Opini Sara Sagi Terbaru

Sejarawan, Bukan Penjaja Kekuasaan

Oleh Rizal Fahmi, MA

SEJARAH adalah sebuah peristiwa masa lalu, sekarang esok dan masa akan datang yang dialami peradaban manusia. Sejarah tidak terlepas dari peristiwa apa yang sedang terjadi, setiap kisah dimensi waktu yang selalu mencatatnya. Catatan ini bukan sebuah catatan biasa yang ditulis setiap lembaran  yang dimiliki setiap peradaban umat manusia. Terkadang sejarah dianggap sebahagian orang itu tidak penting karena sudah berlalu, akan tetapi sebahagian lagi menganggap ini perlu melebihi dari penting karena banyak mengandung nilai moral, perjuangan, pendidikan, dan spritual. Terlepas penting atau tidaknya sebahagian negara maju masih menganggap penting sejarah tersebut untuk dipelajari bahkan di dokumentasikan, karena jatuh bangunnya sebuah bangsa harus dicatat karena supaya mengetahui setiap rotasi peradaban bangsa yang berjalan, bukan hanya sebatas bualan maupun hikayat dan dongeng dari sebuah negeri antabarantah.

Sejarah mengajarkan kejujuran setiap pribadi maupun kelompok terhadap perjalanan kehidupannya, akan tetapi sejarah juga menjadi tidak jujur ketika sudah memiliki unsur kepentingan yang membelokkan fakta atas penjelasan sejarah oleh sejarawan upeti. Maksud sejarawan upeti ini adalah sejarawan yang menulis tentang bagaimana perintah dan titah penguasa. Tentunya perintah kekuasaan ini adalah untuk membenarkan ataupun legitemasi kekuasaan yang semakin nampak birahi terhadap kezalimannya. Bahkan Napoleon Bonaparte pernah mengungkapkan “sejarah adalah kebohongan yang disetujui” (Sartono Kartodirdjo, 1990: 22).

Ungkapan Napoleon ini sering kita jumpai pada ruang fenomena sosial, terutama dari sudut kekuasaan penguasa sering mengeksploitasi sejarah untuk kepentingan legetimasi maupun kontinuitas kekuasaan sehingga sejarah sering dihadirkan ke wacana publik adalah sejarah syarat kebohongan. Banyak sekali penguasa, setelah berkuasa, menjadi motivator utama menjadi penyusunan sejarah untuk kepentingan dan kelanggengan kekuasaannya. (Juraid Abdul Latief, 2006 : 56-57). Berdasarkan argumen tersebut berarti sejarah ditulis oleh orang yang tidak berkecimpung dengan kesejarahan melainkan sejarawan yang tandus dengan keilmuannya dan moralitasnya.      

Kelaziman atas pemutar balik fakta inilah yang membuat sebuah bangsa ini melahirkan sydrom ketidak percayaan pada diri sendiri, sesama maupun penguasa sendiri. Kamuflase yang selalu diberitakan, diceritakan dan ditulis melahirkan sebuah tulisan yang manipulatif. Akan tetapi selera menulis sejarah penuh pujian yang hanya mengandung “kemunafikan” menafikan kebenaran ini yang selalu disuguh generasi bangsa, jika beberapa generasi teracuni oleh sejarah yang ditulis oleh sejarawan penjaja pada kekuasaan, maksud dari penjaja ini adalah menawarkan diri pada penguasa untuk menulis sejarah sesuai keinginan penguasa, tentunya membuat narasi tumpul akan sebuah kebenaran terhadap setiap peristiwa.

Abdi Sejarawan

Semestinya sejarawan sebagai mufti kekuasaan yang menulis dengan benar akan kisah bangsanya dan nasib peradabannya supaya tidak kabur bagi generasi masa depan, jika penulisan sejarah yang dibaca ribuan umat manusia dan bahkan jutaan itu hanya berisi kebohongan belaka ini tentunya melahirkan generasi yang gemar membaca kisah kebohongan dan akan menulis kembali kisah ini sampai menjadi warisan sebuah bangsa.

Menulis sejarah yang benar harus menghilangkan fikiran dari unsur subjektif “perasaan” maupun kepentingan yang memiliki intrest tertentu terhadap yang ditulis. Sebahagian sejarawan yang belum memiliki nyali untuk menempatkan ilmunya pada kedudukannya dan moralnya di atas kepentingan, sehingga tampak sejarah yang ditulis itu dipertanyakan keabsahannya bahkan karya sejarah disetarakan dengan tulisan karangan biasa tentang masa lampau. Selain itu juga fenomena krusial generasi sekarang banyak tidak faham mengenai pelajaran sejarah, apalagi di sekolah maupun lembaga pendidikan lain yang diajarkan guru sejarah hanya saja bagaimana untuk menghafal peristiwa masa lalu, bukan menganalisa kronologis peristiwa masa lalu, bayangkan ketika tulisan sejarah yang diajarkan pada murid seperti itu, ini ibarat sebuah analogi rokok kretek yang tanpa filter tentunya bahaya candu nikotin yang melekat pada dada dan paru-paru sulit dihilangkan.

Sejarawan ternama Herodotus masa Yunani  dikenal sebagai pelopor perubahan bentuk penulisan sejarah yang awalnya berbentuk syair-syair menjadi sebuah prosa. Ia adalah orang Yunani pertama yang menyusun cerita sejarah dengan tujuan memberikan penjelasan hubungan antara fakta. Selain itu, ia juga berusaha menghilangkan kesan mitos dalam penulisan sejarah. Ia rela melakukan perjalanan jauh melintasi berbagai negara hanya untuk mendapatkan data-data sejarah yang mendekati kebenaran. Dalam menulis sejarah, ia menggunakan sumber sejarah lisan, testimoni, prasasti-prasasti. Ia juga jarang merujuk kepada para dewa-dewa dan mitos serta legenda-legenda lainnya.

Herodotus memulai perjalanannya setelah  lari dari penguasa baru Halicarnassus. Pada pasca Ratu Artemesia meninggal, Halicarnassus diperintah oleh cucunya yang bernama Lygdamis. Lygdamis tidak disenangi oleh rakyatnya karena memerintah dengan sewenang-wenang. Hal itulah yang kemudian menyebabkan Herodotus ingin menggulingkan pemerintahan Lygdamis yang pada akhirnya mengalami kegagalan. Kegagalan inilah yang memaksa Herodotus lari dari tanah kelahirannya dan mencari perlindungan di kota Samos.

Melihat keteguhan Herodotus dalam menulis sejarah  sesuai dengan fakta yang benar tidak berpihak pada penguasa sehingga ia harus terusir dari negerinya demi menyelamatkan peradaban bangsanya, tanpa harus ia menjadi penjejal penguasa yang manut atas perintah penguasanya.Seharusnya sejarawan kita pada saat ini paling tidak bisa mengambil contoh Herodotus sebagai bapak sejarah dalam melakukan penulisan sejarah.[]

Penulis adalah Staf Pengajar Fakultas Adab Jurusan Sejarah dan Kebudayaan Islam,serta Peminat Isu  Sosial dan Politik

Comments

comments