Free songs
Home / Beru Bujang / Kisah Mustaqim, dari Gayo Bener Meriah hingga Turki

Kisah Mustaqim, dari Gayo Bener Meriah hingga Turki


MUSTAQIM Azhari, nama pemuda tangguh asal Simpang Teritit Kabupaten Bener Meriah ini mencuat menyusul promosi kopi Gayo di Istanbul Coffee Festival (ICF) Turki, 21-24 September 2017 oleh Bupati Bener Meriah Ahmadi dan Gubernur Aceh Irwandi Yusuf.

Bersama rekannya, Vera Hartina asal Pondok Baru, Mustaqim membantu promosi kopi Gayo tersebut. Serta turut mengantar kepulangan rombongan hingga Bandara setempat.

Munculnya kedua sosok mahasiswa ini sontak bikin geger pembaca LintasGAYO, umumnya tidak menyangka jika di Turki ada mahasiswa yang berasal dari Gayo yang ternyata ada 4 orang, 2 dari Bener Meriah dan 2 lagi dari Aceh Tengah, Aulia Risti dan Riza Hudayarizka.

Kisah miris mengawali hidup Mustaqim yang dilahirkan di Takengon, 4 Januari 1993 oleh Salmah. Seperti Nabi Muhamammad SAW tidak pernah mengenal sang ayah karena telah lebih dulu dipanggil Yang Maha Memiliki sebelum Mustaqim dilahirkan.

Harus menerima takdir, Mustaqim dibesarkan oleh single parent, ibunya, seorang Guru di Sekolah Dasar (SD) negeri 2 Simpang Teritit Bener Meriah.

Umur 6 tahun, dia memulai pendidikan di TK Abba Simpang Teritit, setahun di TK Abba  aku melanjutkan ke Sekolah  Dasar 2 Negeri Simpang teritit dimana tempat ibunya mengajar.

Tidak banyak torehan prestasinya kecuali tetap masuk dalam peringkat terbaik hingga selesai Sekolah Dasar. Dia melanjutkan studi Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Fatih Bilingual School Banda Aceh di tahun 2005 hingga selesai di tahun 2008.

Salmah, ibunda Mustaqim Azhari

Awalnya, sang ibu tidak mengizinkan dia bersekolah di sekolah yang didirikan Pemerintah Turki untuk membantu korban Tsunami yang menghempang Aceh di tahun 2004. 

Untungnya ada sang kakak yang waktu itu bekerja di Banda Aceh. Ibunya mengizinkannya bersekolah di Banda Aceh, karena ada yang memantau.

Dia mendapatkan beasiswa seratus persen full dari Sekolah Fatih Bilingual School dengan syarat hanya membayar uang bangunan sekitar Rp350.000 per bulan, dikarenakan dia bukan dari korban Tsunami.

Kendala kembali dihadapi Mustaqim, persoalan bahasa Inggris yang samasekali tidak dikuasainya berhubung saat di SD memang tidak dipelajari bahasa Inggris.

“Kemel pedih aku, pong-pong ari Banda Aceh pane bewene bahasa Inggris bewene. Kerna kemel dan aku gere mera surut akhire aku belejer ekstra sesereng ku, belejer ari dasar,” ungkap Mustaqim dalam bahasa Gayo.

Satu tahun tertatih-tatih, akhirnya dia mulai lancar berbahasa Inggris, walau tidak sebaik kawan-kawannya.

Belajar dari pengalaman ini, Mustaqim memberi motivasi kepada adik-adik serta rekan-rekannya di dataran tinggi Gayo yang ingin menguasai bahasa asing.

“Belajar bahasa jangan takut salah, ucapkan saja, dengan sering mengucapkan kita akan terbiasa,” katanya memberi tips.

Bahasa itu sangat penting, ujarnya lagi. “Jika kita bisa berbahasa dua bahasa itu artinya di dalam diri kita itu ada dua orang, semakin banyak tau bahasa semakin banyak juga orang di dalam diri kita, satu bahasa sama dengan satu jiwa,” kata Mustaqim yang juga sudah lancar berbahasa Turki ini.

Kembali ke kisah studi, setelah menyelesaikan studi di SMP Fatih dengan prestasi masuk papan atas, Mustaqim berniat melanjutkan studi ke Sekolah Menengah Atas (SMA) di Sekolah yang sama, Fatih Bilingual School dengan beasiswa Full+plus. Sebelum masuk ajaran baru di sekolah Fatih, ada seorang guru Turki menawarkannya untuk bersekolah di Turki.

Pehobi berbagai cabang olahraga dan membaca ini sangat terkejut, ini adalah suatu tawaran yang tidak pernah terlintas sedikit pun dalam pikirannya. Yang pertama kali tahu tentang tawaran beasiswa ini adalah sang abang dan menganjurkannya untuk menerima tawaran beasiswa tersebut.

“Jujur aku merasa sangat senang tetapi di lain sisi aku khawatir dengan ibuku, apakah beliau akan mengizinkan aku untuk bersekolah di Luar Negeri, sedangkan umurku masih 15 tahun. Jangankan untuk bersekolah ke Turki, untuk bersekolah di Banda Aceh saja ibu ku sangat resah alias khawatir,” kenang Mustaqim.

Dia menguatkan tekadnya untuk memberi tau sang ibu tentang tawaran yang diberikan gurunya untuk melanjutkan Sekolah Menengah Atas (SMA) di Turki. Walaupun sedikit ragu dan khawatir. Dengan tekad kuat dia memberanikan diri untuk memberi tau ibunya tentang beasiswa di Turki.

Sejak kecil, dia memang berniat untuk menuntut ilmu jauh dari kampung asalnya, Mustaqim ingin merasakan bagaimana hidup mandiri.

Ibunya tentu sangat terkejut mendengar tawaran ini dan sangat khawatir mengizinkannya bersekolah di Turki.

Mustaqim dan rekannya Vera Hartina mengapit Bupati Bener Meriah, Ahmadi

Jawaban ibunya “tidak”. “Aku merasa sangat sedih, tapi apa daya aku adalah anak beliau yang melahirkan dan membesarkan aku. Jasa beliau tidak bisa di bayar dan digantikan. Aku tahu apa yang beliau inginkan pasti yang terbaik buatku,” ujar Mustaqim.

Setelah mendengar jawaban ibunya, sang abang yang mendukung keinginan Mustaqim mencoba untuk bicara melobi sang ibu. Dua hari setelah itu, akhirnya sang ibu mengizinkannya mengambil beasiswa ke Turki.

Pada tahun 2008 pertama kalinya Mustaqim injakkan kaki di Turki, umurnya masih 15 tahun. Dia bersekolah di Sekolah “Uluslararasi Imam Hatip Lisesi” yang artinya Sekolah Keagamaan Internasional Menengah Atas.

Murid-murid di sekolah ini berasal dari Negara-negara yang berbeda seperti Afganistan, Serbia, Montenegro, Bosnia, Bulgaria, Makedonia, Georgia, Pakistan, India, Thailand, Myanmar, Bangladesh dan beberapa Negara di Benua Afrika seperti Somalia, Nigeria, Ghana, dan lain-lain. Sistem pengajaran menggunakan bahasa Turki.

“Aku menyelesaikan studi di Imam Hatip Lisesi selama empat tahun,” ungkapnya.

Ibu dan anggota keluarga Mustaqim

Selesai dari Imam Hatip Lisesi, Mustaqim mencoba mendaftar beasiswa pemerintah Turki lagi, yaitu Yabanci Turkiye Burslari (YTB) yang artinya beasiswa Pemerintah Turki khusus buat mahasiswa-mahasiswa asing.

“Alhamdulillah aku lulus beasiswa Turki dengan jurusan Perencanaan Wilayah Kota (PWK) atau di kenal dengan jurusan Tata Kota atau Planologi di Universitas Selcuk yang terletak di kota Konya, Negara Turki bagian tengah. Aku memulai studi sarjana dari tahun 2012 hingga 2017,” ungkap Mustaqim.

Selesai sarjana (S1) dia berniat untuk melanjutkan Master (S2) di Turki lagi.

“Aku mencoba mendaftar beasiswa yang sama seperti beasiswa S1 ku yaitu YTB, tetapi rezeki ku belum di situ, aku tidak terdaftar di list mahasiswa yang mendapatkan beasiswa pemerintah Turki, tapi aku tidak putus asa, aku tidak ingin niat untuk bersekolah S2 ku tertunda dan terhalang oleh biaya, dan juga karena tidak mendapatkan beasiswa, niatku masih bulat,” ungkap Mustaqim.

Selama studi S1, dia rupanya bekerja sambil kuliah. Sempat bekerja menjadi pelayan restoran, translater, dan Turist Guide.

Dengan hasil dari kerja sambilan inilah Muataqim dapat melanjutkan studi S2 nya. “Mudah-mudahan aku dapat menyelesaikan S2 dalam waktu 2 tahun kedepan,” demikian tekad Mustaqim.

Siswa di Gayo Lues yang ikut bekerja membantu pekerjaan orangtuanya. (LGco_Khalis)

Siswa di Gayo Butuh Informasi

Pendidikan di Gayo, menurut Mustaqim tidak kalah jauh dengan pendidikan di tempat lain, hanya saja di Gayo ini kekurangan informasi buat pendidikan, seperti beasiswa di luar negeri. dan juga dikarenakan kekurangan biaya akhirnya keluarga tidak dapat menyekolahkan anak anaknya.

Namun hari ini, dalam amatannya mulai banyak informasi-informasi pendidikan yang sampai ke telinga masyarakat Gayo.

“Anak-anak Gayo banyak yang pintar dan kreatif, contohnya banyak mahasiswa Gayo yang berprestasi di luar, tidak hanya di dalam negeri tapi di luar negeri juga. Saya yakin kedepannya karena informasi pendidikan sudah mulai masuk ke Gayo jadi kesempatan anak-anak Gayo untuk menunjukkan keahliannya dan kreatifitasnya sangat terbuka luas, tinggal saja bagaimana kemauan dan tekad yang bersangkutan,” papar Mustaqim.

Kota di Gayo Butuh Penataan

Dimata sarjana Tata Kota atau di sebut dengan Perencanaan Wilayah Kota (Planologi) ini, baik di Gayo maupun kota-kota kebanyakan di Indonesia tidak tertata dengan baik.

Mulai dari jalan hingga saluran air tidak ditata dengan baik. “Setelah selesai kuliah di Turki, kelak saya ingin menerapkan ilmu-ilmu yang telah saya pelajari di Indonesia, khususnya Gayo. Saya ingin membangun suatu kota yang tertata seperti kota-kota di Eropa dan di Turki,” ujarnya.

Jalan KKA Kamp (Kem) kampung terakhir Bener Meriah sebelum perbatasan Aceh Utara. (LGco_Khalis)

Khusus Bener Meriah, Aceh Tengah dan Gayo Lues yang merupakan daerah pegunungan, menurut dia untuk penataan kotanya hal yang paling penting adalah jalannya.

“Jalan di Gayo harus diperlebar, terlebih jalan antar kota. Kota-kota di Gayo tidak jauh beda dengan kota-kota yang terdapat di Norwegia. Jalur antara satu kota ke kota yang lain sangat teratur dan rapi,” ungkapnya.

Dia ingin memperkenal kota-kota Gayo ke dunia. susah di dapat kota seperti di Bener Meriah, Aceh Tengah dan Gayo Lues.

“Udara yang kita hirup masih segar dan bersih. dan mempunyai pemandangan yang masih natural. Jika transportasi ke daerah pengunungan Gayo ini lancar, turis akan berbondong-bondong akan datang ke Gayo, terlebih ada kopi terbaik disana,” ungkap Mustaqim bernada optimis.

Wings Air dengan latar gunung Bur Ni Telong Bener Meriah. (Foto : Khalisuddin)

Efek dari banyaknya kunjungan itu, kata Mustaqim, maka akan banyak investor yang akan datang. Terlebih sudah didukung dengan Bandara Rembele (TXE) yang sudah didarati pesawat dengan 72 penumpang.

Dalam hal akses, langkah berikutnya berhubung banyak destinasi wisata diperlukan penambahan jalur selain jalur umum.

“Cepat atau lambat jalur rel kereta diperlukan di Gayo, jadi wisatawan yang datang akan mudah dan terkesan dengan perjalanannya, terlebih bisa minum kopi di kebun kopi,” demikian gagasan Mustaqim. [Khalis]

Lut Tawar dan kota Takengon dari Udara. (LGco_Khalis)

Comments

comments

Install Lintasgayo for Android Smartphone

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top