Opini Terbaru

2018, Isu Politik Mengatasnamakan Agama

Oleh: Husaini Muzakir Algayoni*

“Kekerasan Politik merupakan akibat dari perilaku kaum fundamentalisme agama yang berakar pada fanatisme yang sempit. Hal ini tergambar pada tindak kekerasan yang mengatasnamakan agama yang sering terjadi.” (Kyai Kocak Gus Dur).

Kerukunan hidup antar umat beragama di Indonesia adalah tipikal Qur’anik kata tokoh pemikir Islam Mesir Muhammad Arkoun dalam kunjungannya ke Indonesia pada tahun 1992, begitu juga dengan Amin Abdullah dalam bukunya Studi Agama: Normativitas atau Historitas?, menyebutkan bahwa posisi mayoritas umat Islam di Negara kesatuan Republik Indonesia dalam hubungannya dengan pluralitas memang sangat unik. (Baca: Uniknya Bangsa Indonesia).

Indonesia adalah bangsa unik karena mempunyai berbagai macam perbedaan mulai dari Sabang hingga Merauke (ras, suku, bahasa, agama) yang disatukan dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika. Keberagaman/Pluralitas Islam adalah rahmat kehidupan bersama orang lain yang berbeda, karena Allah menciptakan berbagai macam perbedaan di muka bumi ini maka dengan perbedaan tersebutlah kita bisa saling mengenal antara satu dengan lainnya.

Perbedaan ras suku dan agama tidak menjadikan kita sebagai umat manusia terpecah belah justru dengan perbedaan tersebutlah kita bisa bersatu dan saling membantu dalam kehidupan sosial dan hidup berdampingan secara damai. Islam memandang pluralitas di dalam kehidupan baik pluralitas di dalam Islam sendiri maupun pluralitas yang ada diluar agama Islam seperti ditegaskan oleh Allah dalam al-Qur’an.

Sebagaimana diketahui, Islam menjunjung tinggi pluralitas, karena pluralitas merupakan bagian dari sunnatullah. Dalam surat al-Hujurat ayat 13, dinyatakan (Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal). Oleh karena itu, ajaran Islam telah mengajarkan kepada umatnya untuk memahami makna arti dari pluralitas ini atau dengan kata lain ialah hidup berdampingan dengan kelompok lain secara damai tanpa ada konflik.

Terancamnya kerukunan antar umat beragama

Keadaan politik Indonesia saat ini semakin panas dan mengancam persatuan, persaudaraan serta kerukukan antar umat beragama, nafsu politik mengejar kekuasaan sehingga mencari jalan dari berbagai macam juru untuk bisa mendapat kekuasaan, entah itu dengan cara memfitnah, menebar kebencian, saling menghina antar kelompok atau mengatasnamakan agama sebagai isu politik. Isu SARA (Suku, Agama, Ras dan Antarkelompok), dalam hal ini khususnya agama menjadi alat pamungkas dan favorit bagi pelaku politik untuk menyerang lawan. Sungguh menyedihkan dan ironis memang, padahal agama mengajarkan perdamaian, persatuan dan persaudaraan bukan perpecahan dan permusuhan diantara umat manusia.

Agama seharusnya menjadi pencerahan bagi pemeluknya bagi yang memahami peran dari agama itu sendiri, namun adakalanya juga agama dibela mati-matian, tetapi lain kali agama diposisikan sebagai sumber konflik dan alat legitimasi kekuasaan. Pendeknya agama lalu tidak menjadi sumber pencerahan, demikian kata Prof. Dr. Komaruddin Hidayat (Mantan Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta).

“Kekerasan Politik merupakan akibat dari perilaku kaum fundamentalisme agama yang berakar pada fanatisme yang sempit. Hal ini tergambar pada tindak kekerasan yang mengatasnamakan agama yang sering terjadi.” Kata Kyai Kocak Abdurrahman Wahid (Gus Dur), dari perkataan beliau tersebut bisa menjadi renungan kita semua bahwa jangan sampai ada kekerasan dan permusuhan hanya karena kepentingan politik golongan elite kita bermusuhan dan terpecah belah sesama umat Islam dan secara umum antar umat beragama di Indonesia.

Kekerasan politik atas nama agama sering terjadi pada orang-orang fanatisme dan taqlid dalam memahami agama Islam, oleh karena itu kita sebagai pemeluk agama Islam harus memahami Islam secara universal sehingga jauh dari menebar kebencian dan penebar kekerasan politik atas nama agama karena umat Islam ialah pencipta perdamaian dan solusi dari berbagai macam permasalahan. Dan itu telah di contohkan oleh baginda Rasulullah saw di Kota Madinah dan dilanjutkan dengan khalifah selanjutnya seperti Umar ibn Abdul Aziz serta Salahuddin al-Ayyubi (Yusuf bin Najmuddin al-Ayyubi) yang menjunjung tinggi perbedaan termasuk perbedaan keyakinan.

Tahun 2018 adalah tahun politik, di beberapa daerah masih mengadakan pemilihan kepala daerah dan kedepannya akan memilih calon legeslatif serta isu pemilihan Presiden akan menggeliat di tahun ini, maka dari itu kita jangan terjebak oleh pemberitaan-pemberitan yang tidak bermanfaat untuk memecah belah rakyat Indonesia yang mempunyai pluralitas ini. Isu agama dengan perbedaan keyakinan akan menjadi bumbu pemberitaan oleh media maupun di media sosial, maka dari itu literasi dan kedewasaan dalam beragama perlu diperhatikan sehingga terciptanya rasa perasaudaraan antar sesama manusia walaupun berbeda keyakinan.

Akhir dari catatan singkat ini, penulis sebagai anak bangsa berharap bangsa Indonesia aman dan damai dari huru-hara serta jauh dari isu politik kekerasan yang mengatasnamakan agama. Tahun politik telah masuk dengan agenda besar kedepan dan harapannya demokrasi berjalan dengan baik jika rakyat Indonesia sama-sama saling menghormati antara satu dengan yang lainnya, tidak ada saling menghina, menjelekkan maupun kekerasan dalam berpolitik. Trilogi kerukunan (kerukunan internal umat Islam, kerukunan antar umat beragama dan kerukunan antara rakyat dengan pemerintah) bisa berjalan dengan baik sehingga menciptakan suasana harmonis ditengah-tengah keberagaman rakyat Indonesia.

*Kolumnis LintasGAYO.co

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *