Free songs
Home / Opini / Sekolahkan Anak Orang Gayo Jadi Miskin

Sekolahkan Anak Orang Gayo Jadi Miskin


Oleh. Drs. Jamhuri Ungel, MA

Drs Jamhuri, M.Ag, Ketua KNA Banda Aceh (foto:tarina)

Gambaran Pendidikan
Semangat atau minat menyekolahkan anak bagi orang Gayo sejak dari dulu sudah dikenal sangat gigih, prinsip yang dianut rela menjual harta demi untuk menyekolahkan anak, bangga berhutang kalau memang itu untuk belanja anak-anak sekolah dan orang yang memberi hutan juga bangga kalau memang ia membantu orang demi pendidikan anak.

Semangat ini masih tertanam dalam diri orang tua, dengan bukti banyaknya orang Gayo yang bersekolah tidak hanya di Gayo sebagai tanah kelahiran tetapi juga di seluruh Aceh bahkan ke seluruh Indonesia.

Pada tahun 1980-an sampai akhir tahun 1990-an hampir secara keseluruhan Perguruan Tinggi baik negeri maupun swasta di Banda Aceh didominasi oleh orang Gayo, mereka kuliah di berbagai jurusan yang ada, kendati pada saat itu juga pola pikir orang tua dan mereka yang sekolah dan kuliah sama yaitu sekolah/kuliah untuk mencari kerja dan kalau dalam memilih jurusan juga adalah jurusan yang menurut masyarakat mudah mendapat, demikian juga dengan rumah-rumah kost hampir setiap lorongnya dihuni oleh mahasiswa Gayo.

Pada tahun-tahun itu hampir semua mahasiswa  yang kulian di Banda Aceh menamatkan sekolah tingkat atas (SLTA) nya di Gayo dan kalaupun ada yang menamatkan sekolahnya di SLTA nya di banda Aceh atau diluar Gayo tidak banyak.

Ada yang hal yang menarik bila kita perhatikan, kalau mereka yang sekolah SLTAnya di Banda Aceh kualitasnya lebih bagus, sehingga bisa kita lihat beberapa orang yang bekerja di Provinsi merupakan alumni SLTA di Banda Aceh, kendati tidak kurang juga jumlah mereka yang tamat dari Gayo mendapat tempat dalam bekerja di Banda Aceh.

Gambaran di atas menunjukkan bahwa orang tua pada saat itu masih merasa yakin dengan kualitas lembaga pendidikan tingkat SD/MI, SLTP dan SLTA yang ada di Gayo, kalau mahasiswa yang kuliah menganggap kuliah di perguruan tinggi merasa berat untuk mengikuti mata kuliah yang diajarkan oleh dosen, namun dalam tempo waktu yang tidak lama mereka mampu menyesuaian diri, biasanya paling lama setahun (dua semester) setelah itu mereka sudah mampu bersanding dengan mahasiswa yang berasal dari daerah lain.

Sekarang fenomenanya terbalik, para orang tua lebih yakin dan percaya kalau mutu pendidikan tingkat SLTP di Gayo tidak lagi menjanjikan sehingga kebanyakan orang Gayo menyekolahkan anaknya ke luar daerah minimal ke Bireuen dan Lhok Seumawe. Dan juga daerah-daerah lain, yang pada intinya mereka masuk ke sekolah yang mengajarkan pendidikan agama dan meningkatkan pengetahuan bahasa.

Alasan lain yang membuat orang tua menyekolahkan anaknya ke SLTP dan SLTA di luar Gayo adalah karena rasa takut kalau anaknya tetap sekolah di Aceh Tengah dan Bener Meriah tidak dapat menyelesaikan pendidikannya pada jenjang wajib belajar tersebut.

Alasan yang menimbulkan rasa takut dan khawatir adalah karena rusaknya moral di suluruh level masyarakat. mulai dari orang tua samapai kepada anak-anak, mulai daro orang terdidik sampai kepada masyarakat biasa.

Miskin Karena Sekolahnya Anak
Saya teringat ketika tahun 1980-an dan 1990-an kuliah di Banda Aceh, setiap bulannya mendapat kiriman dari orang tua di kampung. Kiriman kami berupa uang, beras dan sayur-sayuran dan buah-buahan yang dibawa dengan Bus Aceh Tengan. Semua kiriman itu habis kami konsumsi setiap bulannya dan uang yang dikirim juga habis untuk belanja kebutuhan sehari-hari dan kebutuhan kuliah.

Saat itu masyarakat belum mengenal fungsi Bank dapat mengirim atau mentransper uang, kalaupun fungsi itu ada tetapi tidak diketahui oleh banyak orang, mungkin yang mengetahuinya hanya orang-orang tertentu saja. Jangankan uang untuk biaya kuliah di luar Gayo, gaji pegawai saja setiap bulannya harus diambil ke Lhok Seumawe.

Jadi untuk Gayo bisa kita katakan kalan perkembangan teknologi dalam bidang keuangan baru berkembang di Gayo.

Sehingga pada saat itu bila kita lihat dari sisi uang, maka pada saat itu belanja yang dikirim kepada mereka yang belajar di luar daerah tidak hanya mengirin nilai uang tetapi juga fisik dari uang itu sendiri, karenanya tidak banyak uang yang berputar di Gayo dan uang yang ada habis lari keluar Gayo inilah diantara penyebab kemiskinan pemerintahan yang ada di Gayo.

Upaya untuk mempertahankan peredaran uang di Gayo dilakukan dengan benririnya Bank-Bank, sehingga dengan adanya Bank maka yang dikirim keluar (perantauan anak) tidak lagi fisik dari uang tetapi nilainya sedangkan fisiknya tetap tinggal di Gayo.

Bila kita amati secara seksama kasus ini berulang kembali ketika banyak anak-anak SLTP/SLTA sekolah ke luar daerah.

Bila masing-masing kita menghitung berapa banyak anak-anak orang yang berasal dari Gayo sekolah di luar, seperti banyak yang mengatakan kalau siswa pesantren modern Az-Zahra (Benyot) Bireuen 80 persennya berasal dari Gayo.

Kalau muridnya 700 orang dan 80 persen dari 700 adalah 560 orang adalah orang Gayo. Maka bila kita hitung kita hitung biaya sekolah mereka perorang Rp. 500.000,- (lima ratus ribu rupiah) maka uang yang harus dikeluarkan untuk setiap bulannya adalah Rp. 280.000.000,- (dua ratus delapan puluh juta rupiah).

Itu baru untuk satu pesantren. uang demikian itu pasti keluarnya setiap bulan ditambah lagi dengan biaya kunjungan orang tua yang mungkin satu atau dua kali sebulan.

Tidak hanya pesantren itu, masih banyak pesantren-pesantren lain di Aceh, di Medan dan tempat lainnya. lalu pertanyaannya berapa banyak uang orang Gayo yang haru keluar setiap bulannya.

Secara sederhana tidakkah dapat kita katakan sekolahnya anak (keluar dari Gayo) merupakan sebab miskinnya orang Gayo. Kalaulah kita sebutkan secara lebih sederhana lagi, hasil kebun kopi yang didapat setiap bulannya tidak pernah lamarsimpan di kantong orang tua, hasil panen tomat yang baru dijual berapa lama bisa lekat di tangan orang tua. Sedangkan hasil kebun kopi yang didapat hampir tidak sampai hitungan satu juta perbulannya demikian jugan dengan hasil timat dan lain-lainnya.

Keluar dari Kemiskinan
Karena menyekolahkan anak sebagai satu penyebab kemiskinan orang tua, maka harus dicariak solusi untuk itu. Sebagaimana telah disebutkan di atas bahwa banyaknya anak-anak keluar daerah Gayo untuk melanjutkan sekolah, maka sekarang bagaimana caranya supaya anak-anak tidak lagi sekolah keluar daerah mdan semua dana yang dikeluarkan selanjutnya tetap berada di tangan para orang tua dalam waktu yang lama.

Kalau sebelumnya uang hanya mengiman ditangan orang tua dalam hitungan waktu sebentar, jadi kalau anak sekolah di Gayo maka uang tersebut bisa berputar di dalam masyarakat sehingga kesejahteraan lebih mudah tercapai.

Jalan yang dilakukan tidak ada lain kecuali memperbaiki mutu pendidikan mualai dari tingkat dasar sampai pada tingkat menengah atas.

Langkah yang harus dilakukan adalah Pemerintah Daerah harus mendudukkan semua tenaga pendidik sekaligus pelaksana pendidikan, agar mengadakan pembenahan pendidikan dalam segala bidang. Yang dimulai dari pemerintah, guru, para orang tua, anak didik, kurikulum dan sarana pendidikan.

Selanjutinya untuk menghilangkan kekhawatiran semua orang tua maka pemerintah dan orang tua harus berkomitmen dalam menjaga pergaulan anak dengan cara memastikan anak jam berapa pulang sekolah, jam berapa sampai di rumah dan kalau tidak pulang maka orang tua harus tau kemana anaknya pergi.

Kemudian hidupkan kembali adat saling menjaga dengan tidak membedakan anak siapa…?

Dengan bersekolahnya kembali anak-anak di Gayo maka Gayo akan dikenal dengan pendidikannya dan kesejahteraan masyarakat akan meningkat karena uang yang mereka dapat bisa mereka gunakan secara tepat dan berguna.[]

Comments

comments

Install Lintasgayo for Android Smartphone

Comments are closed.

Scroll To Top