Free songs
Home / Opini / Kewajiban Nafkah Dalam Pemaknaan Tekstual Dan Kontekstual

Kewajiban Nafkah Dalam Pemaknaan Tekstual Dan Kontekstual


Oleh. Drs. Jamhuri Ungel, MA

Firman Allah :

وعلى المولود له رزقهن وكسوتهن بالمعروف

Artinya : Dan kewajiban orang-oyang yang untuknya anak dilahirkan memberi nafkah dan pakaian kepada para isteri secara layak ( Al-Baqarah : 233)

Pemaknaan Tekstual

Ayat di atas menyebutkan bahwa anak adalah anak ayah yang dilahirkan oleh para isteri, karenanya para isteri yang telah melahirkan anak untuk suami berhak mendapatkan nafkah yang cukup dan pakaian yang layak. Dari ayat ini juga dipahami bahwa isteri hanya mempunyai hak terhadap nafkah dan tidak mempunyai kewajiban dalam memberi nafkah baik terhadap dirinya maupun terhadap anak dan suaminya. Sebaliknya juga suami yang mempunyai kewajiban dan tidak mempunyai hak terhadap nafkah dari para isteri.

Dalam ayat di atas tidak disebutkan secara langsung kalau ayah  berkewajiban memberi nafkan kepada anak, namun karena ayat tersebut menyatakan kalau anak adalah miliknya maka secara pasti kewajiban ayahlah memberi nafkah kepada anak-anaknya. Selanjutnya secara tersirat dalam ayat tersebut dapat dipahami kalau ayah adalah wali dari anak, sehingga ayah berkewajiban melindungi anak-anaknya dari segala hal dan kewajiban ayahlah membawa anak-anaknya kepada ujuan sesuai dengan kehendak agama yaitu lahirnya anak yang shalih.

Karena nafkah dan pakaian adalah kewajiban mutlak yang tidak terikat dengan waktu dan tempat, maka apabila suami tidak sanggup melaksanakannya isteri berhak meminta cerai dari suami  dengan alasan ketidak mampuan suami memberi nafkah dan pakaian. Di samping suami berkewajiban memberi nafkan dan pakaian secara mutlak juga berkewajiban mencarikan pembantu bagi isterinya. Fungsi pembantu untuk isteri ada dua yaitu  untuk mengurus rumah, taman dan menyiapkan makanan untu suami, isteri dan anak-anak, kemudian pembantu kedua bertuga mendandan isteri guna keperluan menyenangkan suami dan apabila suami tidak sanggup membiayai dua orang pembantu maka memadai satu orang saja.

Dalam hal suami tidak sanggup memberi nafkah kepada isteri dan isteri tidak meminta cerai,  sedang isteri mempunyai harta untuk digunakan sebagai nafkah keluarga, maka nafkah yang dikeluarkan isteri dari hartanya menjadi hutang suami, karena hUkum wajib nafkah dari isteri tidak ada dan juga hUkum wajib yang ada di tangan suami tidak pernah berpindah kepada isteri. Dalam keadaan suami terus berusaha mencari nafkah untuk keluarganya tetapi juga tetap tidak dapat menutupi kewajibannya, sedangkan harta yang dimiliki isteri terus menjadi hutang dari suami. Maka dalam keadaan seperti ini syari’at menentukan hukum lain yang itu hutang suami kepada isteri tidak harus dibayar. Ketentuan ini berbeda dengan ketentuan umum yang mewajibkan orang yang  berhutang membayar hutangnya  kepada orang yang meminjami uangnnya. Tetapi tidak dalam kasus suami yang berhutang kepada isteri dan tidak sanggup membayarnya maka hutangnya dibebaskan. Alasan pembebasan hutang adalah karena sumiyang selal berusaha dan isteri mengetahui alau suaminya berusaha amun hasil dari usahanya selalu gagal dan tidak mendapatkan hasil.

Pemaknaan Kontekstual

Ada permasalahan lain dibalik apa yang telah disebutkan, di mana dalam konteks sekarang ini terjadi pergeseran zaman dari masyarakat yang dulunya agraris menjadi masyarakat industeri bahkan sekarang ini adalah masa masyarakat hidup dalam era teknologi. Dalam masyarakat agraris semua orang mempunyai lahan usaha yang cukup bahkan lebih, mereka mempunyai tanah kebun dan sawah yang luas dan ternak yang banyak. Sedangkan kebutuhan masih bisa  dicukupi dengan harta dan kekayaan yang dimiliki, bahkan pada masa ini tidak harus suami dan isteri berdua turun bersawah, berkebun atau berternak, tetapi cukup suami saja.

Selanjutnya ketika zaman menjadi lebih maju, lahan yang sebelumnya luas menjadi sempit, ternak yang sebelumnya banyak menjadi sedikit, kebutuhan dalam keluarga semakin meningkat. Maka yang sebelumnya suami sanggup memenuhi kebutuhan keluarga menjadi tidak sanggup lagi. Pada masa ini muncul sebuah pemahaman bahwa perempuan atau isteri boleh bekerja untuk menambah pendapatan suami dengan syarat mendapat izin dari suami. Izin di sini merupakan ujud kendali laki-laki atau suami kepada isterinya. Karena itu suami masih boleh mengatakan kalau dirinya mampu memenuhi kebuthan keluarga dan isteri tidak boleh bekerja karena tidak ada izinya dan sebaliknya menjadi boleh bekerja karena mendapat izin dari suami.

Dalam konteks harus adanya izin suami kepada isteri, memberi isyarat pemahaman bahwa apa yang didapat oleh isteri dari pekerjaannya menjadi milik suami dan isteri tidak berhak memilikinya, karena hasil usaha yang didapat sesuai dengan maksud ayat di atas yaitu isteri diberi nafkah oleh suami dan apa yang ada di rumah menjadi milik suami dan kalaupun isteri  menerima haknya hanyalah nafkah yang diberikan berdasarkan kewajiban suami.

Fenomena lain yang muncul kepermukaan, dimana izin suami untuk bekerja dianggap tidak perlu lagi. Baik disebabkan oleh tuntutan keadaan dalam pemenuhan kebutuhan yang semakin berat atau penyediaan lapangan pekerjaan yang menganut semua orang bisa melakukan pekerjaan yang sama tanpa memandang jenis kelamin laki-laki atau perempuan atau juga berdasarkan pengalaman perempuan juga bisa berusaha dan berkarya sama dengan laki-laki. Maka banyak diantara orang perempuan atau isteri berpendapat bahwa apa yang didapat dari pekerjaannya adalah haknya secara mutlak dan kewajiban suami sebagai pemberi nafkah tidak pernah berpindah kepada orang lain (isteri), maka isteri mendapat dua hak, pertama hasil dari usaha yang didapatkan sendiri dan kedua hasil dari pemenuhan kewajiban suami. Pendapat seperti ini kendati tidak banyak yang menganutnya tetapi pendapat seperti ini ada diamalkan dalam masyarakat.

Perjalanan kehidupan manusia dalam memenuhi kebutuhan nafkah dalam keluarga, melahirkan berbagai pemahaman, Baik pemahaman berdasarkan pengetahuan ataupun bemahaman berdasarkan pengalaman. Kesemuanya tidak terlepas dai dua metode pemahaman tekstual dan kontekstual.[]

Comments

comments

Install Lintasgayo for Android Smartphone

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top