Free songs
Home / Inilah Gayo / Kekulen Dedik

Kekulen Dedik


Oleh Junaidi A Delung

Renang di Danau Lut Tawar

GAYO mempunyai banyak permainan-permainan tradisional yang hari ini hanya sebagian saja yang masih diketahui para generasi, salah satunya “Men Kekulen Dedik”. Mungkin generasi sekarang khususnya anak sekolah tingkat dasar (SD) dan menengah pertama (SMP) tidak lagi tahu menahu apa itu “kekulen Dedik”.

Tidak tahu pasti apa sebenarnya makna dari permainan kekulen dedik ini. Hanya saja dedik yang berarti kejar atau mengejar. secara fatamorgana Kekulen dedik adalah permainan tradisional Gayo yang keberadaannya dimainkan dalam di kolam mandi.

Dulu di Gayo kolam mandi menjadi keharusan disetiap masjid atau Mushalla (Mersah) selain untuk wudhu’ juga untuk keperluan mandi dan mencuci pakaian. Sarana ini hampir dapat ditemui disetiap desanya, baik di Bener Meriah maupun di Aceh Tengah, bahkan mungkin di Gayo Lues, Lokop Serbe Jadi dan Aceh Tamiang juga Aceh Tenggara.

Men kekulen dedik merupakan permainan dimana seseorang yang mandi dalam kolam tersebut yang terdiri dari banyak orang dan tentunya tidak terbatas, tapi biasanya secukupnya sesuai yang mau mandi dan main yang diawali dengan Pung (ompimpa alahio gambreng) siapa kalah ia jaga.

Dengan demikian yang jaga posisinya terserah mau dimana (sepengetahuan penulis tidak ada aturan dimana posisi yang mestinya harus jaga dan keberadaannya), yang pasti tidak mendekat dari kawan-kawan yang lainnya. Disisi lain sipenjaga akan menyentuh kawannya yang ia kejar dengan cara menyelam atau menyelupkan dirinya kedalam air sambil mencari kawan yang lain hingga salah satu diantara mereka yang tersentuh. Dan apabila tersentuh maka bergantian yang menjadi pengejarnya.

Yang menjadi sasaran biasanya kawan-kawan yang lain yang pisisinya berada disudut-sudut kolam untuk disentuh mulai dari ujung rambut hingga ujung kaki. Disisi lain, peserta yang lain harus bisa mengelabui  si pengejar agar terhindar dari sentuhannya. Dengan cara apapun, bagaimana ia berusaha mencoba menghindari dari sentuhan sang penjaga, jika saja kena sentuhannya maka akan gantian yang jaga demikian seterusnya.

Serunya permainan ini dilakukan dalam air yang tidak terlalu keruh dan pastinya tidak nampak badan saat menyelam agar tidak tampak dari pandangan si penjaga, dan untuk menghindarinya dari sentuhannya.

Permainan ini sangat menarik, sebelum menyerah dan merasa lelah, permainan akan tetap berlanjut hingga sebelum badan terasa menggigil dan sudah merasa kecapean. Keseruan permainan ini terletak pada cara menangkap kawannya yang akan di sentuh karena dengan akal apapun para pemain yang dikejar para penjaga berusaha tidak disentuh sedikitpun oleh si penjaga.

Bisa jadi ketika ia ingin menangkapnya cepat-cepat, ia menyelupkan dirinya ke air dan pindah tempat dari semula kepada tempat yang lain, dan bisa jadi pula ia berada ditempat semula tidak kemana-mana hanya saja ia cuma menyelupkan dirinya.

Disisi yang lain ada juga yang menyelup dan menyelam hingga pindah posisi. Sekilas kita melihat menyelamnya ke arah kanan, namun ia terlihat di daerah kiri, bisa dikatakan dibohongi oleh teka teki permainan itu dari masing-masing orang, tergantung dari teknis ia menghindari dari sentuhan si penjaga.

Permainan ini sangat istimewa, apalagi jika diantara seseorang tersebut mempunyai napas yang panjang sehingga bisa dengan mudah berlama-lama berada didalam air untuk bersembunyi. Si penjaga akan kesulitan menangkap dan menyentuhnya.

Sebaliknya jika sipenjaga cerdik, tentu ia akan lebih pandai dan mudah menangkap para kawan-kawannya yang dikejar, karena sudah mengetahui seluk beluk kemana ia lari dan dimana ia sembunyi, apakah masih ditempat, atau berpindah dan lain sebagainya.

Permainan ini dikatakan seru apabila dilihat dari cara bermainnya, dimana si penjaga tidak bisa menyentuh kawan-kawannya yang ia kejar dan tidak bisa menangkapnya dengan mudah selama beberapa menit bahkan sampai selesai permainannya. Dan bahkan sebaliknya bisa jadi permainannya hanya sebentar karena tidak terlalu mantap dalam permainan yang sedang terjadi.

Dan perlu diketahui juga, bahwa permainan ini ada sisi menariknya dan ada juga sisi tidak enaknya. Namun  tidak seberapa sisi tidak enaknya, hanya saja kita waspada saat menyelam dan mengelabui si penjaga, bisa jadi dagu kita menjadi sasaran ke tanah atau lantai di dasar kolam sehingga terluka. Dan ini tergantung dalamnya kolam dari permukaan ke dasar, dan lantai pada dasar kolam. Semuanya tergantung dari sisi bentuk kolamnya terjadi.

Pada intinya permainan ini menarik dan menjadi kekhasan sendiri bagi masyarakat Gayo. masih banyak permainan tradisional yang menjadi kebanggaan tersendiri, karena merupakan bagian dari seni. Namun pada hari ini tidak sering lagi nampak dan terlihat dimainkan oleh anak-anak jaman sekarang, barang kali karena perkembangan jaman dan perubahan budaya.

Dari sudut pandang Islam, permainan ini tentu sinerji dengan sunnah yang menganjurkan belajar berenang. Disadari atau tidak, anak-anak yang kerap bermain Kekulen Dedik akan mahir berenang dan menyelam. Begitu juga dari sudut kesehatan, raga anak-anak senantiasa segar bugar dan berpengaruh kepada pertumbuhan fisiknya. Juga dari kebersihan, jika aktivitas ini dilakukan seiring dengan mandi rutin, pakai sabun serta air kolamnya bersih tentu saja sangat positif.

Kekulen Dedik dikategorikan sebagai permainan rakyat yang juga diatur dalam perundangan-undangan Negara Republik Indonesia yakni dalam Pasal 10 Undang-undang Nomor 19 tahun 2002 tentang Hak Cipta selanjutnya disebut UUHC yang berbunyi (ayat 1) Negara memegang Hak Cipta atas karya peninggalan prasejarah, sejarah, dan benda budaya nasional lainnya. Dan (ayat 2) Negara memegang Hak Cipta atas folklor dan hasil kebudayaan rakyat yang menjadi milik bersama, seperti cerita, hikayat, dongeng, legenda, babad, lagu, kerajinan tangan, koreografi, tarian, kaligrafi, dan karya seni lainnya.

Selain itu, Kekulen Dedik juga masuk dalam kategori olahraga rekreasi sebagaimana dimaksud dalam UU Nomor 3 Tahun 2005 tentang Sistem Keolahragaan Nasional, Pasal 17 Ruang lingkup olahraga meliputi kegiatan: a. olahraga pendidikan; b. olahraga rekreasi; dan c. olahraga prestasi.

Dan defenisi olahraga rekreasi adalah olahraga yang dilakukan oleh masyarakat dengan kegemaran dan kemampuan yang tumbuh dan berkembang sesuai dengan kondisi dan nilai budaya masyarakat setempat untuk kesehatan, kebugaran, dan kegembiraan.

Di Pasal 19 ayat 6 disebutkan bahwa olahraga rekreasi harus memenuhi persyaratan yang ditetapkan oleh perkumpulan atau organisasi olahraga.

Dalam hal ini, di Indonesia telah dibentuk organisasi olahraga khusus rekreasi yang diberinama Federasi Olahraga Rekreasi Masyarakat Indonesia (FORMI) yang kepengurusannya diakui Negara, terstruktur dari tingkat pusat hingga pemerintah Kabupaten/Kota termasuk di Kabupaten Aceh Tengah, Bener Meriah, Gayo Lues dan lain-lain.

Bahkan, olahraga rekreasi ini memiliki even khusus setara Pekan Olahraga Nasional (PON) yang diberinama Festival Olahraga Rekreasi Nasional (FORNAS) yang hingga tahun 2015 sudah diselenggarakan untuk ke-3 kalinya di Indonesia. Sayangnya, Aceh dan khususnya Gayo belum menggaung secara luas, padahal sangat potensial untuk promosi daerah serta jitu dalam upaya pelestarian nilai-nilai budaya daerah.

Budaya merupakan bagian dari adat istiadat dan sebuah tradisi. Tradisi tidak akan muncul bila berbagai keadaan masyarakat dalam rentetan proses terputus, dalam arti bila rentetan proses itu berakhir maka semuanya akan terputus dan berubah menjadi baru.

Tradisi bertahan dalam jangka waktu tertentu dan mungkin lenyap bila benda material dibuang dan gagasan ditolak atau dilupakan. Disamping itu tradisi akan mungkin dan kemungkinan besar hidup dan muncul kembali kepermukaan setelah sekian lama terpendam.

Hal itu tergantung cara pendidikan yang sebenarnya dan upaya pemerintah dalam menangani semua keadaan atau peristiwa yang terjadi dalam budaya, adat istiadat dan lain sebagainya. Semoga kedepan pemerintah masing-masing Kabupaten/Kota, khususnya wilayah Gayo melalui Majelis Adat Gayo (MAG) dapat melestarikan penuh apa yang menjadi adat dan istiadat, sehingga tidak tenggelam ditelan zaman. [Kh]

*Penulis merupakan Mahasiswa semester akhir jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam UIN Ar-Raniry Banda Aceh.

Comments

comments

Install Lintasgayo for Android Smartphone

Comments are closed.

Scroll To Top