Beru Bujang Terbaru

Atta, Ini Perempuan Satu-satunya Pemenang Gayo Latte Art Battle

Disa Mahrami, Juara 3 Kompetisi Latte Art Battle 2017 (Junaidi)

TAKENGON-LintasGAYO.co : Ajang Kompetisi yang diselenggarakan oleh Indonesia Latte Art Artis (ILAA) di Tootor Coffee pada Minggu 24 Desember 2017, menjadi kebanggaan tersendiri bagi Disa Mahrami (27 thn)

Pasalnya, perempuan yang lahir di Bireuen, 28 Juli 1990 itu berhasil mendapatkan juara III mengalahkan 12 peserta lainnya dalam ajang Gayo Latte Art Battle, yang dilaksanakan di Tootor Coffee.

Baca : Ini Pemenang Kompetisi indonesia Latte Art Artist di Takengon

Menurut Disa, dirinya tertarik mengikuti ajang lomba ini, karena skill dan kemampuan yang Ia miliki diraaa mumpuni, hingga Ia berminat untuk mencobanya.

“Mungkin karena wawasan dan potensi saya dalam membuat art di segelas coffee latte ya!!,” kata Disa dengan semangat.

Istri dari Alfi Syahri, Owner Tootor Coffee yang juga menjadi host event ILAA Roadshow 2017 ini, selain untuk melatih diri dan mengembangkan potensi dan kemampuannya, Ia juga berkeinginan untuk ikut di ajang kejuaraan lainnya. Baik itu di Aceh, Sumatera, bahkan pada tingkat Nasional.

Alumni SMAN 1 Takengin ini sudah menyukai dunia barista sejakswkolah SMA.

“Tapi saya berperan sebagai barista, sejak Tootor Coffee di buka,” terangnya.

 

Sebagai seorang perempuan satu-satunya dan baru pertama kali mengikuti ajang kompetisi bergengsi ini, Disa mengaku sempat merasa canggung dan gugup ketika kompetisi sedang berlangsung.

“Saya ingin menunjukkan bahwa perempuan juga paham dan punya kemampuan mengolah kopi, karena selama ini kopi itu biasa dikenal sebagai ‘dunianya’ laki-laki,” timpalnya

Meski hanya mendapat juara III, tapi ibu dari satu anak ini merasa bersyukur dan menjadi bekal bagi dirinya untuk memotivasi teman-teman perempuan yang lainnya.

“Besar harapan saya kepada generasi-generasi muda di Gayo ini. Terutama kaum hawa, agar terus mengembangkan bakatnya di bidang kopi, mulai dari hulu sampai ke hilir. Ayo teman-teman wanita, kita sama-sama belajar tentang kopi, mulai dari pertaniannya sampai baristanya jangan mau kalah sama laki-laki. Karena terbaik dunia ini harus kita jaga bersama untuk generasi Gayo,” tambah alumni LP3I Banda Aceh ini.

Ia juga memberikan saran kepada para perempuan untuk tidak malu menjadi barista.

“Jadi barista itu keren, kita bisa menggambar di atas air, berbicara juga mengekspresikan keahlian kita tentang kopi,” pungkasnya. [Junaidi/Zuhra Ruhmi]

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *