Opini Sara Sagi Terbaru

Mengulas 1 Tahun Penerbangan Komersil di Bandara Rembele

Oleh : Yan Budianto

Yan Budianto

KEMENTERIAN Perhubungan dalam hal ini Direktorat Jenderal Perhubungan Udara berkomitmen secara terus menerus berupaya meningkatkan peran moda transportasi udara di tanah air, sesuai dengan visi dan misinya bahwa bandara diharapkan akan dapat menjadi pintu gerbang kegiatan ekonomi, mendorong kegiatan industri, menunjang kegiatan perdagangan, kegiatan pariwisata serta sektor pembangunan lainnya, membuka isolasi daerah serta sebagai persiapan fasilitas penanganan bencana.

Demikian juga keberadaan Unit Pelayanan Bandar Udara (UPBU) – Rembele sebagai perpanjangan tangan pemerintah pusat di daerah akan berupaya meningkatkan peran pelayanan transportasi udara khususnya dari dan menuju wilayah tengah Provinsi Aceh sehingga diharapkan wilayah ini dapat terkoneksi keseluruh wilayah Nusantara bahkan sampai ke manca negara.

Salah satu peningkatan pelayanan ini antara lain ditempuh dengan meningkatkatkan fasilitas infrakstruktur bandara dimana pada saat ini panjang landasan pacu bandara Rembele 30 x 2.250 meter yang sudah dapat didarati pesawat Boeing 737 Series dan sudah melebihi untuk melayani pesawat ATR 72 yang hanya 1 kali penerbangan setiap harinya.

Fasilitas seperti ini biasanya dimiliki oleh bandara kelas II seperti bandara Cut Nyak Dhien Nagan Raya yang merupakan bandara kelas II saja hanya memiliki panjang landasan 30 x 1.800 meter sehingga keberadaan bandara ini telah meberikan nilai tambah untuk bandara Kelas III di Nusantara ini.

Dalam rangka meningkatkan pelayanan bandara, direncanakan tahun anggaran 2018 akan dibangun terminal kargo dan tahun 2019 sudah dapat mengangkut hasil pertanian yang layak diangkut dengan pesawat udara.  

Pada dasarnya tujuan pembangunan infrastruktur dari sebuah bandara adalah untuk meningkatkan laju pertambahan penumpang dan barang serta hilir mudiknya pesawat dari dan menuju bandara tersebut sehingga multi player efeknya akan terjadi bangkitan ekonomi dalam wilayah cakupannya.

Dalam tulisan ini kami mencoba mengulas data 1 tahun beroperasinya penerbangan komersil di bandara Rembele yang kiranya dapat menjadi bahan bagi kita semua untuk menyusun langkah-langkah terbaik kedepan dalam rangka memanfaatkan keberadaan bandara Rembele secara optimal di wilayah tengah Provinsi Aceh sebagai gerbang ekonomi.

Apabila kita telusuri sejarah perkembangan bandara perintis di Indonesia era sebelum tahun 2010, bahwa pada umumnya moda transportasi udara masih dilayani oleh penerbangan perintis dengan jumlah penerbangan antara 2 – 3 kali perminggu menggunakan pesawat Cassa 212 dan Cessna Grand Caravan sebagaimana bandara Rembele yang telah memulai penerbangan perintis sejak tahun 2004.

Tujuan Pemerintah untuk mensubsidi penerbangan perintis melalui dana APBN karena belum adanya operator penerbangan komersil terbang ke wilayah tersebut akibat biaya tiket mahal, maka Pemerintah mensubsidi kemahalan biaya tersebut sampai bandara tersebut mampu menjadi bandara yang diterbangi pesawat komersil.

Di awal tahun 2000an ekonomi Negara mulai membaik paska krisis moneter, perkembangan moda transportasi udara di Indonesia mulai beranjak naik juga sehingga perusahaan penerbangan nasional skala besar seperti Lion-Group dengan Wings Airnya dan penerbangan Garuda mulai merambah rute jarak pendek ke bandara perintis yang bandaranya dapat didarati pesawat berbadan sedang Jenis ATR 72 sehingga penumpang penerbangan ini dijadikan sebagai pengumpan untuk transit perjalanan lanjutan dalam group penerbangan yang sama.

Konsep penerbangan lanjutan ini telah memberikan perkembangan yang positif dalam bisnis penerbangan sehingga dalam kurun 7 tahun terahir ini mulai meningkat pula populasi pesawat berbadan sedang di tanah air sehingga beberapa fungsi bandara perintis kini telah berubah menjadi bandara komersil yang berkembang dengan baik seperti bandara Binaka Gunung Sitoli saat ini sudah mencapai 12-14 penerbangan per-hari, demikian juga bandara Silangit bahkan telah ada penerbangan langsung dari Jakarta dan Medan – Silangit yang sudah mencapai 6-7 penerbangan per hari dan Bandara Sibolga yang sudah 5-6 penerbangan per hari dimana sebelumnya bandara ini juga merupakan bandara perintis.

Konsep ini saat ini sudah mulai diikuti oleh penerbangan nasional lainnya seperti Sriwijaya dengan Nam airnya yang tentu dapat diprediksi kedepan dunia penerbangan akan lebih maju.

Demikian juga dengan keberadaan bandara Rembele dimana sejak tanggal 19 Agustus 2016 telah mulai melayani penerbangan komersil berjadwal 1 kali setiap hari dengan rute Kualanamu – Rembele (PP).

Berdasarkan data jumlah penumpang kurun waktu Agustus 2015 s/d Agustus 2016 jumlah penumpang dari dan yang menuju bandara Rembele menggunakan angkutan udara perintis jenis pesawat Grand Caravan kapasitas 12 penumpang tercatat sebanyak 2.134 penumpang.

Sementara data penumpang dari tanggal 19 Agustus 2016 s/d 19 Agustus 2017 jumlah penumpang dari dan yang menuju Rembele dengan pesawat komersil jenis pesawat ATR 72 kapasitas 72 penumpang operator penerbangan Wings Air tercatat jumlah penumpang 33.121 orang dan 221.928 kg bagasi dengan jumlah penerbangan sebanyak 347 kali (PP) dalam 1 tahun.

Adapun rincian jumlah penumpang Kualanamu – Rembele sebanyak 14.347 penumpang atau 57,42% dari ketersedian seat sedangkan Rembele – Kualanamu sebanyak 18.774 penumpang atau 75,15% dari ketersedian seat dan rata-rata keseluruhan adalah 66,28% keterisian tempat duduk.

Sedangkan untuk data penumpang penerbangan cakupan Wings Air khususnya di Provinsi Aceh secara rata-rata untuk bandara Cut-Nyak Dhien Nagan Raya sebesar 70%, bandara Lasikin Sinabang sebesar 65%, bandara Maimun Saleh Sabang sebesar 40% dan Malikul Saleh Lhok-Semawe pada kondisi akhir-akhir beranjak naik diatas 90% dengan 2 operator penerbangan yaitu Wings Air dan Garuda.

Berdasarkan pemaparan data tersebut diatas dapat dianalisa dan disimpulkan beberapa hal antara lain :

1. Apabila dibandingkan data pergerakan penumpang angkutan udara di bandara Rembele tahun 2016 dan 2017 telah terjadi kenaikan yang signifikan dari 2.134 penumpang menjadi 33.121 penumpang. Dari jumlah penumpang komersil tersebut secara hitungan bisnis penerbangan dalam posisi aman untuk keberlangsungan penerbangan komersil. Dalam hal ini program pemerintah telah berhasil mendorong fungsi bandara perintis menjadi bandara komersil.

2. Apabila kita lihat pergerakan penumpang dari Kualanamu – Rembele secara rata-rata hanya terisi 57,42% dari kapasitas tempat duduk yang tersedia. Hal ini kemungkinan disebabkan karena waktu keberangkatan pesawat pukul 08.00 Wib dari Kualanamu terlalu cepat sehingga kurang efisien terlalu pagi berangkat dari kota Medan dan koneksi penerbangan lanjutan terbatas yaitu hanya dari Jakarta sehingga menyebabkan jumlah penumpang berkurang dimana kondisi ini belum direspon dengan baik oleh operator penerbangan. Namun apabila kita bandingkan lagi dengan data penerbangan ke lokasi lain seperti ke Gunung Sitoli Nias yang berangkat lebih awal pukul 06.00 pagi atau ke Silangit dan Sibolga yang berangkat pukul 07.30 Wib, penerbangan dengan jadwal tersebut adalah jadwal penerbangan puncak (peak season). Dari kondisi ini menunjukkan bahwa keberangkatan penumpang menuju Rembele masih lebih cendrung merupakan keberangkatan biasa yang hanya memperpendek jam tempuh saja artinya bukan perjalanan bisnis yang benar-benar memanfaatkan waktu secara optimal.

3. Apabila kita lihat pergerakan penumpang dari Rembele – Kualanamu secara rata-rata tingkat keterisian penumpang mencapai 75,15% dari kapasitas tempat duduk yang tersedia dimana jam berangkat dari Rembele pukul 9.20 Wib. Apabila kita analisa jam keberangkatan tersebut merupakan waktu yang sangat idial karena apabila untuk tujuan bisnis ke kota Medan masih cukup waktu untuk segala urusan dan demikian juga untuk keperluan perjalanan lanjutan ke seluruh wilayah nusantara masih dapat terkoneksi penerbangan dalam satu hari. Dari kondisi ini menunjukkan fasilitas transportasi udara belum dimanfaatkan secara optimal dari segala lini.

4. Demikian juga pergerakan penumpang secara rata-rata masih  66,28%, dimana nilai ini masih dibawah rangking jumlah penumpang rata-rata bandara Cut Nyak Dhien dan Malikul Saleh. Disadari bahwa permintaan sebahagian besar masyarakat mengharapkan adanya penambahan frekwensi penerbangan sehingga akan lebih mudah memilih waktu terbang termasuk permintaan penambahan operator penerbangan seperti Garuda sebagai kompetitor sehingga harga akan bersaing. Permintaan yang demikian sah-sah saja namun data penerbangan ke Rembele belum mumpuni karena perlu diketahui bahwa hitungan bisnis dari operator penerbangan akan lebih memilih rute yang lebih gemuk. Dari kondisi peningkatan jumlah penumpang karena apabila tingkat keterisian tempat duduk mencapai diatas 95%, tentu secara bisnis operator penerbangan akan menambah frekwensi penerbangannya.                           

5. Apabila kita lihat sejarah penerbangan sebelum era tahun 2010 yang masih mengandalkan penerbangan angkutan perintis yang idak berbeda dengan kondisi bandara Rembele pada saat itu, namun dalam 7 tahun tarahir ini sebahagian bandara tersebut sudah berkembang dengan baik seperti bandara Binaka Gunung Sitoli, bandara Silangit dan bandara Sibolga. Tentunya peningkatan penerbangan di bandara ini terjadi akibat adanya bangkitan perekonomian yang meningkat juga di daerah tersebut yang perlu menjadi bahan kajian kita bersama.

Dari ulasan diatas dapat dilihat bahwa keberadaan fasilitas infrastruktur bandara sudah cukup memadai untuk melayani kondisi pelayanan penerbangan saat ini, namun sebaliknya laju peningkatan transportasi tidak berbanding lurus dengan ketersediaan fasilitas yang ada.

Berdasarkan hal ini menurut hemat kami yang menjadi fokus kita bukanlah peningkatan infrastrukturnya tetapi bangaimana meningkatkan fungsi bandara tersebut.

Disinilah dibutuhkan perencanaan langkah-langkah ke depan baik dari Pemerintah selaku regulasi pembangunan maupun pelaku usaha dan peran masyarakat sehingga dapat mendorong bangkitnya kegiatan industri, menunjang kegiatan perdagangan, pariwisata serta sektor pembangunan lainnya dengan memanfaatkan sumber daya alam yang ada.

Apabila ini dapat terwujud secara otomatis fungsi bandara juga akan meningkat pula dan UPBU – Rembele sebagai operatornya berkomitmen meningkatkan fasilitas bandara sesuai dengan kebutuhan perkembangannya.

Demikian ulasan ini disampaikan sebagai bahan pemikiran kita bersama. Amin.[]

*Kepala UPBU Rembele

Anniversary Pligth Wings Air di Bandara Rembele

Comments

comments