Opini Terbaru

Provokator Mencederai Demokrasi

Oleh: Husaini Muzakir Algayoni*

“Ketika sistem demokrasi dicederai, maka sebenarnya kita masih mencari demokrasi yang sehat. Apakah kita masih mencari demokrasi ?.

Salah satu ciri negara yang berlandaskan sistem demokrasi ialah kebebasan individu (berekspresi/berpendapat) didepan umum secara lisan maupun tulisan, kebebasan ini telah kita nikmati sebagai rakyat Indonesia dalam berdemokrasi. Namun pada umumnya, rakyat Indonesia masih kurang dalam hal pendidikan demokrasi sehingga salah tafsir dalam menafsirkan makna demokrasi itu sendiri; maka yang terjadi dilapangan adalah konflik dan kekerasan atas nama kebebasan berpendapat didepan umum.

Membahas masalah kebebasan, tokoh filsafat moral Utilitarianisme John Struat Mill membuat garis batas kebebasan manusia dengan kategori kebebasan berbicara, mendapatkan pekerjaan dan kebebasan berkumpul. Menurut Stuart Mill Kebebasan adalah hak yang dimiliki oleh setiap individu, manusia mempunyai kebebasan untuk berbuat apa saja namun dilarang (tidak diberi kebebasan) melukai orang lain, karena kebebasan individu itu harus dibatasi; dia tidak boleh membuat dirinya menjadi ganguan orang lain.

Begitu juga dengan rakyat Indonesia. Negara yang berlandaskan demokrasi ini, kita bebas menyampaikan aspirasi dan pendapat sesuai dengan ketentuan yang berlaku dan mengedepankan nilai etika dalam berdemokrasi. Ketika ketidakadilan menyelimuti kehidupan rakyat biasa yang diterapkan oleh pemimpin misalnya, maka rakyat tidak boleh diam begitu saja, rakyat harus bangkit dan melawan ketidakadilan itu dengan cara yang baik sesuai dengan norma dan etika seperti berdiskusi serta bermusyawarah mencari jalan keluar dari masalah yang dihadapi, melayangkan kritikan-kritikan yang membangun serta menggunakan bahasa satire dalam mengkritik bukan dengan bahasa-bahasa yang berbau provokasi ataupun dengan bahasa yang tidak mendidik

Dalam berdemokrasi ini, menyampaikan pendapat sering kali dilakukan dengan demonstrasi (pernyataan protes yang dilakukan secara massal atau unjuk rasa) di depan umum. Namun, kebebasan berpendapat ini terkadang melanggar peraturan dan norma karena ketika pendapat tidak sesuai dengan keinginan maka yang terjadi adalah anarkis, rusuh, perkelahian, merusak fasilitas umum dan lain sebagainya. Pada awalnya demonstrasi berjalan dengan lancar tiba-tiba merubah menjadi amarah masa untuk melakukan tindakan anarkis. Nah, disinilah peran dari seorang provokator yang dapat membangkitkan amarah masa serta menghasut keadaan yang sedari awal damai dalam berdemonstrasi tiba-tiba berubah menjadi kemarahan dan kerusuhan.

Provokator dalam makna negatif adalah seorang penghasut dan bisa juga membangkitkan kemarahan serta kebencian kepada kelompok lain. Dengan menggunakan kebebasan berpendapat maka ia bebas melakukan apa saja tanpa mengindahkan nilai-nilai etika dalam berdemokrasi, inilah orang yang sesuai dengan judul di atas yaitu provokator mencederai demokrasi. Bebas berbicara/berpendapat tapi tidak diberikan ataupun dibenarkan kebebasan dengan sebebas-bebasnya.

Ketika kebebasan ini digunakan dengan sebebas-bebasnya dalam berdemokrasi di Indonesia maka apa bedanya dengan Orientalis yang menggunakan konsep free will and act atas nama kebebasan berekespresi/berpendapat, pada tahun 2015 lalu majalah Charlie Hebdo menerbitkan kartun yang menghina Nabi Muhammad saw, kebebasan berekspresi ini mengakibatkan ada yang tersakiti yaitu umat Islam seluruh penjuru dunia. Oleh karena itu kebebasan berpendapat itu ada batasnya, jangan melampaui batas dengan melanggar norma-norma serta etika yang dapat mengganggu orang lain maupun menggangu sistem demokrasi.

Penyair ternama Wiji Thukul dengan puisinya berjudul “Di bawah selimut kedamaian palsu” dalam penggalan puisi tersebut Wiji mengatakan “apa gunanya ilmu kalau hanya untuk mengibuli, apa guna baca buku kalau mulut kau bungkam melulu.” Puisi-puisi Wiji merupakan puisi bertemakan rakyat yang menggambarkan kondisi rakyat masa silam penuh dengan kemiskinan dan penderitaan, Wiji hidup dimasa kepemimpinan yang otoriter pada masa Orde Baru, yang mana masa ini merupakan masa kelam dalam kebebasan berpendapat khususnya kebebasan pers tapi beliau berani mengkritik pemerintah saat itu.

Wiji menggunakan kebebasan pendapatnya dengan karya bukan dengan amukan masa, Wiji menghasilkan karya dari kondisi rakyat masa silam maka dari itu jangan salah menafsirkan karya beliau dengan berbuat apa saja yang dapat mencederai demokrasi, karena penggalan puisi beliau sering disalah artikan dalam kebebasan berpendapat yang terkadang bisa berujung pada kerusuhan dan anarkis. Maka dari itu “Janganlah gunakan kebebasan berpendapat dengan sebebas-bebasnya dalam menyampaikan pendapat, ketika aspirasi tidak sesuai dengan keinginan maka janganlah berubah menjadi provokator yang bisa menyulutukan api amarah, kerusuhan serta permusuhan antar sesama.” Ketika sistem demokrasi dicederai, maka sebenarnya kita masih mencari demokrasi yang sehat. Apakah kita masih mencari demokrasi ?. Hanya para pembaca budiman yang bisa menjawabnya

Catatan:

Jhon Stuart Mill: tokoh liberalis kelahiran London, Inggris. Dalam gagasan-gagasannya mencirikan pentingnya sebuah kebebasan individu terhadap individu tersebut. Ia merupakan pemimpin gerakan Utilitarianisme, yang mana paham ini merupakan sumbangan penting dalam filsafat moral.

Etika Utilitarianisme: Etika yang menyatakan bahwa perbuatan yang baik adalah yang paling banyak mendatangkan kebahagiaan atau kesenangan di dunia ini.

Free will and act: Kebebasan berpendapat dan berekspresi.

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *