Free songs
Home / Features / Di Luzon Coldirella Philipina, Gayo Artinya Menang

Di Luzon Coldirella Philipina, Gayo Artinya Menang


Oleh : Salman Yoga S*

Luzon adalah sebuah pulau terbesar di Philipina setelah pulau Visayas dan pulau Mindanao. Keberadaannya cukup berpengaruh dalam bidang ekonomi dan politik di negara itu, karena ibu kota negara Philipina – Manila berada di pulau tersebut. Dari hasil penelusuran beberapa refrensi pulau ini memiliki populasi 48 juta jiwa pada tahun 2010, yang kemudian menjadikannya sebagai pulau berpenghuni terbesar kedua di Asia Tenggara setelah pulau Jawa.

Artinya Luzon adalah salah satu pulau terbesar ketiga di wilayah Asia dengan jumlah penduduk yang cukup padat setelah pulau Jawa di Indonesia, yang daratannya memiliki ketinggian 2.922 meter di atas pemukaan laut (Mdpl) dan dihuni oleh delapan kelompok etnik. Yaitu kelompok etnik Aeta, Bicolano, Ibanag, Igorot, Tagalog, Ilokano, Kapampangan dan Pangasinan.

Penundaan pulang ke Takengon sebagai tempat tumpah-curah darah berkarya untuk menyaksikan penampilan teater dari sejumlah seniman yang berasal dari Dataran Tinggi Coldirella di Gedung Sultan Selim II pada hari Rabu, 2 Agustus 2017, ditambah dengan undangan Fauzan Santa dan Azhari dari Komunitas Tikar Panda Banda Aceh sungguhlah tidak sia-sia.

Banyak even besar yang membuat selera menulis jadi turun, dan hanya sedikit even kecil yang meninggikan spirit menulis.

Setidaknya aku punya momen langka dalam mengkonfirmasi catatan perjalanan yang bersentuhan dengan sejarah Gayo, tentang informasi yang disampaikan oleh seorang lelaki setengah baya di kota Hatyai Thailand beberapa tahun silam tentang kemiripan sebahagian kecil kebudayaan dan pola hidup masyarakat Gayo dengan penduduk Coldirella Philipina.

Pointernya cukup terang dan sempat menjadi polemik di tengah masyarakat. Yaitu terkait makna kata Gayo dan hubungannya dengan bangsa/etnik lainnya di dunia.

Tentu atau bukan sebuah kebetulan belaka barangkali, jika seorang lelaki setengah baya di kota Hatyai Thailand yang datang menyapa dan memberi informasi tentang sejumlah titik peradaban yang mirip dengan Gayo, justru terjadi setelah perhelatan International Conference On Linge Gayo Kingdom (ICLK) di negara tetangga Malaysia usai (Baca; http://lintasgayo.co/2017/08/02/bertemu-orang-gayo-di-kota-hatyai-thailand).

Bagiku ini adalah sebuah keajaiban dalam “pencarian”, atau semacam petunjuk untuk mengarah kepada sebuah “kebenaran”, sebagaimana keajaiban-keajaiban dan hal-hal yang berbau mistis di luar nalar lainnya juga kerap terjadi dan kualami dalam sepanjang proses penelitian dan penulisan biografi ulama, pejuang juga pemimpin Tgk. H. Ilyas Leube selama berbilang tahun.

Pementasan Teater Coldirella Philipina

Kali ini rehat sejenak, menikmati pementasan teater yang dimainkan oleh puluhan aktor dari Pulau Luzon Philipina. Tepatnya dari Dataran Tinggi Coldirella yang sehari-harinya tinggal di perkebunan kopi. Meski berkesenian terkesan sebagai sesuatu yang menyenangkan dan mengandung nilai estetika, tetapi lebih dari itu, di dalamnya termuat hal-hal besar yang hanya dapat ditangkap oleh orang-orang tertentu saja.

Sajian pertunjukkan seniman-seniman dari dari Dataran Tinggi Coldirella mengisahkan tentang kehidupan rakyat jelata pada era demam emas yang telah mulai dirintis di kawasan itu sejak penaklukan bangsa Spanyol pada abad ke-16. Fenomena kekayaan alam yang menjulingkan mata kavitalis ini lalu beralih tangan kepada perusahaan multinasional pada masa negara Philipina dijajah oleh negara Amerika Serikat. Aktivitas dan keberadaan penambangan ini selama berabad-abad menjadi ancaman serius terhadap lingkungan alam dan kehidupan para petani.

Naskah teater yang ditulis berdasarkan wawancara para aktor dengan para penambang rakyat, yang mengambil alih pertambangan emas dari perusahaan-perusahaan multinasional setelah Perang Dunia (PD) Ke-II berakhir.

Namun kemudian rakyat kembali harus berhadapan dengan fakta kehancuran lingkungan akibat pencemaran bahan-bahan kimia selama penambangan berlangsung. Adalah Setsu Hanasaki dan Toshihisa Yoshida dua orang seniman berkebangsaan Jepang selaku sutradara yang kemudian meramu dan meraciknya menjadi sebuah naskah pertunjukkan panggung.

Dengan berlatar kisah nyata hasil wawancara para aktor dengan para penambang rakyat ini, naskah dengan tajuk “Balitok” sebelum dipersembahkan di Banda Aceh telah lebih dahulu dipentaskan di Manila dan beberapa kota lainnya di Phlipina.

Perlawanan dan perjuangan rakyat dalam menentang penambangan yang merusak lingkungan hidup dan alam tempat mereka tinggal membuahkan hasil dengan menumbangkan nilai-nilai kavitalistik dan bentuk-bentuk kolonialis lainnya dalam kehidupan sosial. Atas kemenangan ini sekumpulan (rakyat) seniman yang berasal dari Pulau Luzon Dataran Tinggi Coldirella itu merayakannya dengan berseru gembira sambil meneriakkan kata-kata;

Gayo, Gayo, Gayo, Gayo, Gayo !!!

Beberu Pulau Luzon Dataran Tinggi Coldirella Philipina

Kesadaran dan kearifan lokal masyarakat setempat menyatakan yang perlu ditambang dan digali sedalam-dalamnya adalah balitok (emas) yang tertimbun dalam jiwa-jiwa manusia, yang menghitam dalam kehidupan nyata. Emas-emas dalam jiwa-jiwa itulah yang lebih sering mengabur kuningnya, mengabu-abu putihnya, meredup-redup cahayanya akibat sebuah pengingkaran akan kata hati. Dan ini kerap terjadi dalam kehidupan masyarakat umum dengan istilah agama disebut dengan pengingkaran dan kemunafikan.

Dalam bahasa komunikasi sehari-hari masyarakat di Pulau Luzon Dataran Tinggi Coldirella Philipina, kata “Gayo” mempunyai makna dan arti “Menang”.

Gayo, Gayo, Gayo, Gayo, Gayo !!!

Menang, Menang, Menang, Menang, Menang !!!

Menang dalam menghadapi keserakahan, kezaliman penguasa dan pengusaha, menang dalam melawan kezaliman komunal dan sentimen, menang dalam menaklukkan kepentingan diri untuk kolektivitas yang setara. Menang dalam mengalahkan diri sendiri sebagai wujud qana’ah, dan menang yang sebenarnya adalah mementingkan kemaslahatan dan keberpihakan pada nurani. “Gayo”.[]

Comments

comments

Install Lintasgayo for Android Smartphone

Comments are closed.

Scroll To Top