Free songs
Home / Features / 2019, Beranikah Partai Islam Berkoalisi ?

2019, Beranikah Partai Islam Berkoalisi ?


Oleh: Husaini Muzakir Algayoni*

Tokoh filsuf ateis Friedrich Nietzche menolak adanya eksistensi Tuhan, bukan hanya menolak ia bahkan menyerang Tuhan dan salah satu perkataan kontroversi yang ia lontarkan ialah “Tuhan itu sudah Mati.” Ia mengatakan demikian karena ia tidak percaya terhadap keberadaan Tuhan, berawal dari perkataan Nietzche tersebut maka penulis memberi judul tulisan kali ini dengan Partai Islam itu sudah mati.

Namun judul tersebut sepertinya tidak etis karena seolah-olah penulis tidak percaya kepada partai Islam dan kita lihat sampai sekarang partai Islam belum mati walaupun keeksistensiannya masih kalah dibandingkan dengan partai-partai lain seperti PDI-P, Golkar, Nasdem, Demokrat dan Gerindra. Oleh karena itu penulis memodifikasi judul tersebut dengan sebuah pertanyaan, Beranikah Partai Islam Berkoalisi ? pada pemilihan presiden 2019 mendatang.

Pemilihan presiden masih panjang namun balada-balada politik telah dimulai dengan tensi panas ditingkat pusat, politisi kelas elit saling serang dengan politisi lain dan dimedia sosial pun semakin tak dibendung dengan cuitan-cuitan yang saling menyerang oleh para pengikutnya masing-masing. Berbeda argument boleh saja apalagi berbeda partai tapi amat disayangkan jalur berpendapat itu telah keluar dari nilai-nilai norma kesopanan karena kata-kata penghinaan serta menebar kebencian lebih dikedepankan dalam berpendapat dan sungguh amat tragis lagi ketika berita-berita hoax semakin dipercaya bahkan menjadi referensi utama dalam berpendapat.

Dilihat dari pergerakan politik saat ini kemungkinan besar hanya ada dua kandidat kuat yang akan maju dalam pertarungan menuju istana yaitu Jokowi dan Prabowo, partai koalisi (PDI-P, Nasdem, Golkar, Hanura, PPP, PKB dan PAN) kemungkinan besar akan mendukung kembali Jokowi sebagai presiden; bahkan Golkar dan Hanura telah mendeklarasikan saat rapimnas partai beberapa waktu lalau. Begitu juga dengan Prabowo kemungkinan besar akan di usung oleh Gerindra dan PKS, sementara Demokrat belum jelas kemana arah mereka bermuara begitu juga dengan PAN walaupun sekarang sebagai partai koalisi namun sepertinya masih galau apakah tetap setia dengan koalisi atau sebagai lawan seperti dulu kala.

Kenapa Partai Islam tidak Mau Berkoalisi ?

Dengan dibubarkannya ormas Islam Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) oleh pemerintah di era Jokowi dianggap bahwa pemerintahan sekarang tidak pro terhadap Islam, padahal negara-negara Timur Tengah yang kental dengan nilai-nilai Islam terlebih dahulu membubarkan ormas ini dinegara mereka masing-masing. Kalaupun pemerintahan sekarang tidak pro terhadap Islam, kenapa partai-partai Islam tidak mau berkoalisi serta mencalonkan kader terbaiknya menjadi calon presiden dan wakil presiden. Kenapa oh kenapa?.

Penulis prihatin terhadap kondisi partai Islam saat ini yang masih terbelenggu oleh gila jabatan, nafsu pragmatis sehingga partai Islam tidak lagi mempunyai marwah sebagai partai kebangaan umat Islam sehingga nilai-nilai Islam maupun ideologi partainya telah luntur dan sungguh memalukan ketika politisinya terjerat kasus korupsi.

Partai yang berideologi Islam diperankan oleh PKS, PPP, PKB, PAN, PBB dan kini hadir partai baru yang pelopori oleh raja dangdut yang telah terjun kedunia politik siapa lagi kalau bukan bang H. Rhoma Irama dengan partainya Partai Islam Damai Aman (Idaman). Partai Islam seharusnya menjadi contoh kepada partai nasional dan para politisinya menjadi tauladan kepada politisi lainnya sehingga partai Islam disegani dan bisa meraih kejayaan ditengah umat.

Partai Islam masih kalah saing dengan partai Nasional lainnya, partai Islam tidak mampu mendongkrak suara umat Islam. Menurut penulis partai Islam telah keluar dari rel yang sebenarnya, mereka tidak memperjuangkan umat tapi hanyalah mencari jalan untuk mendapatkan jabatan dari partai itu. Para politisinya tidak ada yang menjadi tauladan bagi politisi lainnya bahkan kalah saing dengan politisi dari partai nasional. Para petinggi partai Islam ego terlalu tinggi dan tidak mau mengalah sehingga partai Islam tidak pernah bersatu menjadi satu koalisi, bahkan saling sikut-menyikut antar partai Islam itu sendiri. Kondisi-kondisi inilah yang membuat partai kebanggaan umat Islam hanya menjadi bayangan dan menjadi anak buah dibawah partai nasional.

Partai Islam mana saja yang menjadi anak buah dari partai nasional, para pembaca bisa menilainya sendiri dan begitulah kondisi partai Islam saat ini.

Partai Masyumi Inilah Partai Islam yang Sebenarnya

MASYUMI (Majelis Syuro Muslimin Indonesia), partai politik Indonesia pasca merdeka yang dibentuk melalui kongres Umat Islam Indonesia di Yogyakarta tanggal 7 dan 8 November 1945. Masyumi merupakan partai Islam yang tidak haus kekuasaan dan memang tidak mengejar duniawi karena kesederhanaan memang salah satu nilai yang menjadi identitas kepribadian Masyumi. Hal ini dicatat misalnya oleh sejarawan AS George Mc turnan Kahin. Dalam tulisannya di Majalah Media Dakwah (1995), Kahin menyatakan bahwa Pemimpin Masyumi Mohammad Natsir adalah seorang negarawan yang rendah hati dan sederhana, yang tidak meninggalkan kekayaan kepada anak-anaknya. Suara Islam. Masih dari Suara Islam menurut pengamat politik dari Lembaga Pengetahuan Indonesia (LIPI), kunci kebarhasilan Masyumi adalah memberikan solusi bagi permasalahan-permasalahan masyarakat. Misalnya dalam mewujudkan Clean Government. Pemerintahan yang bersih, niscaya butuh keteladanan para pemimpin untuk hidup sederhana dan tidak tergoda kuasa.

Inilah sedikit sekilas tentang Partai Masyumi yang didirikan tahun 1945 penuh dengan nilai-nilai integritas, sederhana dan tidak tergoda dengan duniawi, yang mana lahirnya Masyumi ini untuk menyelesaikan masalah ditengah umat dan menurut pandangan yang berkembang pada waktu itu, suatu masa yang besar dengan tidak dipimpin sebuah partai politik yang berasaskan Islam akan mudah jatuh ke golongan yang menentang penerapan syari’at dalam kehidupan bernegara pada pascakemerdekaan.

Pada zaman serba materi ini sulit rasanya ada partai seperti Masyumi dan sulit rasanya mendapatkan sosok seperti “Mohammad Natsir” pemimpin Masyumi yang penuh dengan kesederhanaan. Dan para politisi Islam sekarang telah terjerumus kedalam lembah materialis dan mengejar kemewahan duniawi serta jabatan dan berbagai macam posisi yang strategis dilingkungan pemerintahan bukan lagi mengurus umat.

Penulis memberikan judul diatas dengan Beranikah Partai Islam Berkoalisi ?, berawal dari kata pertanyaan; jadi disini penulis ingin ada jawaban dari para pembaca maupun dari pengamat politik wabil khusus jawaban yang konkret dari politisi partai Islam itu sendiri. 2019, Beranikah Partai Islam Berkoalisi ?.

*Penulis: Kolumnis LintasGAYO.co

Comments

comments

Install Lintasgayo for Android Smartphone

Comments are closed.

Scroll To Top