsep ini pada dasarnya harus diperaktekkan dalam pola yang seimbang, sebab ketidakseimbangan antara keduanya akan menyebabkan ketidakstabilan sosial antar para pemeluk agama. Ketika fanatisme terlalu kuat, sementara toleransi rendah misalnya, maka pada pemeluk agama akan muncul sikap permusuhan terhadap pemeluk agama lain.

Tetapi, ketika toleransi yang dominan dalam diri pemeluk agama, maka eksistensi agama mereka akan melemah karena dalam situasi ini para pemeluk agama tidak lagi merasa bangga dengan agama yang mereka peluk. Dalam hal ini, agama tidak lebih dari sekedar ritual yang tidak punya makna apa-apa karena agama bersangkutan sama derajat dan kebenarannya dengan agama lainnya yang ada.[32]

Sementara itu juga dari dari beberapa faktor munculnya radikalisme di atas tentu saja bukanlah harga mati, tetapi setidaknya perlu mendapat perhatian serius dari pemerintah Indonesia dan tokoh-tokoh agama serta ormas-ormas Islam yang moderat untuk bersatupadu membangun komunikasi yang intensif dan kerjasama dalam berbagai kegiatan yang menjurus pada perbaikan umat baik dari sisi pemahaman keagamaan, penanaman ideologis kebangsaan, serta sosial-ekonominya agar Indonesia terhindar juga dari tindakan anarkisme.[33]

C. Penutup

Sebagai penutup dari tulisan ini perlu kiranya seluruh umat Islam, para akademisi, ormas Islam dan mahasiswa memikirkan masalah radikalisme ini yang menjurus kepada kekerasan atas nama agama. Bersatupadu dalam menangkal arus pemikiran radikalisme ini dengan memperbanyak kajian keilmuan baik itu ilmu yang bersifat agama maupun umum sehingga pandangan dalam berpikir luas, seperti yang ditulis oleh Sayidiman Suryohadiprojo dalam buku Islam Universal (Nurcholis Madjid) bahwa agama Islam menganjurkan para penganutnya untuk tidak berpikiran sempit dan picik, malahan mengajarkan untuk berpandangan luas. Jadi Islam tidak mengajarkan sikap fanatik karena Islam adalah agama yang rasional dan mendorong untuk berpikir rasional.
Melihat ajaran serta pemikiran dari aliran Khawarij ini bahwa khawarij ingin mempertahankan keyakinan mereka dengan benar berdasarkan ayat al-Qur’an dan tidak mau mengambil sumber dari yang lain, Sehingga apa yang dikatakan oleh M. Dawam Rahardjo dalam tulisannya Aliran Khawarij dan Teologi Sempalan; beliau mengatakan bahwa sebagian doktrin Khawarij, kalau mau dinilai secara jujur, merupakan penyelamat ide Islam yang murni, yaitu pemerintahan yang bersifat kerakyatan dan mengandung semangat keadilan, bahkan konstitusional. Doktrin-doktrin yang lain, yang celakanya lebih menonjol ke permukaan, yaitu doktrin-doktrin yang membawa kepada eksklusifisme dan kekerasan, memang tidak sesuai dengan nilai-nilai maupun kecenderungan modern dewasa ini, tidak pula sesuai dengan prinsip-prinsip dasar ajaran Islam.

Faktor utama terpecahnya umat Islam pada masa silam ialah karena faktor politik, dalam menentukan siapa Khalifah yang sebenarnya. Dalam menentukan Khalifah ada pihak yang tidak menerima keputusan dari pihak yang lain maka lahirlah kekecewaan dan keluar dari kelompok tersebut sehingga lahirlah aliran yang disebut dengan Khawarij, dan aliran ini kemudian dalam perkembangannya menimbulkan kekerasan dan ekstrem dalam berpikir maupun dalam hal aqidah. Oleh karena itu, sejarah aliran Khawarij menjadi pelajaran buat seluruh umat Islam diseluruh dunia bahwa kekerasan dan ekstrem akan muncul tatkala tidak ada keadilan dari pemimpin dalam menjalankan amanahnya sebagai pemimpin. Dan kiranya juga, seluruh umat Islam khususnya para akademisi kampus maupun mahasiswa mencontoh keteladanan Baginda Rasulullah saw dalam hal memimpin umat yang tidak pernah ada pemberontakan dari pihak umat Islam, yang melawan Rasulullah hanyalah orang-orang kafir yang tidak suka terhadap agama Islam.

Aliran Khawarij memang sudah hilang dibawa arus sejarah, namun pemikirannya masih berkembang hingga era modern ini, bagi-bagi yang berpikir sempti dan jumud dalam menyikapi kehidupan saat sekarang ini cenderung lebih tertatik kepada sikap fanatisme sehingga terjerumus ke lembah kekerasan. Oleh karena itu, seluruh umat Islam; khususnya mahasiswa hati-hati terhadap pemikiran-pemikiran yang ekstrem, kekerasan atas nama agama karena agama Islam tidak mengajarkan yang namanya kekerasan. Dengan berpikir secara moderat kita bisa menapaki kehidupan era modern ini dengan amalan dan wawasan ilmu pengetahuan yang luas sehingga tidak terjadi yang namanya fanatisme dan kekerasan.

*Penulis: Kolumnis LintasGAYO.co, Alumni Pondok Pesantren Nurul Islam Blang Rakal Bener Meriah. Email: delungtue26@yahoo.co.id

Bahan Bacaan
Abbas, Sirajuddin, I’tiqad Ahlussunnah Wal Jama’ah, Jakarta: Pustaka Tarbiyah Baru, 2010.
Abu Zahrah, Imam Muhammad, Aliran Politik dan Aqidah dalam Islam, Jakarta: Logos
Publishing House, 1996.
Afdhal dkk, Islam dan Radikalisme di Indonesia, Jakarta: LIPI Press, 2005.
Az-Zuhaili, Muhammad, Moderat dalam Islam, Jakarta: Akbar, 2005.
Harahap, Syahrin dan Hasan Bakti Nasution, Ensiklopedia Akidah Islam, Jakarta: Kencana,
2009.
Ibrahim Jindan, Khalid, Teori Pemerintah Islam Menurut Ibn Taimiyah, Jakarta: Rineka
Cipta, 1994.
In’am Esha, Muhammad, Teologi Islam: Isu-Isu Kontemporer, Malang: UIN Malang Press,
2008.
Jalaluddin, Terorisme ? No Way, Jakarta: Moyo Segoro Agung, 2006.
Kamus Versi Online Pemahaman Normatif. Di Akses Pada Tanggal 23 September 2016.
KBBI, Pusat Bahasa, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2008.
L. Elposito, John Islam Aktual: Jawaban Atas Gejolak Masyarakat Post-Modern, Depok:
Inisiasi Press, 2005.
Muhsin , Abdul bin Hammad Al-A’bad, Apakah Nge-Bom Itu Jihad ?, Jakarta: Darul Falah,
2005.
Rahman, Fazlur, Islam: Bandung, Pustaka, 1984.
Saifuddin, Enshari Endang, Wawasan Islam: Pokok-Pokok Pikiran Tentang Paradigma dan
Sistem Islam, Jakarta: Gema Insani, 2004.
Syarifuddin, Agama Konflik dan Kerukunan: Solusi Mencapai Dialog Menuju Jalan Damai, Banda Aceh: Ushuluddin Publishing, 2014.
www.Republika.co.id Deklarasi Balfour. Di Akses Pada Tanggal 23 September 2016.

[1] Muhammad Az-Zuhaili, Moderat dalam Islam, (Jakarta: Akbar, 2005), 2.
[2] Komunitas Islam menghadapi pemberontakan dan perang sipil, kekerasan dan terorisme dilambangkan dengan kelompok Khawarij. Khawarij adalah kelompok eksteremis yang saleh tapi puritan dan militan yang memisah dari Khalifah Ali bin Abi Thalib.
[3] Muhammad Az-Zuhaili, Moderat dalam Islam… 31.
[4] Abdul Muhsin bin Hammad Al-‘Abad, Apakah Nge-Bom Itu Jihad ?, (Jakarta: Darul Falah, 2005), 9-33.
[5] Khalid Ibrahim Jindan, Teori Pemerintahan Islam Menurut Ibn Taimiyah, (Jakarta: Rineka Cipta, 1994), 5-6.
[6] Fazlur Rahman, Islam, (Bandung: Pustaka, 1984), 247.
[7] Jalaluddin, Terorisme? No Way, (Jakarta: Moyo Segoro Agung, 2006), 197.
[8] Arbitrase adalah usaha perantara dalam meleraikan sengketa.
[9] Tahkim secara bahasa berarti “mencari keadilan hukum melalui hakim atas perselisihan yang timbul di antara dua orang atau dua golongan atau lebih. Menurut Istilah, tahkim merupakan peristiwa yang terjadi dalam sejarah Islam yaitu upaya damai antara dua kelompok yang saling berperang antara pasukan Ali bin Abi Thalib (36-41 H/656-661M) dan pasukan Mu’awiyah terdesak oleh pasukan ali dalam suatu pertempuran yang dahsyat, Mu’awiyah menghendaki upaya tahkim, dengan menyuruh pasukannya mengangkat al-Qur’an dengan sekelompok sebagai isyarat tahkim melalui al-Qur’an
[10] Syahrin Harahap dan Hasan Bakti Nasution, Ensiklopedia Akidah Islam, (Jakarta: Kencana, 2009), 599-600.
[11] Imam Muhammad Abu Zahrah, Aliran Politik dan Aqidah dalam Islam, (Jakarta: Logos Publishing House, 1996), 64.
[12] Imam Muhammad Abu Zahrah, Aliran Politik dan Aqidah dalam Islam… 65.
[13] Fazlur Rahman, Islam… 244.
[14] Fazlur Rahman, Islam… 246.
[15] Sirajuddin Abbas, I’tiqad Ahlussunnah Wal Jama’ah, (Jakarta: Pustaka Tarbiyah Baru, 2010), 170-171.
[16] Muhammad In’am Esha, Teologi Islam: Isu-Isu Kontemporer, (Malang: UIN Malang Press, 2008), 37.
[17] Muhammad In’am Esha, Teologi Islam… 37.
[18] Afdhal dkk, Islam dan Radikalisme di Indonesia, (Jakarta: LIPI Press, 2005), v.
[19] Departemen Pendidikan Nasional Edisi Ke-empat, Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2008), hal. 1129-1130.
[20] Syarifuddin, Agama, Konflik dan Kerukunan: Solusi Mencapai Dialog Menuju Jalan Damai, (Banda Aceh: Ushuluddin Publishing, 2014), 66-67.
[21] Radikalisme sangat berkaitan dengan fundamentalisme, yang ditandai oleh kembalinya masyarakat kepada dasar-dasar agama. Fundamentalisme adalah semacam ideologi yang menjadikan agama sebagai pegangan hidup oleh masyarakat maupun individu.
[22] Afdhal dkk, Islam dan Radikalisme di Indonesia… 5.
[23] Syarifuddin, Agama, Konflik dan Kerukunan… 70-71.
[24] Afdhal dkk, Islam dan Radikalisme di Indonesia… 1-2.
[25] John. L. Esposito, Islam Aktual: Jawaban atas gejolak Masyarakat Post-Modern, (Depok: Inisiasi Press, 2005), 139-140.
[26] Islama adalah agama wahyu. Islam bukanlah ideolog. Adakah Ideologi Islam? Ada! Ideologi Islam adalah Ideologi yang bersumber dan berdasarkan Islam (Islam-Oriented). Ideologi Islam inilah ideologi. (a). Ideologi adalah ilmu atau pelajaran dan ajaran tentang ide, yaitu ilmu atau formulasi atau sistematik ilmiah seseorang atau sekelompok manusia, pada waktu tertentu, ditempat tertentu, mengenai: tujuan yang akan dicapai dan pedoman tentang cara-cara mencapai tujuan itu berdasarkan suatu asas teori ajaran tertentu. (b). Ideologi Islam adalah ilmu atau formulasi sistematika ilmiah dari seseorang sekelompok manusia muslim pada suatu waktu tertentu dan di tempat tertentu mengenai: tujuan yang akan dicapai dan pedoman-pedoman tentang cara-cara mencapai tujuan itu berdasarkan asas ajaran Islam, bersumber dari al-Qur’an dan as-Sunnah. Jadi, Ideologi Islam adalah ideologi Islam yang (Islam-oriented), ideologi yang berorientasi kepada al-Qur’an dan as-Sunnah. Endang Saifuddin Anshari, Wawasan Islam: Pokok-Pokok Pikirang tentang Paradigma dan Sistem Islam, (Jakarta: Gema Insani, 2004), 170-171.
[27] Kapitalisme merupakan ideologi ekonomi yang tegak diatas asas sekularisme yang tumbuh dan berkembang pertama kali di Eropa. Dengan sekularisme, kapitalisme memandang dunia dan memecahkan permasalahan kehidupan. Akibatnya, kapitalisme menjadi ideologi yang tidak bermoral, mengedepankan profit dan kepuasan materi serta menindas umat manusia.
[28] Sekularisme adalah paham yang memisahkan agama dari kehidupan dan mengharamkan peranan Allah dalam pemecahan permasalahan manusia, termasuk menentukan nilai baik dan buruk, benar dan salah, halal dan haram. Sekularisme menempatkan rasio (akal) manusia dan empirisme diatas segala-galanya.
[29] Deklarasi Balfour disampaikan dalam sebuah surat dari Menteri Luar Negeri Inggris Arthur James Balfour yang ditujukan kepada Lord Rothschild Walter, seorang anggota terkemuka komunitas Yahudi Inggris. Dalam surat itu, Balfour menyatakan Inggris akan mendukung aspirasi Zionis dengan memfasilitasi pembentukan “sebuah rumah nasional bagi orang-orang Yahudi” di Palestina. Dengan menyatakan Inggris menjadi pelindung Zionisme, tanda tangan Balfour menyelesaikan proses yang dimulai 20 tahun sebelumnya di Kongres Pertama Zionis pada 1897 di Basel, Swiss. Deklarasi Balfour memimpin Liga Bangsa-Bangsa untuk mempercayakan Inggris dengan Mandat Palestina pada 1922. Berikut ini isi surat Balfour. Kantor Luar Negeri, 2 November 1917. Yang Terhormat Lord Rothschild, Saya dengan senang hati menyampaikan kepada Anda, atas nama Pemerintah Yang Mulia, deklarasi simpati terhadap aspirasi Zionis Yahudi yang telah diajukan dan disetujui oleh Kabinet. “Pemerintah Yang Mulia mendukung dengan senang hati Palestina sebagai sebuah kampung halaman bagi orang-orang Yahudi. Dan Pemerintah Yang Mulia akan menggunakan upaya terbaik mereka untuk memudahkan tercapainya tujuan ini. Sudah dipahami dengan jelas tidak akan dilakukan hal yang mungkin merugikan hak masyarakat sipil dan agama atau nonYahudi di Palestina, atau hak-hak dan status politis yang dimiliki orang Yahudi di negara lain.” Saya berterima kasih jika anda dapat menyampaikan deklarasi ini untuk diketahui oleh Federasi Zionis. Hormat saya, Arthur James Balfour. Deklarasi Balfour, www.Republika.co.id. Diakses pada tanggal 23 September 2016.
[30] Pemahaman normatif adalah berpegang teguh pada norma; menurut norma atau kaidah yang berlaku. Kamus Besar Bahasa Indonesia (Kamus Versi Online). Di akses pada tanggal 23 September 2016.
[31] Syarifuddin, Agama, Konflik dan Kerukunan… 72-76
[32] Afdhal dkk, Islam dan Radikalisme di Indonesia… 6-7.
[33] Syarifuddin, Agama, Konflik dan Kerukunan… 76.

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *