Free songs
Home / Opini / Renungan Awal Tahun 2018, Menjadi Bodoh adalah Hak Asasi

Renungan Awal Tahun 2018, Menjadi Bodoh adalah Hak Asasi



Oleh : Win Wan Nur

Tahun 2017 sudah berlalu, sekarang kita sudah berada di hari pertama tahun 2018 dalam penanggalan masehi.

Suka tidak suka, mau tidak mau.  Sebagai warga negara Indonesia penanggalan masehi inilah yang menjadi acuan utama kita semua dalam merancang tata kelola hidup kita. Hampir tak ada dari kita yang bisa menyangkal kalau ritme hidup kita hampir seluruhnya mengikuti pola pengaturan berdasarkan sistem penanggalan ini. Mulai dari rencana keuangan, check up kesehatan, perpanjangan pajak dan kontrol teknik kendaraan, perencanaan liburan sampai dinamika politik sampai jadwal pertandingan sepakbola.

Diakui atau tidak, sistem penanggalan masehi inilah yang paling banyak memberi pengaruh pada ritme perjalanan hidup kita. Yang tidak mengikuti ritme penanggalan ini paling hanya upacara dan ritual-ritual agama.

Jadi sangatlah wajar, meski perayaan pergantian tahunnya dilarang di wilayah-wilayah tertentu.  Tapi tetap tak bisa dihindari kalau di malam hari di setiap pergantian tahun dengan penanggalan masehi.  Ada banyak orang yang merayakannya sembari mengeluarkan harapan baru untuk tahun yang baru.  Entah itu harapan perutungan dalam bidang keuangan yang lebih baik, kesehatan yang lebih baik, tim sepakbola yang didukung jadi lebih berprestasi dan dan lain sebagainya.

Untuk Indonesia secara umum dan Gayo secara khusus. Wangsa ke 2018 dalam penanggalan masehi ini adalah tahun  pemanasan politik.

Di tahun 2018 menurut penanggalan masehi ini, kita akan menyaksikan di sekitar kita banyak sekali manusia yang berjualan dagangan politik. Entah dagangan politik yang dia jajakan itu punya basis yang riil di dunia nyata. Atau sebenarnya hanya bisa di temukan jauh di awan, di alam khayali alias dunia fantasi.

Para politisi yang akan menampakkan diri di sekitar ini tahu persis kalau mereka tidak perlu merasa khawatir dengan apa yang akan mereka jual.  Baik politisi cerdas yang punya ide dan visi jauh ke depan maupun politisi yang cuma modal bacot dan duit taruhan. Mereka tahu pasti kalau semua dagangan politik yang mereka jajakan itu punya pasar masing-masing. Baik itu dagangan politik yang punya basis di dunia nyata ataupun yang sekedar omong besar tentang keindahan dunia fantasi. Semua ada pembelinya.

Para politisi yang tak punya visi dan pandangan jauh ke depan itu tahu persis bahwa ada sangat banyak orang bodoh yang akan manggut-manggut mempercayai khasiat ‘obat’ yang mereka jual.

Lho, mengapa di Gayo secara khusus dan Indonesia secara umum masih banyak orang bodoh. Bukankah negara sudah sejak lama punya program wajib belajar?

Benar, negara memang punya program wajib belajar. Tapi dari nama programnya saja sudah jelas, WAJIB BELAJAR bukan WAJIB PINTAR.

Negara tidak punya hak untuk mewajibkan orang menjadi pintar karena menjadi bodoh atau menjadi pintar adalah pilihan pribadi masing-masing orang. Negara tidak punya urusan apa-apa dan tidak bisa ikut campur di sini. Urusan orang mau menjadi bodoh atau menjadi pintar tidak diatur oleh negara dalam konstitusi. Jadi, bisa dibilang menjadi bodoh atau menjadi pintar adalah hak asasi.

Kembali ke soal para politisi yang akan bermunculan bagai jamur di musim hujan pada tahun 2018 ini. Mereka adalah para politisi zaman now yang hidup dalam sistem politik demokrasi hyper liberal, one man one vote.

Dengan praktek demokrasi seperti ini. Pasar politik yang terbentang di hadapan mereka saat ini adalah surga politik yang sesungguhnya. Padang perburuan abadi kalau kita mengambil konsep surga suku asli Amerika

Bagaimana tidak, dalam sistem demokrasi seperti ini. Untuk meraih kesuksesan sebagai seorang politisi. Orang tidak perlu menjadi sepintar Tan Malaka, tak perlu menjadi orator sehebat Bung Karno dan tak perlu menjadi orang yang sedemikian tawaddu dan amanah seperti Mohammad Hatta.

Di zaman now, untuk bisa sukses. Seorang politisi tidak perlu memiliki visi besar untuk memajukan daerah dan masyarakat yang diwakilinya. Malah sebaliknya, dalam sistem demokrasi seperti ini, kecerdasan dan  visi bagus yang jauh ke depan  bukanlah kelebihan, tapi  kelemahan bagi seorang politisi. Kelemahan yang akan membuatnya sulit duduk di kursi dewan.

Penyebabnya apa?

Penyebabnya,  politisi yang punya visi cerdas hanya akan dipilih oleh pemilih cerdas,  yang sialnya adalah ceruk terkecil, niche market yang sangat eksklusif  dalam pasar politik yang tersedia.

Tapi sebenarnya fenomena seperti ini bukanlah fenomena baru. Bukan fenomena zaman now saja. Ini adalah fenomena umum setiap masa dan di setiap peradaban. Di manapun dan kapanpun, populasi manusia cerdas itu akan selalu minoritas.

Secara logika, sama sekali tidak sulit untuk menjelaskan adanya fenomena ini.

Fenomena ini terjadi karena menjadi cerdas itu tidaklah mudah. Untuk  menjadi cerdas orang perlu usaha, perlu mikir bahkan keluar uang. Sementara itu untuk menjadi bodoh sebaliknya. Untuk menjadi bodoh, orang  tak perlu berbuat apa-apa. Begitu bangun tidur, bersantai dan terima saja apa yang ada di depan mata! Bodohlah kita. Menjadi bodoh terjadi secara alami, jadi dengan sendirinya. Generatio Spontanea, dalam istilah biologi.

Kalau kita mengaca pada sejarah peradaban manusia. Kebodohan massal tidak pernah bisa hilang dengan sendirinya. Pada setiap masa dan peradaban, kebodohan dalam masyarakat hanya bisa dikikis oleh orang yang mau mengorbankan dirinya, mendedikasikan diri tanpa mengharap imbalan apa-apa selain kepuasan dan bayangan mati dengan senyuman karena membayangkan masyarakat yang lebih baik karena sudah tercerahkan.

Dalam sejarah kita mengenal tokoh seperti Ibrahim, Musa, Isa dan Muhammad yang berjuang gigih menyelematkan masyarakatnya dari kebodohan berbungkus agama dan kepercayaan. Untuk konteks yang sama, di dunia ilmu pengetahuan,  kita mengenal Socrates, Ibnu Rushd,  Copernicus sampai Galileo.

Semua nama di atas memiliki satu kesamaan, mereka semua dibenci penguasa dan politisi yang terancam akan kehilangan kenikmatan duniawi kalau rakyat banyak menjadi pintar. Mereka dihujani berbagai fitnah dan dalam sejarahnya mereka memang jadi  dibenci oleh masyarakat yang termakan provokasi. Hanya sedikit orang yang mau menjadi pengikut mereka, orang-orang yang mau bersusah payah berpikir dan menggunakan logika. Bukan hanya asal telan saja apa yang dikatakan oleh politisi dan penguasa.

Kembali ke laptop, seperti kata Tukul Arwana.

2018, adalah tahun pemanasan politik. Tahun di mana para politisi mulai muncul satu persatu untuk memperkenalkan diri dan dagangannya. Segala macam ide dan janji yang berbusa-busa akan menjadi keseharian kita baik di dunia maya maupun dunia nyata.

Di tahun yang baru kita masuki hari ini, akan ada banyak sekali politisi yang menjual mimpi, ada juga beberapa politisi cerdas yang punya visi dan juga akan ada beberapa orang yang mencoba membuka mata dan hati kita sekedar untuk memenuhi tanggung jawab pribadi dan bisa tersenyum sebelum mati.

Siapa yang kita percaya dan ikuti, itu pilihan masing-masing kita pribadi.

Selamat tahun baru pemanasan politik 2018.

Comments

comments

Install Lintasgayo for Android Smartphone

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top