Free songs
Home / Sastra / Lesung dan Dendam

Lesung dan Dendam


[Cerpen]

Oleh: Zack Arya*

MEREKA datang pada suatu siang. Tanpa ada pemberitahuan sebelumnya. Kecuali pemberitahuan karena takut oleh suara kaki yang menerobos semak-semak belukar. Kaki-kaki yang ketakutan. Semua lelaki kampung yang biasanya tegar dan tegap, sekarang berkesiuran tak teratur di belakang rumah. Bahkan para perempuan lari berhamburan, sambil menyeret anak-anak mereka seperti menyeret ranting kering yang biasa dipakai sebagai kayu bakar. Suara melengking jeritan bayi dalam gendongan, juga tak kalah membuat bulu roma merinding. Sebagian berhasil kabur, sebagian tertangkap dan dibawa ke sebuah gardu jaga yang kemudian dijadikan sebagai pos oleh para lelaki yang datang dengan senjata itu. Satu peleton lelaki bersenjata. Itulah awal kepedihan, derita, kepiluan yang tak terbayangkan sebelumnya. Saat semua lelaki dikumpulkan di sebuah pos yang juga dihuni oleh lelaki bersenjata. Lalu tangisan, desingan peluru, pekik kematian menjadi hal biasa.

Aku adalah salah satu dari mereka yang  mengalami penderitaan itu. Lelaki yang tak mampu lagi berlari jauh. Tertangkap dan digiring ke pos laknat itu. Interogasi dengan bentakan yang menciutkan nyali. Aku pasrah bila kematian datang menjemputku pada sore itu. Namun aku tak mati, hanya mungkin rusukku retak. Saat laras senapan itu dengan mudah ditumbukkan berkali-kali, maka jeritan pilu bertubi-tubi pula keluar dari mulutku. Pria-pria bersenjata itu melakukan apa yang ingin mereka lakukan. Aku meniatkan ini sebagai azab Tuhan terhadap tubuhku. Setiap sepekan, tendangan mereka kuanggap tendangan malaikat neraka untuk menghapus dosaku. Setiap sundutan puntung rokok menyala, kuanggap sebagai sundutan api neraka yang sewajarnya membakar dan membuat hangus kulitku. Sedang rasa sakitku -meski perihnya tak terperi- kupersembahkan kepada Tuhan sebagai bentuk kepasrahan terhadap takdir-Nya. Bagi kami, jam-jam pertama hari itu adalah menunggu malaikat maut yang terus mengintai, dari sudut gelap dan menjelma sebagai sosok para pria yang bersenjata itu.

Lama kelamaan, pemandangan kematian semakin nyata di depan mata. Tangisan perempuan dan pekik laki-laki meregang nyawa dalam pos jahanam itu membuatku tegar. Sepertinya aku siap mati, meski dimajukan beberapa jam dari jadwal kematian yang tertulis di lauh mahfuzh. Aku benar-benar siap mati. Namun aku tak pernah benar-benar mati, meski pukulan, tumbukan, tamparan, tendangan mendarat, mungkin sudah ratusan kali mendera sekujur tubuhku. Hanya tasbih dan asma’ul husna yang kuyakini memiliki makna keperkasaan Tuhan yang membuatku kuat. Dalam hatiku kusebutkan “ya qahhar ya qahhar”, kuucapkan dengan tulus dalam hati, penuh seluruh, membuatku seperti kebal. Pukulan mereka pun mulai tak terasa. Mereka mulai takut dan enggan menyiksaku. Menganggap aku kebal namun  aku tak peduli.

Kini aku duduk di sudut, tanpa tahu apa yang harus kukerjakan. Mereka juga mulai bersikap baik padaku. Mereka menawarkanku ransum nasi, bahkan ikan dan daging kaleng untuk kunikmati. Namun hanya sedikit yang bisa kumakan, selebihnya kuberikan pada seorang kawan dekatku Aman Bahgie yang lemah dan selalu ketakutan. Hari pertama adalah hari jahanam, penderitaan yang kurasakan, menyebabkan aku lupa untuk menyembah-Nya.

Saat  fajar menyingsing, aku hanya bertasbih dan tak tahu bagaimana aku bisa  menunaikan kewajiban sebagai hamba Allah. Bersebab tak memiliki pakaian yang suci, tak bisa berwudhu karena air tak ada, juga tak bertayammum karena semua tanah di sini berbekas darah, kotoran, dan sampah yang mulai mengeluarkan bau menyengat. Aku juga tak dapat menemukan tempat bersujud, karena semuanya najis dalam pandanganku. Aku menyerahkan semua itu kepada Allah. Aku menyembahnya dalam diam, menangis pilu karena aku tak mampu menggerakkan anggota badanku untuk bersujud kepada-Nya. Hanya hatiku yang senantiasa mengingatnya dengan semua nikmat, karunia, anugerah, hidup dan matiku untuk-Nya. Bahkan saat-saat terakhirku mengingat-Nya, tatkala kini menjadi tawanan sipil yang tak bersalah.

Tiba-tiba, mataku tertuju pada sebuah bongkahan batang pohon yang telah menghitam akibat noda darah. Hal tersebut mengingatkanku, atas semua kejadian yang terjadi di depan mataku kemarin. Lalu aku meminta izin kepada komandan pria bersenjata itu untuk mengambilnya dan ingin memanfaatkannya.  “Untuk apa?”tanya komandan penuh curiga.  “saya hendak membuat sebuah lesung,” jawabku tanpa takut. Komandan itu diam tak merespon. Diamnya kumaknai sebagai pembolehan. Aku memanggul bongkahan kayu itu dan duduk di sebuah sudut yang agak teduh di pos tersebut.  Aku merautnya dengan sebuah besi tua yang kuasah menjadi sebilah pisau. Lelaki bersenjata itu, tak menghalangiku memiliki pisau karena mereka beranggapan bahwa aku tak mungkin berniat menyerang mereka.

Aku mulai membersihkan sisi-sisi bongkahan pohon tersebut dengan pisau. Membaca basmalah lalu berzikir kepada-Nya saat mulai membentuknya sebagai lesung.  Sebagai karya kepedihan. Ada juga rasa kekecewaanku karena tak mungkin menyembah-Nya dengan layak. Pekerjaanku mengundang perhatian tawanan-tawanan lainnya. Mereka mulai menikmati suara halus dari setiap gesekan dan sentuhan mata pisau pada bongkah kayu tersebut.  Aku pun tak peduli dengan telapak tangan dan jari yang melepuh karena gesekan besi pisau yang tidak memiliki gagang. Sejam dua jam, sehari dua hari. Seminggu dua minggu. Aku terus mentarah, membuat cerukan di tengahnya, memberikan motif dan ukiran Kerawang Gayo; emun berangkat, puter tali, pucuk rebung, tikukur, pada setiap bidang dan sudutnya.

Tak ada lagi pukulan. Tak terdengar lagi erang kesakitan. Karena sebagian tawanan telah dijemput ajal dan juga pria bersenjata itu sudah lelah menyiksa kami  setiap hari. Semua mata tertuju padaku yang masih asyik memahat. Hingga akhirnya sebuah lesung untuk menumbuk padi pun selesai. Aku mengagumi karyaku. Karya sentuhan tangan, dengan nafas spiritual tasbih dalam setiap pahatannya. Tak ada yang tahu bahwa setiap hari ketika kulewati pos ini, kuguratkan sebuah tanda garis vertikal setiap di sisi kiri lalu sisi kanan dari lesung itu. Setelah kuhitung, terdapat sekitar lima puluh sembilan pahatan. Itu berarti kami menghabiskan sehari, kurang dari dua bulan di pos jahannam itu. Lesung karyaku, menjadi buah bibir dalam tahanan dan juga para pria bersenjata itu.

Awal bulan ketiga, para lelaki bersenjata itu akan meninggalkan pos juga kami tanpa pemberitahuan. Mereka berkemas-kemas meninggalkan kami dalam penderitaan yang sempurna; tubuh yang tak lagi utuh. Perasaan yang tercabik-cabik, kebun dan ladang yang terbengkalai, sawah tak tergarap, ranum kopi yang akhirnya dimakan tikus dan luwak. Namun, salah seorang pria bersenjata yang paling kejam menarikku ke sebuah tempat yang agak menjauh dari pos dan kampung. Ia meminta lesung itu kepadaku. Aku menggeleng. Ia meminta sebagai kenang-kenangan. Aku menggeleng. lalu ia menjulurkan beberapa lembaran sepuluh ribuan. Aku menolak. Kemudian ia menjulurkan beberapa lembar seratusan ribu. Aku tetap menolak. Ia sepertinya marah.  Ia menodongkan senjata apinya ke kepalaku, lalu aku meminta agar ia menurunkan senjata itu. Tak perlu membayar penderitaan kami yang telah kupahat di sini.”

Aku membopong lesung itu ke hadapannya. Ia tampak sumringah, karena ia pasti berpikir kalau aku takut terhadap ancamannya. Namun, tiba-tiba sebuah kekuatan yang tak terduga mengisi dua pergelangan tanganku dan secepat kilat lesung itu terangkat tinggi dan melabrak kepalanya seketika. Lelaki itu menggeloso dengan kepala rengkah. Lelaki itu menggelepar dan mati.

Terbersit sebuah kepuasan karena membalaskan dendam, akibat perbuatannya yang menodai dan mengotori peradaban kampung kami yang terbangun sejak lama. aku pun menyeret mayatnya dan membawanya ke sebuah tanah yang berceruk, lalu menimbun lelaki bersenjata dengan tanah humus dan daunan layu, kemudian ku letakkan lesung itu sebagai nisannya.

Tetiba geliat penyesalan muncul.  Aku telah membunuh. “Lelaki itu telah membunuh anak lelakimu, menodai putrimu. Hukum di negeri ini tak akan membuatnya dihukum atas kejahatan kemanusiaannya. Anggap saja qishas yang adil untuknya,” ruang hatiku yang lain membela.  Aku beranjak, menjauh dan berlalu. Kira-kira sepuluh meter, aku berpaling sekali lagi. Melihat lesung itu, sebagai karya, nisan, alat pembalasan dendam dan selebihnya sebagai rahasia yang hanya aku dan Tuhan yang tahu. Aku berlari sekuat tenaga ke arah hutan belantara, tanpa menoleh ke belakang. Berbulan-bulan aku menghilang. Kabar tentangku pun menyeruak bahwa aku dan seorang pria bersenjata menghilang saat penarikan pasukan.

# # #

Pada masa damai, aku kembali ke kampung. Semua penduduk kampung tercengang. Sebagian dari mereka bertanya tentang diriku, tentu tentang hari di saat aku menghilang, dan tidak lupa juga bertanya tentang lesung itu.  Namun, aku hanya diam.

Delapan tahun berlalu setelah tragedi itu. Entah mengapa, aku merindukan lesung buatanku. Aku lupa di mana tempat aku meletakkan lesung itu, yang kubuatkan sebagai nisan lelaki bersenjata. Berhari-hari aku mencarinya, menerobos semak belukar, memeriksa setiap bongkahan kayu dan batu, tetapi aku tetap tak menemukannya. Yang kutemukan hanya rumput jejeron dan kembang Keramunting yang mulai bermekaran sepanjang jalan pulang. [ANA]

Banda Aceh awal Mei 2017

*Zack Arya nama pena dari Zakaria Nur Elyasy, adalah putra Gayo kelahiran Kute Tanyung Kab. Bener Meriah 19 April 1984. Novel pertamanya terbit pada tahun 2010 dengan judul “El-Masiyä”, sebuah novel yang berkisah dengan latarbelakang konflik antara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan Tentara Indonesia yang berimbas pada kesengsaraan rakyat dengan tokoh utama sepasang kekasih bernama Kamal dan Arnati. Novel setebal 221 halaman itu di endesor-i oleh Salman Yoga S dan Herman RN. Saat ini Zack Arya tinggal di Banda Aceh dan bekerja di LIPIA serta dosen dibeberapa perguruan tinggi.

Comments

comments

Install Lintasgayo for Android Smartphone

Comments are closed.

Scroll To Top