Free songs
Home / Sastra / [Cerpen] Kumuning Asmara di Musim Panen Padi (Bag. 2)

[Cerpen] Kumuning Asmara di Musim Panen Padi (Bag. 2)


Oleh; Saraminaku*

CERITA seladang itu berlanjut ke mersah. Aku, Gemasih dan beberapa teman lain mengajar mengaji setiap hari sesudah shalat Ashar, di bantu dengan Perala dan beberapa pemuda lain. Perala yang senantiasa melalui harinya di mersah. Adzan yang dilantunkan Perala begitu merdu. Wajar saja, suatu saat anan pernah bercerita orang tua Perala adalah ceh didong termasyhur di zamannya. Selain sebagai ceh didong orangtuanya juga adalah seorang tengku (ulama) menjadi tempat bertanya masalah agama.

Anak-anak telah berlarian meninggalkan mersah ketika ku akhiri pertemuan dengan salam. Gerimis di luar sana tidak menyurutkan niat mereka untuk bersegera pulang. Sambil menunggu hujan kami membersihkan mersah. Meski telah diajarkan untuk membuang sampah di tempatnya. Anak-anak terkadang masih menyelipkan sampah sisa makanan atau kertas di balik ambal mersah. Begitulah anak-anak harus selalu diingatkan.

Sedang serius memunguti sampah, Perala mendatangiku. Perala yang masih tergolong kerabat dekat denganku, mengatakan niat baiknya untuk menikah dengan Gemasih dan memintaku untuk menyampaikannya kepada Gemasih. Aku terkejut luar biasa, ketika mendengar kabar dari Perala.

“Benarkah Perala? Kau bisa kena parak nanti. Hukuman adat ini begitu melekat di kampung kita”

“Aku tahu Bune, tapi beberapa kali aku telah istikharah dan hanya wajahnya yang selalu tanpak jelas”

“Apa yang akan dikatakan semua orang nanti Perala jika pernikahan kalian benar terjadi?”

“Jangan terlalu memikirkan pikiran masyarakat kampung Bune, karena niatku ini benar-benar tulus. Apalagi yang kutunggu. Bukankah mempercepat pernikahan ketika aku benar-benar siap adalah kemuliaan?”, kata Perala tegas.

“Kemuliaan apa yang kau maksudkan Perala? Diusir dari kampung itu bukan kemuliaan.”

“Ya, aku tahu resikonya, tapi tolonglah tanyakan dulu kepada Gemasih, bersediakah dia menerimaku? jika tidak, semua kemungkinan buruk ini tak perlu kau pikirkan Bune”

“Akan ku kabari lagi jika kabar ini telah kusampaikan pada Gemasih”

Beberapa hari berlalu, aku sibuk dengan pikiranku sendiri ketika Perala mengatakan niatnya untuk menikahi Gemasih. Berpikir tentang kemungkinan buruk yang akan terjadi jika itu benar terjadi, diusir dari Kampung Temung. Parak adalah hukuman adat yang dikenakan karena menikah sesama warga kampung. Orang yang terkena parak tidak diperbolehkan untuk kembali ke kampung sebelum menyembelih kerbau dan menjamu seluruh masyarakat Kampung Temung.

Beberapa hari aku telah menyampaikan niat baik Perala kepada Gemasih. Gemasih menjawab dengan senyum dengan pipi merona merah.

“Jika Gemasih sudah setuju, aku akan memberitahukannya kepada anan untuk kelanjutan lamaran”, kata Perala bersemangat

Bersegeralah Perala menemui anan yang sedang muniru di sisian tungku. Berbasa-basi dengan anan sebagai pembuka pembicaraan lalu mengatakan maksud yang sebenarnya. Bak gelegar petir sebelum turun hujan, begitupun gemuruhnya hari anan mendengar cerita Perala.

“Benarkah apa yang kau katakan itu Perala?”, tanya anan sambil memegang dadanya

“Benar anan, beberapa kali aku telah shalat istikharah dan hanya wajahnya yang terlihat jelas”

“Tapi tahukah kau apa yang akan terjadi ketika pernikahanmu dengan Gemasih benar terjadi?”, tanya anan lagi.

“Aku tau anan”

“Kalau kau sudah tau, kenapa harus Gemasih? Tidakkah ada gadis dari kampung sebelah yang mau dengan mu?”, suara anan meninggi.

“Bukan begitu anan, istikharah sudah kulakukan dan hanya wajahnya yang tampak nyata. Ragukah anan pada petunjuk dari Allah”, suara Perala melembut agar tak menyulut amarah anan.

“Tidak, sama sekali aku tidak meragukan petunjuk Allah. Tapi tidakkah kau pikirkan hukuman parak itu Perala?” kata anan lagi.

Perala menunduk, belum sempat menjawab pertanyaan, anan telah melanjutkan lagi kata-katanya.

“Ayahmu tengku Perala. Malu nanti keluarga kita”, kata anan dengan suara mulai merendah.

Suasana hening, hanya geretek api yang terdengar. Perala memandangi tarian api. Anan memanggil ama, ingin bersegera menyampaikan kabar ini.

“Bagaimana menurutmu ini amanuwin”, kata anan kepada ama.

“Perala ini ingin melamar Gemasih, anak kedua dari reje”. Kata anan lagi.

“Perala, kesini dulu anakku”, kata ama tenang.

Perala segera melangkah menuju ke arah ama.

“Sudahkah kau yakin dengan pilihamu anakku”, tanya ama.

“Sudah ama, beberapa kali aku sudah melakukan istikharah dan hanya wajahnya yang tampak”, kata Perala sambil menunduk takzim.

“Kalau begitu aku yang akan langsung melamarkannya untukmu”, kata ama.

“Wo amuwin, tidakkah kau ingat hukum adat yang berlaku di kampung kita? Perala akan diusir dari kampung kita. Aku tak rela jika harus berpisah dengan cucuku ini”, kata anan sambil memegang tangan Perala.

“Kewajiban harus tetap kita jalankan Ine”. Kata ama menenangkan anan.

“Kamu tengku disini amanuwin, tidakkah kau malu kepada seluruh masyarakat Kampung Temung jika anakmu di parak?”, tambah anan lagi.

“Aku lebih malu pada Allah ne, ketika kewajiban menikahkan cucu ine tidak segera kujalankan”.

“Tapi, tapi amanuwin tidakkah kita carikan gadis dari kampung lain saja?”, tanya anan menawarkan solusi. Perala dari tadi hanya menunduk mulai angkat bicara.

“Tidak anan, hanya dia yang aku inginkan. Segala harap untuk memperoleh petunjuk Allah telah aku lantunkan tiap malam. Dan inilah jawabannya anan”, Perala menjelaskan.

“Kalau itu sudah keputusan Perala baiknya kita jalankan Ine, kita akan segera lakukan lamaran kerumah reje”, kata ama.

“Tapi….. tapi amanuwin”, kata anan.

“Tidak ada tapi lagi ine, lebih baik kita melanggar adat daripada melanggar agama”, kata ama sambil terus menenangkan anan.

Hari yang dinanti oleh Perala pun tiba, keluarga telah melamar Gemasih sebulan yang lalu. Kini Gemasih telah berada di hadapannya dengan gaun putih. Perala telah berjabat tangan dengan reje untuk mengucapkan ikrar akad nikah.

“Aku terima nikah dan kawinnya Gemasih Binti Syahbuddin dengan 20 gram mas…”

Sah… sah… sah…

Setelah akaq nikah mereka diantar ke perbatasan kampung untuk menjalani hukum adat parak. TAMAT. [SY]

Baca : [Cerpen] Kumuning Asmara di Musim Panen Padi (Bag. 1)

Comments

comments

Install Lintasgayo for Android Smartphone

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top