Free songs
Home / Inilah Gayo / Najuk Tari Bines

Najuk Tari Bines


Susi Susanti*

BERJULUK Negeri Seribu Bukit, kehidupan masyarakat di kabupaten Gayo Lues tidak terlepas dari yang namanya seni yang sudah mengakar dalam kehidupan masyarakat sampai saat ini. beberapa seni tari yang sangat melekat dengan kehidupan masyarakat daerah ini adalah  Saman dan tari Bines.

Walaupun Bines sangat melekat dengan masyarakat Kabupaten Gayo Lues, namun belum diketahui secara pasti kapan tari Bines ini mulai muncul.

Kemunculan Bines ini sendiri menurut para orang tua di Kabupaten Gayo Lues  diawali dengan munculnya tari Saman yang hanya boleh dilakoni oleh kaum pria, sehingga muncul tari Bines yang hanya dilakukan oleh kaum hawa.

Tari Bines ini  sendiri sering ditampilkan pada acara adat seperti acara Bejamu Saman, acara hiburan pada Sinte Murip (acara pernikahan maupun sunat rasul) dan acara menyambut tamu yang dihormati pada suatu kegiatan.

Walaupun eksistensi Tari Bines tidak sepesat Tari Saman, namun Tari Bines masih sering dilakukan sehingga dalam perkembangannya, Tarian Bines selalu ditampilkan sebagai pelengkap pada acara Bejamu Saman, terutama pada acara Bejamu Saman roa lo roa ingi, akan tetapi jika acara Bejamu Saman sara ingi, tuan rumah jarang menampilkan Tarian Bines tersebut.

Dalam menarikan Tari Bines yang mempunyai gerakan surang saring, rempak dan alih yang diaplikasikan dengan gerakan tepukan tangan atau tepok, kertek dan ayunan tangan tersebut tidak terlepas dari proses Najuk. Najuk adalah memberikan uang kertas yang dijepit dengan menggunakan lidi yang diselipkan di Sempol  (Sanggul-red) pada penari bines sebagai bentuk penghargaan dan apresiasi penonton kepada si penari bines yang besarannya tidak ditentukan. Berapa saja, tergantung keikhlasan masing-masing penonton. Alhasil, setumpuk uang yang dikumpulkan tersebut nantinya akan diberikan kepada penari dengan cara pembagian yang sama rata.

Pada acara Bejamu Saman, apresiasi atau pemberian uang tersebut tidak hanya terjadi pada saat proses Najuk, namun pada saat seberu melakukan proses Mah Batil yang biasanya dilakukan oleh dua orang seberu dengan membawa Batil dan perlengkapan Mangas (menyirih-red) kepada para tamu undangan.

Biasanya seberu yang dipilih untuk menghadapi para tamu undangan Bejamu Saman ini adalah seberu (gadis-red) yang ramah tamah, murah senyum, sopan dan pandai bicara (si bijak ken perawah), mempunyai sifat yang tertuang dalam petuah “Ike becerak ko enti sergak, buh lagu santan mulimak i bibir e tikel berbunge i delahe”.

Seberu tersebut akan membuat bahan-bahan untuk menyirih jika diminta oleh dengan-dengan  mereka (dengan adalah sebutan atau panggilan untuk saudara laki-laki kepada saudara perempuannya begitu juga sebaliknya) dan biasanya tamu undangan tersebut akan menyelipkan uang di dalam tempat bahan menyirih tersebut (Batil-red),

Najuk sendiri biasanya tidak hanya ditunggu oleh para penari tetapi para penonton yang lain juga, acara Najuk biasa ditunggu-tunggu masyarakat karena menjadi suatu hal yang menarik untuk dilihat.

Beberapa alasan tamu undangan melakukan najuk untuk Tari Bines pada acara Bejamu Saman tersebut biasanya karena:

Sebagai kegiatan yang menjembatani proses pendekatan seorang sebujang kepada seberu;

Sebagai bentuk apresiasi/penghargaan dan tanda terimakasih dari tamu undangan terhadap si penari;

Sebagai ajang menunjukkan status sosial dan gengsi dari tamu undangan terhadap tuan rumah acara Bejamu Saman;

Sebagai bentuk pujian kepada penari bines yang menarikan Bines dengan keceriaan tanpa mempraktekkan gerakan-gerakan yang erotis, mempunyai nilai humoris, semangat dalam gerakan yang terpadu dengan tepukan tangan yang dapat dilihat dari pola penyajian pertunjukan tarian bines

Pemberian uang pada penari tersebut terkadang tidak terlepas dari Sonek yang dilantunkan oleh Penyanyi Tari Bines (Penangkat.red). Sonek adalah sejenis pantun yang dilantunkan oleh penangkat bines yang alunan lagunya mengikuti alunan lagu pada Redet Bines. Biasanya Sonek berisi pujian, sindiran, permintaan, ungkapan isi hati dan lain sebagainya. Sehingga pada jalannya proses menari Bines, Penangkat sering memberikan Sonek kepada tamu undangan, seolah tamu undangan dituntut kesadarannya  untuk memberi imbalan kepada si penari.

Beberapa contoh Sonek yang dilantunkan penangkat Bines pada acara Bejamu Saman yaitu:

Ulung gadung muputer balik,
Ulung Pertik Gelahe Naru,
Ike sunguh ate dengan macik
Cuge peh kedik nengon ku aku
Jeroh dih ines ibun ken bangsi
Alus ni kulit male ken rebbana
Ken Seberu gayo enti dengan sangsi
Lemut berperi nge ari pudaha

Dari contoh Sonek diatas dapat dilihat bahwa Sonek dalam Tari Bines pada acara Bejamu Saman biasanya lebih menekankan pada hal yang bersifat keceriaan, humoris,kegembiraan dan semangat yang dituangkan dalam bentuk sindiran, pujian maupun ungkapan isi hati sehingga tak ayal, pada saat Penangkat Bines melantunkan Sonek, para penonton akan bersorak dengan riuh dan tak lupa penonton akan berteriak eheee huuuu pada saat-saat tersebut untuk menanggapi Sonek tersebut.

Berbeda dengan Sonek pada Bines pementasan atau menyambut tamu penting, isi Sonek biasanya lebih halus yang disesuaikan dengan Tema kegiatan.

Dalam perkembangannya, di beberapa tempat, proses Najuk tidak dilakukan pada Tari Bines pementasan dan Tari Bines untuk penyambutan tamu yang dihormati pada suatu acara. Apresiasi atau imbalan tersebut  biasanya diletakkan di dalam kotak atau memberikan sejumlah uang yang sebelumnya telah dimasukkan kedalam amplop yang selanjutnya diserahkan kepada pelatih bines (Tamu undangan yang hendak memberikan imbalan tidak bersentuhan fisik dengan penari Bines). Namun proses Najuk pada Tari Bines dalam acara Bejamu Saman masih tetap dilakukan sampai saat ini.[]

*Pemerhati seni, tinggal di Gayo Lues

Comments

comments

Install Lintasgayo for Android Smartphone

Comments are closed.

Scroll To Top