Bage Terbaru

Beri Motivasi Petani Bawang Merah, Kadistan ‘Rogoh Kocek’ Bantu Permodalan

Oleh : Fathan Muhammad Taufiq *)

Bermula dari ‘curhat’ Basir, seorang petani dari Kampung Kute Lintang, Pegasing, Aceh Tengah kepada salah seorang penyuluh pertanian, Ir. Masna Manurung, MP yang bercerita tentang keinginan Basir untuk mencoba mengembangkan komoditi bawang merah di lahan sawah miliknya yang kebetulan saat itu sedang tidak ditanami padi (bera/lues belang). Tapi keinginan Basir untuk mencoba bertanam bawang merah, harus ‘mentok’ akibat tidak memiliki modal, terutama untuk pengadaan benih. Untuk menanam bawang merah pada lahan seluas kurang lebih satu hektar miliknya itu, dibutuhkan benih sekitar 800 sampai 1.000 kilogram benih yang harganya pada saat itu berkisar Rp25.000,- per kilogramnya.

Pucuk dicinta ulampun tiba, mungkin pepatah itu yang menggambarkan nasib mujur sang petani, curhatannya akhirnya terdengar oleh drh. Rahmandi, M Si yang tidak lain Kepala Dinas Pertanian di kabupaten penghasil kopi arabika itu. Rahmandi secara spontan menyatakan kesanggupannya untuk memberikan modal berupa benih bawang merah sejumlah yang dibutuhkan oleh Basir.

Meski untuk membantu modal benih tersebut, Rahmandi mesti merogoh ‘kocek’ pribadinya, tapi dia optimis karena melihat kesungguhan petani itu. Tak sekedar benih, Rahmandi juga membantu pengadaan mulsa plastik untuk memberi motivasi kepada sang petani.

Dengan penuh semangat, Basir pun menyambut baik tawaran sang kadistan, lahan sawah yang tanahnya mulai mengeras akibat kemarau, mulai ‘dihancurkan’ dengan launan cangkulnya. Meski baru pertama kalinya dia akan membudidayakan komoditi bawang merah, dia tetap optimis usahanya akan berhasil, apalagi di selalu mendapat bimbingan secara rutin dari sang penyuluh, Masna Manurung. Akhir bulan Oktober 2017 lalu, selesailah Basir menggarap lahannya, diapun mulai memasang mulsa dan menanam benih bawang merahnya.

Kewalahan hadapi anomali cuaca

Tapi ‘cobaan’ pertama langsung dihadapi Basir, hanya beberapa waktu setelah dia menanam benih bawang merahnya, curah hujan tinggi. Bagi petani bawang merah ‘pemula’ seperti Basir, tentu tidak mudah menghadapi tantangan yang cukup berat ini, karena curah hujan yang tinggi dan terjadi terus menerus, membuatnya harus bekerja ekstra untuk ‘menyelamatkan’ tanaman bawang merahnya dari ancaman hama dan penyakit tanaman. Seperti diketahui, komoditi bawang merah sangat tidak menghendaki curah hujan tinggi, karena akan rentan terhadap serangan hama dan penyakit tanaman.

Beruntung Basir punya penyuluh pendamping yang sudah kenyang makan ‘asam garam’ budidaya bawang merah seperti Masna Manurung ini. Penyuluh cantik penyandang gelar magister pertanian dari Univaersitas Barwijaya Malang inilah yang kemudian membantu dan menyemangati Basir untuk terus mempertahankan ‘uji coba’ budidaya bawang merah perdananya.

Baru kali ini Basir merasakan betapa beratnya mempertahankan satu hektar tanaman bawang merahnya dalam kondisi cuaca yang ‘kurang bersahabat’, padahal awalnya dia sudah hampir putus asa.

Nikmati hasil panen
Dua setengah bulan berlalu, Basir dengan tekun merawat tanamannya, akhirnya di awal tahun 2018 ini diapun sudah bisa memetik hasilnya. Meski sempat ‘didera’ curah hujan yang sangat tinggi pada masa pertumbuhannya, namun berkat kegigihannya dalam merawat tanaman, akhirnya kini bisa tersenyum. Mulai pagi ini, Basir sudah bisa memetik hasil kerja kerasnya, bawang merah yang dia tanam sudah bisa dipanen.

Tidak ingin menjadi ‘kacang lupa kulit’, Basir dan Masna pun tidak lupa mengundang sang ‘donatur’ Rahmandi untuk ikut menyaksikan panen bawang merahnya. Bukan cuma Basir dan Masna yang akhirnya bisa tersenyum, Kepala Dinas Pertanian itupun terlihat sumringah ketika ikut mencabut umbi bawang merah dari lahan yang masih terlihat becek akibat hujan semalam itu. Umbi bawang merah yang dihasilkan Basir ternyata sangat bagus, ukurannya besar, warnanya merah mengkilat dan umbinya padat. Kualitas bawang merah seperti inilah yang sangat diminati konsumen lokal maupun luar daerah, sehingga petani ini tidak khawatir sedikitpun untuk memasarkan hasil panen perdananya ini.

Apalagi harga bawang merah di pasar lokal saat ini juga sangat baik, berkisar 20 -25 ribu rupiah per kilogram dalam kondisi habis panen, sementara dalam keadaan kering, harganya bisa mencapai 30 sampai 35 ribu rupiah per kilogramnya.

Saat ikut memanen bawang merah itu, Rahmandi merasa semakin yakin bahwa wilayah Pegasing ini sangat potensial untuk pengembangan komoditi bawang merah dalam skala besar

“Melihat hasil panen hari ini, saya semakin optimis kalau wilayah ini memang sangat cocok untuk pengembangan komoditi bawang merah, wilayah ini berpotensi menjadi salah satu sentra bawang merah di daerah kita, apalagi kalau didukung dengan semangat kerja keras seperti yang sudah ditunjukkan oleh petani kita ini,” ungkap Rahmandi.

Kepada Reje/Kepala Kampung Kute Lintang, Adnan yang juga hadir dalam acara panen bawang merah itu, Rahmandi juga berpesan agar ada anggaran dana desa yang bisa dialokasikan untuk pemberdayaan petani melalui budidaya bawang merah ini.

“Bantuan pemerintah melalui Dinas Pertanian sangat terbatas, alangkah baiknya jika para kepala kampung juga ikut berpartisipasi dengan mengalokasikan sebagian anggaran dana desa untuk kegiatan pemberdayaan petani, terutama untuk pengembangan komoditi bawang merah ini, karena wilayah ini sangat potensial untuk pengembangan komoditi ini” lanjutnya.

Terima kasih Pak Rahmandi
Meski panen yang dilakukannya belum selesai, Basir sudah bisa memprediksi, bawang merah hasil panennya kali ini bisa mencapai 8 ton lebih. Dengan harga 20 ribu rupiah per kilogramnya, Basir bisa meraup penghasilan kotor tidak kurang dari 160 juta rupiah. Dia jadi optimis akan bisa mengembalikan modal yang diberikan oleh sang Kepala Dinas, bahkan dia juga sudah bisa membayangkan keuntungan bersih yang nantinya akan dia terima.

“Alhamdulillah, meski ini pertama kali saya mencoba bertanam bawang merah, tapi berkat bimbingan dari bu Masna, akhirnya panen kali ini bisa berhasil, padahal awalnya saya sudah hampir putus asa, karena cuaca saat itu sangat tidak mendukung,” ungkap Basir berbinar.

Tak lupa dia juga menyampaikan rasa terima kasihnya kepada Pak Rahmandi yang berkenan merogoh koceknya untuk memodali usahanya ini.

“Saya juga mengucapkan ribuan terima kasih kepada Pak Kadis Rahmandi yang telah memberikan kepercayaan berupa modal usaha kepada saya, ini akan memacu samangat saya untuk terus membudidayakan bawang merah pada musim berikutnya, saya juga bersyukur, untuk penanaman berikutnya saya tidak perlu beli benih lagi karena sebagian hasil panen ini akan saya jadikan benih,” lanjutnya.

Senada dengan Basir, Masna Manurung juga merasa ikut bahagia, petani binaanya berhasil dalam budidaya bawang merah ini. Dari awal dia memang sudah yakin, bahwa dengan tekad dan kemauan keras, usaha apapun pasti akan berhasil, apalagi kondisi agroklimaet wilayah kecamatan Pegasing memang sangat cocok untuk pengembangan komoditi bawang merah.

“Dari sisi ilmu pertanian, kondisi agroklimat di wilayah ini sangat sesuai untuk syarat tumbuh bawang merah, itulah sebabnya saya tidak pernah berhenti memberi motivasi kepada petani untuk mencoba komoditi ini di lahan mereka,” ungkap Masna

” Di wilayah Pegasing ini ada sekitar 900 hektar lahan sawah, dana lebih dari setengahnya bisa dijadikan lahan pertanaman bawang merah pada saat musim bera, kalau ini bisa berlanjut, saya yakin, wilayah ini bisa menjadi salah satu sentra produksi bawang merah,” sambungnya.

Masna juga sangat mengapresiasi spontanitas Kepala Dinas Pertanian yang langsung merespon keinginan petani binaannya ini, dan yang membuat dia bangga sebagai seorang penyuluh, adalah semangat dan kegigihan petani binaannya ini dalam mengembangkan usaha tani yang baru pertama kali dicobanya ini.

“Terima kasih pak Rahmandi, kami sangat bersyukur meiliki pimpinan yang sangat responsif seperti bapak, terima kasih juga kepada petani binaan saya, Basir, saya sangat salut pada kegigihannya,” pungkasnya.

*) Penulis adalah kontributor artikel dan berita pertanian di berbagai media cetak dan online, berdomisili di Takengon, Aceh Tengah.

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *