Bage Terbaru

Secercah Harapan dari Pulau Nasi

Eliyana (Ist)

Catatan : Eliyana*

Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki beribu pulau, mulai dari semenanjung Timur hingga Barat Sumatera (Aceh). Di bagian barat provinsi Aceh sendiri juga memiliki benerapa pulau yang menyimpan sejuta keindahan.

Adalah pulau Aceh atau orang Aceh menyebutnya dengan pulo Aceh yang msmiliki keindahan tidak kalah dengan Sabang.

Kawasan Pulo Aceh, terbagi menjadi beberapa pulau, diantaranya ialah pulau Nasi, Pulau Breueh, serta berbagai pulau kecil lain yang mendampinginya.

Pulau Breueh  memiliki empat desa, yaitu Desa Meulingge, Teunom, Rinon dan Lampuyang. Dari keempat desa ini, hanya Desa Meulingge yang terletak di bagian paling ujung pulau Breueh memiliki alam yang masih asri.

Desa ini berhadapan langsung dengan pantai yang indah, dan terdapat mercusuar Willem’s Torren yang yang dibangun penjajah Belanda tahun 1875 dengan tinggi 45 meter.

Nama menara yang mampu memantulkan cahaya hingga puluhan mil ke Samudera Hindia yang berfungsi untuk mengatur jalur pelayaran internasional ini dikabarkan diadopsi dari nama raja penjajah, yakni Willem Alexander Paul Frederik Lodewijk, penguasa Luxemburg 1817 sampai dengan 1890.

Menara ini juga merupakan salah satu dari tiga menara di dunia yang dibuat oleh Belanda yaitu di Hollands (dijadikan museum) dan Kepulauan Karibia. Kekhasan menara ini menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan.

Namun demikian, untuk dapat menjejakkan kaki sampai ke desa ini,  kita harus menggunakan kapal nelayan dari pelabuhan Lampulo, Banda Aceh.

Perjalanan laut ini menghabiskan waktu sekitar tiga jam. Banyak kisah menarik yang ada di pulau ini, lebih-lebih pasca Tsunami.

Penduduk yang mendiami wilayah ini berjumlah lebih dari 70 Kepala Keluarga (KK), dengan kepala kepala gampong Ismuha. Penduduk desa ini keseluruhannya bersuku Aceh.

Menurut Cut yang telah tinggal di desa ini sejak tahun 1985, penduduk Gampong Meulingge sekarng, kebanyakan adalah penduduk pendatang.

“Kebanyakan penduduk desa adalah penduduk mendatang dari luar pulau, bukan asli penduduk di sini,” katanya

Mata pencaharian penduduk desa ini sebagian besar adalah sebagai nelayan dan petani. Menurut Cut,
Pasca Tsunami, warga mengungsi ke Banda Aceh, Seulimun dan kota-kota di luar Pulo Aceh selama setahun. Jadi, hasil perkebunan, khususnya buah kelapa mereka di makan oleh monyet-monyet yang turun dari hutan. Sehingga kini mereka tidak dapat lagi menjual kelapa ke luar Pulo, tetapi mereka justru membeli kelapa dari Banda Aceh.

Untuk mendapatkan uang dan menafkahi keluarga, warga desa ini memanfaatkan hasil dari sektor perkebunan, seperti cengkeh, pinang, dan cabe. Tidak hanya itu, untuk kebutuhan sehari-hari seperti sayur-mayur, warga desa ini harus membelinya keluar pulau, tepatnya ke Banda Aceh setiap hari Minggu dan Kamis.

Dari segi pendidikan, pulau ini masih sangat memprihatinkan,  karena minimnya tempat pendidikan. Hanya ada SD, SMP di Rinon dan SMA yang baru berdisi selama 1 tahun di desa Lamkuyang. Jarak antara desa tersebut ke Lamkuyanh lumayan jauh jika di tempuh dengan berjalan kaki. Jadi, penduduk Meulingge harus mempunyai kendaran pribadi untuk dapat melanjutkan sekolah anak-anaknya ke jenjang SMP dan SMA. Hal ini mengingat tidak adanya alat transportasi umum antar desa.

Sangat di sayangkan, ketika melihat pendidikan yang tidak merata di daerah terpencil ini, rasanya pendidikan yang didapat seakan terasa lemah dan kurang berkembang, karena tidak memadai. Berdasarkan keterangan warga setempat, desa ini masih minimnya buku bacaan, terutama buku pelajaran. Sehingga penambahan buku sangat dibutuhkan untuk meningkatkan kualitas pendidikan.

Tenaga pengajar juga bukan berasal dari desa setempat,  melainkan dari luar pulau, seperti Banda Aceh dan daerah lainnya. Mereka mengabdi di SD  Meulingge guna memberikan pendidikan yang layak, dan sebagian besar diantaranya menikah dengan orang sekitar hingga menetap di pulau ini.

Penduduk Meulingge juga masih belum terjamah arus komunikasi yang modern. Jangankan akses internet yang memadai, sekedar menelpon saja, kita harus mencari sinyal dengan susah payah, terlebih harus menggunakan HP dengan merk tertentu. Warga sekitar mengaku, sering menaiki pegunungan yang tinggi untuk mendapatkan sinyal yang bagus ketika ingin berkomunikasi dengan orang-orang dan sanak saudara yang ada di luar pulau.

Anak-anak Meulingge, masih sangat awam dengan istilah internet dan alat komunikasi lainnya, apalagi alat pembelajaran yang canggih. Dari 50 siswa di SD Meulingge, salah seorang diantaranya Raudhatul Jannah (11 thn) mengatakan tidak mengetahui apa itu internet dan untuk apa ada internet.  Cita-citanyapun  sangat sederhana, Ia hanya bercita-cita menjadi seorang petani seperti ibunya.

13 tahun pasca Tsunami, belum ada tanda-tanda perubahan besar di desa ini. Namun hilangnya tauma Tsunami menjadi kesyukuran besar yang mereka rasakan. Meskipun demikian, mendapat pendidikan yang layak, jaringan telekomunikasi yang lancar, transfortaai yang memadai juga berbagai fasilitas pendukunh lainnya menjadi harapan besar mereka.

Semoga pemerintah Aceh meningkatkan perhatiannya untuk Desa Meulingge dan desa lainnya di Pulo Aceh. Sehingga anak-anak Pulo Aceh menjadi Anak-anak yang cerdas, hebat serta mampu membangun daerahnya sendiri menjadi lebih baik lagi.[ZR]

*Elyana merupakan salah Putri Gayo yang berasal dari Gunung Teritit kabupaten Bener Meriah juga alumni Pendidikan Matematika (S-1) pada Fakultas Tarbiyah dan Keguruan di UIN Ar-Raniry

 

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *