Free songs
Home / Kampungku / Kecamatan Tertua di Gayo Lues itu Terabaikan

Kecamatan Tertua di Gayo Lues itu Terabaikan


Catatan Ismail Baihaqi

Kecamatan Pining

PEMEKARAN Kabupaten Gayo Lues dari kabupaten induk Aceh Tenggara pada 2002 ternyata belum mampu membawa perubahan yang signifikan bagi sejumlah daerah di daerah yang berjulukan “seribu bukit” itu.

Pascapemekaran, Gayo Lues memiliki 5 Kecamatan, Kecamatan Blangkejeren, Kuta Panjang, Rikit Gaib, Terangun dan Pining. Di tahun 2005, lima kecamatan tersebut di mekarkan lagi menjadi enam Kecamatan sehingga Kabupaten Gayo Lues sekarang terdiri 11 kecamatan.

Salah satu kecamatan tertua baik saat bergabung dengan Aceh Tenggara maupun setelah pemekaran itu yakni Pining. Daerah yang berada di lembah dan diapit pergunungan ini, hingga saat ini, bagaikan daerah tak ‘bertuan’. Jauh dari derap pembangunan.

Bayangkan saja, di era modern dan abab milenium saat ini, semua masyarakat sangat tergantung akan kebutuhan imformasi baik melalui internet maupun media massa serta media sosial (medsos). Semua itu tentunya, harus di dukung dengan fasilitas jaringan seluler untuk mendapatkan imformasi dan menerima imformasi tersebut.

Tapi kenyataannya, di Kecamatan Pining, Gayo Lues masyarakat tak dapat mengakses jaringan tersebut. Padahal kecamatan yang berdiri seiring dengan pemekaran Kabupaten Gayo Lues dari Aceh Tenggara.

Kini usia Kabupaten Gayo Lues sudah menginjak 16 tahun, tapi di Kecamatan Pining masih belum ada jaringan seluler. Ironis, rasanya di tengah kemajuan teknologi, daerah ini bagaikan terisolir di tengah derap kemajuan.

Kecamatan Pining terdiri dari 9 desa dalam 2 pemukiman dega jumlah penduduk sekitar 5.000 jiwa lebih. Masyarakat di sana, saat mau berkomunikasi dengan kerabat harus menempuk perjalanan selama 45 KM ke pusat Ibukota, Blangkejeren.

Di samping itu tak jarang pelaku ekonomi di Kecamatan Pining mengalami kerugian akibat imformasi pasar tak bisa di akses. Penduduk setempat yag penghasilannya, 80 persen bergantung dari hasil pertanian tak pelak merugikan.

Nasib sama lain juga dirasaka di dunia pendidikan. Upaya pecerdasa anak bangsa di Pining juga mengalami dilema yang parah. Baik guru maupun siswa/siswi juga tak bisa belajar dega baik layakya sekolah di perkotaan. Jagan belajar melalui internet, belajar secara manual sangat keterbatasan.

Di Kecamatan Pining ini ada 13 sekolah, yakni terdiri dari delapan jenjang Sekolah Dasar (SD) ada 8 sekolah, SMPN ada 2 sekolah lalu ada juga SMP satu atap ada dua sekolah serta satu sekolah jejang SMA.

Derita Pining tak sampai disitu saja. Dimana, sejak 2 tahun terakhir pembayaran listrik secara manual beralih ke listrik pintar masyarakat ketika mau membeli token atau kehabisan token terpaksa membelinya ke pusat ibukota Belangkejeren.

Begitu potret kehidupan masyarakat yang tinggal di pedalaman Kecamatan Pining Kabupaten Gayo Lues. Mereka, hanya bisa pasrah dengan keadaan dan tak mau mengadu kemana lagi.

Janji politik dan harapan palsu yang diucapkan oleh pejabat pemerintah dan politisi terkait pembangunan jaringan seluler dan pembanguna Pining secara menyeluruh nyaris setiap tahun dilotarkan saat mereka melakukan kunjugan ke Pining.

Tapi mirisnya sampai jelang di penghujung 2017 ini belum ada bukti yang nyata. Sampai kapan masyarakat Pining berangkat dari ketertinggal yang selama ini di rasakan. Sugguh ironis memang, di tengah Dana Otonomi Khusus (Otsus) yang begitu banyak, namun ada daerah yang terabaikan.

Dengan pemimpin baru, baik provinsi maupun Kabupaten Gayo Lues, diharapkan membawa perubahan secara sigifikan di Kecamatan Pining. Semoga…!!.[editor:aZa]

 

Penulis Mahasiswa IAIN Langsa asal Pining, Gayo lues

Comments

comments

Install Lintasgayo for Android Smartphone

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top