Free songs
Home / Sastra / Ajarkan Aku Ikhlas, Bu!

Ajarkan Aku Ikhlas, Bu!


[Cerpen]

Ria Suwarni*

NAMAKU Cika, aku hidup bersama wanita yang sangat hebat. Beliau adalah ibuku yang telah melahirkan aku dua puluh dua tahun yang lalu, tepatnya pada tanggal 6 0ktober 1994. Aku menjadi bayi mungil, yang dibelai oleh kasih sayang ayah dan ibu dengan penuh cinta kala itu.

Kini aku telah tumbuh menjadi wanita dewasa, meski pun terkadang pola pikir dan tingkahku tidak sedewasa umurku. Aku masih mengingat kejadian itu dengan sangat jelas. Empat belas tahun yang lalu, ayah meninggalkan ibu, aku, dan dua orang adikku untuk selamanya. Saat itu aku masih berusia delapan tahun, adik pertamaku bernama Andre berusia enam tahun sedangkan adik bungsuku yang bernama Yuda berusia satu tahun. Kejadiannya sangat tragis, namun mungkin memang inilah hukum di negara kita. Kebenaran bisa dipalsukan dengan uang, sehingga yang tak bersalah malah jadi korban. Sampai saat ini, aku tak pernah lupa dengannya. Manusia yang tak pantas disebut sebagai manusia, karena kelakuannya yang sangat tak bermoral.

Masih jelas kuingat, saat itu tanggal 17 Oktober 2000. Ayahku dijemput oleh dua orang yang tak kukenal. Ayah berpamitan pada ibu kami, “Ayah mau kemana?” aku bertanya penuh curiga. Lantas ayah pun menjawab hanya pergi sebentar, dan memastikan pada kami bahwa ia akan pulang sore nanti. Sore pun tiba, tak tampak tanda-tanda bahwa ayah benar-benar pulang ke rumah. Hingga malam menjelang, pagi pun datang. Ayahku tak kunjung pulang. Kami sekeluarga mulai panik, sementara nenek, kakek dan pamanku seolah telah mengetahui sesuatu, namun mereka menyimpannya dari aku dan ibu. Hari terus bergulir, dan akhirnya tiga hari sudah ayahku tak juga pulang. Pikiranku semakin kacau, kami rindu ayah, terlebih si bungsu yang biasanya setiap pagi duduk nangkring di pangkuan ayah.

Hari demi hari, aku masih menunggu ayah pulang. Hingga suatu ketika, rumahku tetiba mulai ramai dipenuhi para tetangga dan saudara-saudara. Dengan heran aku pun memandang  mereka, kulihat Kak Kina memakaikan kerudung ke kepala ibu, sementara ibu terus menangis. Aku masih terdiam, mecoba memahami peristiwa yang ada di hadapanku.  Lalu seorang lelaki paruh baya yang kupanggil dengan sebutan Pak Wo itu pun datang mendekatiku, kemudian memelukku dan berbisik “Nak, kita lihat ayah ya! ayah sudah tiada, sudah kembali kepada pemiliknya,” Aku terkesiap dan menangis sekeras-kerasnya, tak ada satupun dari sekian banyak mereka yang bisa menghentikan tangisku. Pak Wo pun mencoba membawaku untuk mendekati ayah, namun entah mengapa aku justru takut dan memilih berlari sedangkan ibu beserta adik-adikku  duduk berada di samping ayahku saat itu.  Sesekali tampak olehku, ibu mencium wajah ayah yang penuh dengan lumuran darah. Sementara sebagian keluarga yang datang terus berteriak histeris, seolah tak percaya bahwa yang terbaring di hadapan mereka adalah ayahku.  Adikku Andre, melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana kacaunya tubuh ayah saat itu dengan darah yang terus mengalir.  “Mak, ini Bapak siapa? Kok mukanya aneh? Mak, ini Bapak siapa? kenapa dijahit dekat matanya?” Pertanyaan yang bertubi-tubi dari Andre, bocah berusia enam tahun yang belum mengerti mengenai kejadian saat itu. Di lain tempat, orang-orang juga berusaha untuk menenangkan aku, menggendongku bahkan ada juga yang terus menciumi wajahku, jelaslah bahwa aku seperti orang gila saat itu. Rasanya separuh jiwaku telah pergi.

Waktu berlalu, ayah pun sudah dimakamkan. Hari-hari mulai berlalu bulan dan tahun pun mulai berganti. Semenjak ayah meninggal, ibu yang menggantikan posisi ayah untuk menjadi kepala keluarga. Semua kebutuhan keluarga, ibu yang mengurus termasuk biaya sekolah, biaya makan dan lain-lain.  Aku yang saat itu masih bersekolah di bangku sekolah dasar, sering sekali tidak berangkat sekolah karena memilih untuk menjaga Andre yang saat itu masih bersekolah TK. Sementara ibu dan adik bungsuku, pergi untuk mencari sesuap nasi di kebun milik tetangga. Pekerjaan rumah, sudah menjadi tugasku saat itu. Mulai dari menyapu, mencuci piring, dan aku juga harus terbiasa bermain dengan asap dan tungku kayu, untuk memasak dan merebus air.

Saat sendiri, tak jarang air mataku selalu turun ketika mengingat ayah. Apalagi dengan kejadian kematian ayah yang tak masuk akal bagiku, namun pertanyaan-pertanyaan itu selalu kusimpan rapat. Aku yakin suatu saat aku pasti mengetahui apa yang sebenarnya telah terjadi

Enam tahun berlalu sejak kepergian ayah.  Aku pun sudah duduk di bangku SMA, aku berusaha untuk bisa berpikir lebih dewasa. Saat itu, tak sengaja aku membuka lemari dan menemukan satu bungkusan plastik yang berisi album foto. Karena penasaran lalu aku membukanya. Album itu berisi foto saat jenazah ayah tiba di rumah, kemudian dimandikan hingga proses pemakaman. Dari sekian banyak foto tersebut, ada beberapa yang mengganjal di mataku. Kondisi tubuh ayah yang penuh dengan darah, luka sobekan di daerah mata. Ada beberapa  jahitan  yang menempel di wajahnya, kepala ayah yang tetiba sudah botak,  dan memar dibagian lengan kanan. Aku juga memperhatikan bagian kaki ayah, melihat kaki kiri yang beda panjangnya dengan kaki kanan ayah, sehingga harus diikat untuk menyamakan keduanya. Terlihat pula olehku amplop berwarna biru yang berisi hasil autopsi ayah. Oh Tuhan! tangisku pecah. Seperti inikah keadaan ayahku?  Bodohnya aku, tidak melihat langsung keadaan ayah saat itu. Aku sangat menyesal.

Tangisku semakin menjadi-jadi, hingga kakek dan pamanku datang bersamaan melihatku menangis memeluk foto ayah, “Ini kenapa Kek?” tanyaku dengan suara gemetar. Akhirnya mereka menjelaskan semuanya padaku. Kini tangisku, tak lagi mampu mengeluarkan air mata. Mereka selalu bilang, Allah yang akan membalas semuanya. Ikhlaskan saja. Semenjak itu, aku tahu bahwa  ayah meninggal bukan karena mengidap suatu penyakit atau kecelakaan. Melainkan karena dibunuh oleh sahabatnya sendiri, hanya karena fitnah atas keberhasilan tambak ikan milik ayah. Mereka menuduh ayah mencuri ikan-ikan mereka. Padahal kenyataannya, ikan yang ayah jual adalah ikan panen dari hasil tambak kami.

Hari-hari terus kulalui,  dengan mencoba untuk terus menjadi pribadi yang kuat. Tak ada lagi yang ingin kupertanyakan saat ini. Hanya saja, aku masih menyimpan amarah yang sangat besar kepada dia, sahabat sekaligus yang telah menghilangkan nyawa ayah. Bagaimana tidak? andai kau menjadi aku, mungkin kau pun akan merasakannya.  Betapa sakit dan hancurnya hati ini, melihat orang yang telah membunuh ayahku dengan keji, memasang wajah ganda dan selalu melintas di kawasan tempat tinggalku. Berjalan ke sana ke mari tanpa rasa bersalah. Ingin rasanya aku menusuknya dengan pisau tajam, sama halnya seperti yang ia lakukan pada ayahku. Tapi ibuku yang hebat selalu menasehatiku,  “Nak! ayah sangat bahagia, apabila melihatmu bisa berbesar hati dan mengikhlaskan semuanya.” Andai ibu tahu, bagaimana beban itu menggumpal di hatiku, menyimpan dendam pada manusia-manusia yang telah melukai ayahku. Merobek pelipis mata ayahku, membuat kaki kanan dan kiri ayahku menjadi tak sama panjang, merobek leher ayahku dengan paksa.

Lantas, masihkah pantas dia kusebut sebagai manusia? Keluarga besarku selalu bilang, mereka tidak akan pernah bahagia. Aku tidak menghakiminya, hanya saja aku sangat menyesali perbuatan dia yang begitu kejam.

Semenjak ayah meninggal, ibuku yang habis-habisan berjuang untuk aku dan adik-adikku. Betapa hebatnya ibuku, aku dan kedua adikku tidak pernah lapar. Begitu juga dengan sekolah, kami masih bersekolah normal layaknya orang lain. Meski ibu terus pontang-panting, tak kenal lelah untuk terus mengumpulkan pundi-pundi rupiah untuk kami. Ibuku hebat! hebat sekali malah, meski terkadang banyak rintangan yang harus dilalui, namun ibu selalu tersenyum memberikan cinta dan kasih sayangnya untuk kami.

Ini adalah ceritaku. Kisah nyata yang pernah terjadi, tepatnya di daerah tempatku lahir dan dibesarkan, di Kota Takengon. Mungkin saat itu, hukum bisa dibeli, yang berkuasa bisa mengalahkan kebenaran, dan uang bisa menutupi kebenaran yang tersimpan. Namun yang namanya kebenaran, akan tetap terungkap. Juga hal ini, dibuktikan dengan beberapa di antara mereka yang telah datang menemui ibuku ke rumah. Mengakui kesalahan yang telah mereka lakukan kepada almarhum ayah, ada juga yang datang untuk mengajak damai dan memberikan uang ganti rugi. Namun ibu tidak menerima uang itu. Bagi ibu pengakuan mereka sudah cukup,  kami sudah memaafkan dan mengikhlaskan semuanya. Karena pada hakikatnya hukum Allah pasti lebih adil.

Khusus untuk kamu! wahai sahabat ayahku, yang mungkin membaca kisah ini. Bertaubatlah kepada Allah. Belum terlambat untuk memohon ampun kepada-Nya, mungkin kita tidak akan pernah bertemu lagi dalam sidang pengadilan, namun apabila sudah tiba waktunya Allah sendiri yang akan menyidangmu.  Untuk almarhum ayahku, semoga Allah menempatkan ayah di surga-Nya dan untuk ibuku yang sangat kucintai karena Allah, semoga ibu terus dalam keadaan sehat, serta dimudahkan rezeki dan segala urusannya. Amin, aku mencintaimu ibu. [ANA]

Biodata Penulis :

*Lahir 26 Oktober 1994, berasal dari Takengon-Aceh Tengah. Mahasiswa Prodi Biologi Fakultas Tarbiyah Uin Ar-Arraniry Banda Aceh.

Comments

comments

Install Lintasgayo for Android Smartphone

Comments are closed.

Scroll To Top