Free songs
Home / Features / Ulama Pahlawanku

Ulama Pahlawanku


Oleh : Husaini Algayoni*

“Ulama adalah sosok membawa kesejukan kepada seluruh umat manusia dengan nasihat-nasihatnya bukan membawa permusuhan dan perpecahan diantara umat manusia” (Husaini Algayoni)

Dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) arti kata pahlawan adalah orang yang sangat gagah berani; pejuang yang gagah berani atau yang terkemuka. Di Indonesia sendiri hari pahlawan diperingati setiap tanggal 10 November, untuk mengenang jasa pahlawan agar generasi-generasi setelahnya tidak lupa akan perjuangan pahlawan masa silam dalam mempertahankan agama dan bangsa dari gempuran penjajah yang ingin menguasai wilayah Indonesia. Dari Sabang sampai Merauke banyak sudah Pahlawan Nasional disematkan bagi mereka yang berjasa; baik itu dari kalangan ulama, militer, akademisi, dan lain sebagainya.

Kemudian kita bertanya pada diri sendiri, siapakah pahlawan menurut pandangan kita masing-masing?. Ada yang yang menjawab pahlawanku adalah ibu, ayah dan guru. Jawaban itu betul dan tak ada salahnya karena mereka adalah sosok yang sangat berarti bagi perjalanan sejarah kehidupan kita bahkan Wali Band pun mengatakan “nenek adalah pahlawanku.” Begitu juga dengan Dataran Tanah Tinggi Gayo mempunyai pahlawan yaitu Aman Dimot beserta para sahabatnya yang setia mempertahankan tanah air dari penjajahan Belanda.

Dalam pandangan penulis pribadi “Ulama adalah pahlawanku” kenapa ulama? Karena ketika para nabi sudah tiada maka para ulama lah yang melanjutkan tugas nabi dalam berdakwah/menyampaikan (Q.S al-Maidah: 67), menjelaskan (Q.S an-Nahl: 44) memutuskan perkara ketika ada persoalan di antara manusia (Q.S al-Baqarah: 213) dan sebagai uswah atau contoh teladan (Q.S al-Ahzab: 21). Sedangkan arti kata ulama itu sendiri kalau kita lihat di Ensiklopedi Islam adalah orang yang memiliki pengetahuan tentang ilmu kealaman dan ilmu agama dan pengetahuan yang dimilikinya itu dipergunakan untuk mengantarkannya pada rasa khasyyah (takut atau tunduk) kepada Allah swt.

Dalam Nashaihul Ibad Ulama itu ada tiga macam: Pertama, Ulama yang alim tentang hukum-hukum Allah swt, mereka inilah orang-orang yang ahli dalam memberikan fatwa. Kedua, Hukama, yaitu orang-orang yang mengetahui Dzat Allah saja. Bergaul dengan mereka, membuat perangai menjadi terdidik, karena hati mereka memancarkan sinar cahaya ma’rifat (mengenali Allah dan rahasia-rahasia) dan dari jiwa mereka membias rahasia sinar keagungan Allah dan yang ketiga yaitu Kubara, yaitu orang-orang besar yang diberi anugerah keduanya.

Dalam zaman penuh dengan gado-gado ini tak tahu lagi mana yang batil dan mana yang hak karena sudah bercampur baur antara yang hak dan yang batil, oleh karena itu sebahagian orang mengklaim kalau dirinya Ulama hanya karena memakai surban putih yang melilit dikepalanya, padahal khalayak ramai tidak mengklaim kalau dirinya Ulama. Mengaku Ulama karena mempunyai kepentingan politik dan urusan perut, mengklaim dirinya ulama biar banyak pengikut dan suaranya didengar oleh pengikutnya padahal makna Ulama jauh dari kepribadiannya bahkan tidak layak untuk dijadikan sebagai uswah atau teladan yang baik.

Ulama adalah orang-orang yang ahli dalam agama dan dalam agama tidak pernah mengajarkan yang namanya kekerasan, permusuhan dan kebencian. Oleh karena itu, Ulama membawa kedamaian, menyelesaikan konflik ketika ada masalah dan nasihat-nasihatnya penuh dengan kesejukan. Di era-zaman gado-gado ini, mengaku Ulama tapi ketika menyampaikan ceramah dibumbui dengan rasa kebencian sehingga menimbulkan permusuhan dan perpecahan dalam kehidupan umat manusia.

Peran Ulama

Aceh merupakan tempat berkembangnya pengetahuan Islam di Nusantara, maka tidak heran kalau Aceh mempunyai Ulama-ulama ternama serta mempunyai sifat zuhud seperti Hamzah Fansuri, Syamsuddin as-Sumatrani (Syamsuddin Pasai), Syeikh Abdurrauf As-Singkili (Syiah Kuala). Ketiga ulama ini siapa yang tidak mengenalnya, mereka adalah tinta emas dalam sejarah pemikiran Islam di Aceh karena banyak melahirkan karya dan terus dipelajari hingga sekarang.

Ulama gagah dan berani juga ada di Aceh, ketika masa penjajahan melawan Belanda seperti Teungku Tjhik di Tiro dan Teungku Tjhik Pante Kulu merupakan sosok dibalik tangguhnya benteng rakyat Aceh melawan Kolonialis Belanda. Syair Perang Sabi merupakan bukti nyata dari karya Ulama Teungku Tjhik Pante Kulu, syairnya tersebut merupakan media dakwah yang sanggup membangkitkan semangat juang rakyat Aceh melawan Kolonialis Belanda. Dan masih banyak Ulama-ulama terkenal lainnya yang berasal dari Aceh hingga sampai sekarang.

Kemudian ada Haji Abdul Malik Karim Amrullah yang terkenal dengan nama Buya Hamka merupakan sosok Ulama yang menginspirasi umat melalui pemikiran-pemikiran beliau, pendidikan formal tak sataupun ditamatkannya namun ia bisa menjadi Ulama terkenal karena banyak membaca menjadi modal utamanya serta belajar langsung dengan tokoh dan ulama. Maka betul apa yang dikatakan oleh Prof. Dr. Farid Wajdi Ibrahim MA kalau cendekiawan Muslim masa lalu banyak membaca dan menulis sehingga banyak melahirkan karya sementara generasi sekarang banyak menghabiskan waktu di warung kopi.

Dalam rangka hari pahlawan ini, penulis mengatakan bahwa “Ulama adalah Pahlawanku.” Ulama yang bagaimana?. Ulama yang membawa kesejukan kepada seluruh umat manusia dengan nasihat-nasihatnya dengan menggunakan konsep bahwa Islam itu tidaklah marah akan tetapi Islam adalah agama yang ramah dan Ulama yang memberi uswah atau contah teladan yang baik bagi umat manusia.

*Penulis: Kolumnis LintasGAYO.co

Comments

comments

Install Lintasgayo for Android Smartphone

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top