Free songs
Home / Features / Membebaskan Pikiran dari Belenggu Kejumudan

Membebaskan Pikiran dari Belenggu Kejumudan


Oleh: Husaini Muzakir Algayoni*

Golden Age kata itu pernah disematkan kepada umat Islam karena masa-masa ini Islam menjadi pusat ilmu pengetahuan sehingga peradaban Islam ketika itu berkembang keseluruh penjuru dunia sedangkan dibelahan dunia lain yaitu Barat sedang mengalami masa kegelapan oleh karena itu orang-orang Barat ketika itu belajar kedunia Islam untuk mengejar ketertinggalan mereka.

Golden Age sudah nampak ketika integrasi dua budaya besar yakni Yunani dan Islam, penerjemahan filsafat Yunani kedalam bahasa Arab pada masa Dinasti Abbasiyah (Khalifah al-Ma’mun) menjadikan Islam berkembang dalam bidang ilmu pengetahuan dan berhasil membangun perpustakaan fenomenal dalam dunia Islam yaitu Bait Hikmah di Baghdad. Dan pada masa ini juga Aliran Mu’tazilah menjadi mazhab Negara resmi yang lebih mengedepankan akal karena Mu’tazilah sangat tertarik terhadap filsafat.

Selanjutnya lahir pemikir-pemikir Islam yang menjadi rujukan orang-orang Barat seperti al-Farabi (al-Pharabius) yang disebut guru kedua setelah Aristoteles (guru pertama), Ibn Sina (Avicenna) dan Ibn Rusyd (Averros) serta filosof-filosof lain yang mempunyai peran dalam perkembangan ilmu pengetahuan. Satu hal yang perlu dicatat disini ialah Islam mengalami perkembangan dalam ilmu pengetahuan karena mengedepankan akal dan menggunakannya dengan sebaik-baiknya yang merupakan anugerah Allah yang paling luar biasa.

Dalam perkembangan selanjutnya Islam mengalami kemunduran karena tertutupnya pintu-pintu Ijtihad terhadap akal sehingga akal pikiran mengalami kejumudan bahkan melahirkan taqlid sementara Barat yang dulunya mengalami masa kegelapan berubah kemasa pencerahan setelah ilmu-ilmu Islam yang pernah berjaya dulu mereka ambil dan menerapkannya dalam perkembangan pengetahuan mereka. Khususnya pemikiran Ibn Rusyd sangat berperan dalam perkembangan laju pengetahuan di Barat.

Tertutupnya pikiran (jumud) merupakan salah satu faktor yang melahirkan keterbelakangan atau mundurnya umat Islam dalam kancah ilmu pengetahuan, bukan hanya dalam ilmu pengetahuan saja umat Islam mengalami kemunduran dalam bidang ekonomi misalnya umat Islam mengalami kemiskinan, penindasan dan lain sebagainya. Belum lagi orang-orang Orientalis yang mengkaji Islam secara gigih untuk meruntuhkan peradaban Islam sementara umat Islam terlena dengan nostalgia-nostalgia Islam masa lalu.

Memang bukan hanya faktor kejumudan membuat Islam mengalami keterbelakangan karena masih banyak faktor-faktor lain seperti para penguasa Islam lebih mementingkan ambisi politik untuk mengejar kekuasaan, runtuhnya nilai-nilai moral dalam kehidupan, fanatisme terhadap satu golongan/mazhab/aliran sehingga melahirkan perpecahan antar umat Islam itu sendiri dan masih banyak faktor-faktor lain yang menyebabkan umat Islam mengalami keterbelakangan.

Oleh karena itu, tugas kita sebagai generasi Islam khususnya orang-orang yang bergelut dibidang pendidikan untuk sekiranya tidak berada dalam kejumudan, membuka wawasan pengetahuan secara luas, membuka pikiran dengan menggunakan akal sebaik-baiknya karena Islam memberikan peran yang sangat besar kepada akal untuk terus berpikir sehingga kita tidak berada dalam taqlid yang menghambat laju pengetahuan.

Muhammad Abduh seorang pemikir pembaharu dari Mesir mengatakan “Al-Islamu mahjuubun bilmuslimin”. Yang artinya, Islam tertutup oleh umat Islam. Islam yang akan kaya dengan ilmu pengetahuan namun tertutup oleh umatnya sendiri sehingga mengalami kemunduraan dan keterbelakangan, kenapa terutup ?. Pertanyaan ini di kembalikan kepada kita masing-masing untuk menjawabnya.

Kemudian disisi lain, Islam menyuruh kita untuk membaca karena dengan membaca inilah titik awal dalam perkembangan ilmu pengetahuan namun kita semua tahu bahwa kita dalam minat membaca sangat rendah. Semakin banyak kita membaca maka semakin banyak kita tahu sehingga kita terbebas dari belenggu-belenggu kejumudan namun kenapa sebahagian kita begitu kolot alias jumud dalam berpikir itu dikarenakan kita sedikit membaca oleh karena itu kita hanya sedikit yang tahu.

Sudah saatnya generasi Islam untuk bangkit dari belenggu-belenggu kejumudan dan menampakkan nilai-nilai Islam yang sesungguhnya seperti yang pernah dilakukan oleh para filosof-filosof Muslim terdahulu, dengan membuka wawasan seluas-luasnya dan meningkatkan minat membaca sehingga meminimalisir kebodohan dan menjadikan eksistensi khazanah ilmu pengetahuan Islam sangat luas dan indah untuk kita pelajari.

Kemudian dengan membebaskan pikiran dari belenggu kejumudan maka kita tidak mudah diserang oleh provokasi yang dapat melahirkan perpecahan, tidak mudah diserang oleh ideologi-ideologi yang tidak benar yang disebarkan untuk kepentingan kelompok-kelompok tertentu, dengan membebaskan pikiran dari belenggu-belenggu kejumudan maka kita telah mengambil sebahagian kecil dalam mematahkan keterbelakangan atau kemunduran umat Islam dalam bidang ilmu pengetahuan.

*Penulis: Mahasiswa Prodi Aqidah Filsafat Islam. Blogger dan Kompasianer.

Comments

comments

Install Lintasgayo for Android Smartphone

Comments are closed.

Scroll To Top