Opini Sara Sagi Terbaru

Jekopen dan Degen dalam Kajian Imagology Perilaku Adikiaisme

Dr. Joni MN, M.Pd.B.I

Oleh : Dr Joni MN Aman Rima

Perbuatan yang tidak pernah memenuhi rasa cukup dan yang selalu ingin memiliki hak orang. Sifat ini sudah menguasai serta mendominasi kehidupan diri seseorang dan menjadi suatu penyakit sosial. Penyakit ini sudah banyak merasuki diri pribadi seseorang yang minim keyakinannya atas kekayaan dan kekuasaan Tuhan yang Esa.

Dikatakan penyakit sosial karena perbuatan semacam ini selalu mengusik ketenangan dan merusak kehidupan orang lain. Seseorang yang sudah mendapat jabatan (pekerjaan) tetapi ia masih juga ingin merebut jabatan (pekerjaan) orang lain, seseorang yang selalu ingin memiliki jabatan (pekerjaan) tidak pernah memberi kesempatan kepada orang lain, ia sudah memiliki bidang tanah; kebun; sawah; dan rumah tetapi ia masih juga ingin menguasai dan memiliki kebun, tanah, sawah, serta rumah dan lain-lainnya.

Jekopen merupakan istilah bahasa Gayo yang bermakna tindakan dan perilaku yang melebihi dari serakah atau loba tetapi istilah ini umum digunakan kepada orang yang selalu merebut atau mengambil hak-hak orang lain dan tidak pernah merasa cukup dengan sesuatu yang sudah diambil atau yang sudah dimilikinya. Tindakkan orang semacam ini selalu merusak tatanan etika, norma, dan nilai humanis serta tuntunan religi yang ada.

Selain itu tindakkan ini juga selalu menyakiti perasaan orang lain, dan sangat-sangat merusak atau merugikan kehidupan orang lain. Orang semacam ini hanya ingin dia saja yang beruntung dan memiliki sesuatu yang lebih, ia akan merasa susah dan resah atau tidak enak hati (iri hati) ketika orang lain memiliki sesuatu yang lebih, sehingga ia berinisiatif untuk melakukan berbagai cara (seperti; politik kotor, menyogok, atau menghadap dukun, dll) agar orang lain tidak mendapatkan sesuatu seperti yang ia dapatkan.

Jekopen” dalam istilah asing hampir menyamai makna dari kata covetous hal ini semua berdampak merusak dan merugikan kehidupan orang lain.
Bila dilihat dari kacamata psikologis, tindakan orang ini biasanya dilakukan oleh orang yang jiwanya sakit dan tindakkan orang ini biasanya selalu menutup-nutupi informasi alias pelit informasi, misalnya; peluang pekerjaan, bantuan pendidikan, dan peluang yang lainnya, tetapi sebaliknya ia selalu bertindak untuk membesar-besarkan dirinya di mata orang dengan tujuan mempertahankan, meraih atau mendapatkan sesuatu yang lebih lagi.

Orang semacam ini sering mengorbankan orang lain demi keinginannya tercapai. Ketika dikaji dari aspek medis penyakit fisik, orang jekopen biasa memiliki penyakit darah tinggi, asam lambung naik, stress dan akhirnya mengarah kepada strok. Sedangkan penyakit rohaninya adalah iri hati, cemburu, dan fungsi perasaan dan hati yang mati.

Seorang yang tidak pernah merasa kenyang, belum habis makan yang di depannya, ia ingin juga mengambil makanan yang ada di depan atau milik orang lain. Setiap kali ia makan matanya selalu jelalatan kedepan, ke kiri, dan ke kanan melihat hidangan-hidangan yang lain, ini juga termasuk kategori jekopen.

Degen dalam bahasa Gayo juga memiliki istilah nama lain, yakni berloken dan perngap. Istilah ini dalam bahasa Indonesia dapat disamakan dengan makna serakah. Degen biasanya diketahui ketika kita pergi ke kebun binatang dan memperhatikan kegiatan monyet makan. Maka perilaku degen dapat langsung kita pahami seperti apa. Belum habis makanan yang ada di tangannya tetapi ia melirik dan bahkan mengambil makanan yang lain. Sebuah pengamatan beberapa ulama, mereka berpendapat bahwa orang semacam ini biasanya jarang memungsikan hatinya dan jarang berinovasi, orang ini lebih sering mencontoh ide-ide orang lain alias orang tersebut tidak kreatif, karena terlalu banyak makan yang menurut inplisitnta tidak steril walaupun halal, dan pikirannya selalu terpaku kepada makanan.

Seorang yang memiliki kebiasaan jekopen dan degen atau serakah, loba, juga tamak adalah orang yang merasionalkan kerakusan dengan menindas orang lain. Mereka adalah seorang yang sudah hilang fungsi hatinya dan putus urat saraf malunya sehingga tidak memiliki rasa belas kasihan dan toleransi pada sekeliling/ orang lain lagi. Prinsip adikiaisme mereka adalah, yang penting aku tidak rugi, menyakiti siapapun boleh.

Terminologi ini mengekspresikan tentang keinginan eksesif (berlebihan) untuk memperoleh atau memiliki benda-benda ia melakukan dengan bermacam cara untuk mewujudkan keinginannya.

Term Imagologi’ ini pernah diperkenalkan oleh dua tokoh, yakni; Lyotard pada tahun 1924-1998 dan Jean Baudliard pada tahun 1929-2007 (periksa:Hudjolly, 2011: 37) mereka berpendapat bahwa term ‘imagologi ini simbol yang merujuk kepada citra dalam pop culture (budaya popular). Simbol yang merujuk kepada citra’ di sini masih bersifat neture, simbol ini dapat merujuk kepada makna yang jelek dan dapat juga merifer kepada makna yang baik.

Hal ini dapat dilihat seperti sebutan (term) yang digunakan oleh masyarakat Gayo dengan bahasa Gayo, yakni sebutan; Jekopen dan Degen, Term-term ini mengekspresikan tentang citra-citra yang kotor. Term ini juga mengekspresikan tindakkan dan perilaku kerakusan dengan cara menindas dan menerapkan etika merusak kepada orang lain, tidak jarang ia menjadikan dirinya sebagai ‘Pak Turut yang terjajah’ (istilah Prof.Dr. Hamka: 2011).

Imagologi adalah berbagai bentuk alam yang dinalari oleh manusia memiliki daya dan makna yang tersirat serta implikatur tersendiri, kemudian hal ini ditransformasikan sedemikian rupa sehingga dapat membangun pemahaman nalar yang lebih konstruktif (bernuansa imajinatif), menurut Hudljolly (2011) hal ini ada dalam bentuk mitos sehingga dapat dipahami oleh orang lain di suatu masa. “Jekopen, Degen adalah istilah yang bermula dari sesuatu yang abstrak dan bernilai mitos.

Kajian mitologi Yunani tentang “adikia” merupakan ekspresi suatu kata istilah yang diimajinasikan dengan simbol yang digambarkan melalui personifikasi dari ketidak adilan dan mengekspresikan tentang perbuatan yang bernilai buruk dan salah. Term ini sering digambarkan dengan wujud makhluk yang buruk rupa. Imajinasi dengan makhluk yang buruk rupa adalah suatu ekspresi yang mempersonifikasi tentang perbuatan yang tidak beretika atau etika merusak dan yang sangat merugikan pihak lain serta suatu tindakan yang melanggar hak asasi atau fitrah manusia.

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *