Free songs
Home / Opini / Jolok Bengkon Perilaku Adikodrati

Jolok Bengkon Perilaku Adikodrati


 

Oleh : Dr Joni, MN, M, Pd BI

Tidak ada satu manusiapun yang berharap dan menginginkan dirinya untuk dikucilkan serta tidak ada seorang pun yang menginginkan untuk tidak dihargai oleh manusia lain. Manusia yang menyalahi kodrat, manakala ia tidak mau merentangkan solidaritas sosial sampai seluas persaudaraan inilah manusia yang menyalahi kodratnya sebagai manusia.

“Jolok-bengkon”  adalah bahasa suku Gayo dan ini adalah tindakan seseorang yang masuk kedalam kategori sifat adikodrati, yakni suatu tindakan yang menimbulkan daya adimanusiawi. Perilaku ini adalah daya seseorang dalam memainkan peranannya sendiri dalam panggung dunia ini. Ia menjadikan dirinya sebagai seorang aktor antagonis dan orang ini-lah yang menghilangkan ekspresi cita-cita etis kodrati manusia.

Jika ada orang lain dapat dan mampu melakukan hal-hal yang baik, kenapa kita tidak? dan, kenapa kita harus membangun opini provokasi publik; agar orang lain menaruh kebencian kepada orang yang dimaksud? Dalam kajian etika perilaku ini tergolong kedalam kelas ‘perusak etika’.

Tindakan “jolok-bengkon”  muncul dari  dalam diri seseorang karena ia merasa kurang senang melihat kelebihan orang lain, kurang senang melihat orang lain beruntung, cemburu dengan keberuntungan orang, tidak rela apabila orang lain mendapat nikmat dan kebahagiaan. Sadar – tidak sadar orang tersebut menjadi ‘perusak etika’.

Perusak etika merupakan perbuatan yang bernilai melawan aturan etiket. Yakni, aturan hidup masyarakat menurut etiket . Aturan tersebut adalah adat sopan-santun dan tata kerama yang sangat perlu agar selalu diperhatikan dan ditegakan dalam pergaulan bermasyarakat. Etiket adalah suatu bentuk tindakkan yang mengekspresikan norma dan nilai tertentu yang dapat mempengaruhi masyarakat di dalam berbuat dan bertingkah laku baik, sehingga terbentuk masyarakat yang tertib, teratur, rapi, dan saling menghargai satu sama lainnya.

Fakta teoritis tersebut di atas terdapat di tengah-tengah masyarakat, yakni, figur empat dimensi atau hypersolid-nya bergerak dalam satu arah saja dan tidak kepada yang lain (Ouspensky, 2005: 36), maksudnya, dengan sebutan lain ialah ia menetapkan keluar dari dirinya, jelasnya, dari kodrati manusiawinya. Selanjutnya, inti dari penjelasan beliau adalah seseorang yang hanya bergerak dalam satu arah atau seseorang yang menetapkan keluar dari dalam kodrati manusianya adalah pengikut Darwinisme. Yang mana mereka mengatakan bahwa perjuangan eksistensi dan seleksi ciptaan terkuat dalam pikiran dan perasaan, manusia hanya berjuang untuk bisa eksis dan orientasinya lebih kearah material dan life-style (materi dan gaya hidup). Selanjutnya, hanya melayani kehidupan diri-sendiri yang terlepas dari keegoan dan mengarahkan kepada kebermaknaan hidup bersama.

“Jolok-bengkon” merupakan tindakan perjuangan si iri hati untuk dapat eksis dalam kehidupan dan orang tersebut bermodalkan energi yang gelap atau kejelekan dengan tidak mempedulikan sesuatu yang non-materi yang merupakan unsur penentu baik buruknya seseorang dalam bertindak serta dalam berpikir.

Jadi “Jolok-bengkon” adalah tindakan seseorang yang masuk kedalam kelas tindakan yang tidak bersifat manusiawi atau tindakan yang menyalahi kodrat manusiawi.  Tindakan semacam ini sering muncul dan dipicu oleh rasa iri hati seseorang kepada orang lain yang berbuat baik. Dan, tindakan semacam ini juga merupakan suatu tindakan yang terlepas dari ikatan perasaan dan keluar dari energi-energi negatif dan pandangan yang kelam. Di dalam kajian moral hal ini ada di dalam posisi immoral dan di dalam kajian etika hal ini masuk kedalam kelas ‘perusak etika’. Sedangkan di dalam kajian religi tindakan ini masuk kedalam kategori orang yang tidak menyukuri nikmat Allah SWT.

Comments

comments

Install Lintasgayo for Android Smartphone

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top