Free songs
Home / Features / Cinta Jokowi untuk Gayo Bertepuk Sebelah Tangan?

Cinta Jokowi untuk Gayo Bertepuk Sebelah Tangan?


Jokowi dan para sahabatnya semasa di PT. KKA serta penulis buku Jejak Jokowi di Gayo (dua di kanan Jokowi). Foto diambil di Redelong usai peresmian Bandara Rembele. (foto : Surya)

Catatan Khalisuddin

TANOH Gayo adalah kampung kedua seorang Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo yang akrab disapa Jokowi. Ini bukan klaim sepihak dari Gayo, namun dinyatakan dalam pidato resmi oleh Jokowi saat meresmikan beroperasinya Bandar Udara (Bandara) kelas III Rembele, Rabu 2 Maret 2016 silam. (baca : Pidato Joko Widodo saat Resmikan Bandar Udara Rembele).

“Bapak, ibu dan saudara-saudara sekalian. Kenapa ini saya pakai terus? Biar rasanya sampai ke dalam bahwa saya ini orang Gayo, orang Aceh. Ini kampung halaman saya yang kedua,” kata Jokowi saat memulai pidatonya sambil menunjuk hati dan memegang Opoh Ulen-Ulen Kerawang Gayo yang dikenakan saat turun dari pesawat. (lihat foto-red).

Sebagai kampung halaman, seyogyanya Tanoh Gayo dan Aceh, khususnya Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah mendapat perhatian spesial dari pribadi Jokowi atau jajaran Pemerintah RI. Namun nyatanya seperti tidak, masih sebatas statemen.

Pernyataan melambungkan Gayo setinggi langit kembali terjadi saat membuka Pekan Nasional Petani Nelayan ke-15 Tahun 2017 di Stadion Harapan Bangsa, Gampong Lhong Raya, Banda Aceh, Provinsi Aceh, Sabtu (6/5/2017).

Jokowi saat berpidato di Bandara Rembele, Rabu 2 Maret 2016 tampak memegang Opoh Ulen-Ulen Kerawang Gayo. (LGco_Surya)

Dihadapan tidak kurang dari 38 ribu tamu dan undangan dari seluruh Indonesia, dari kalangan petani, Bupati, Gubernur, tamu asing hingga Menteri, Presiden menceritakan pengalamannya saat dia tinggal di Gayo – Aceh dimana hampir setiap pagi menikmati kopi Gayo. Dia tidak latah menyebut kopi Aceh tentu karena tau persis asbabun nya. Kopi Gayo sudah mendapatkan perlindungan hukum Indikasi Geografis (IG) dari Kementerian Hukum dan Hak Azasi Manusia RI.

“Kopi Gayo enak sekali,” ucap Presiden dengan menimpali harga kopi semakin meningkat dari waktu ke waktu. Namun dia menyayangkan kuantitas produksi masih rendah. (baca : Jokowi : Kopi Gayo Enak Sekali)

Tidak ada yang salah dengan pernyataan tersebut, Jokowi menurut para sahabatnya semasa di PT. KKA sering ngopi, namun bukan pecandu kopi. Dia suka cara Urang Gayo mengistimewakan tamu dengan menawarkan ngopi mulo, mangan mulo (ngopi dulu, makan dulu).

Pernyataan Jokowi tentang Kopi Gayo ini adalah sinyal bermuatan promosi dan perintah, namun sepertinya  kita gagal memahami kalimat mantan manajer tim sepak bola dan gerak jalan PT. KKA itu. Walau sejauh ini sudah banyak upaya pemerintahan di Gayo untuk meningkatkan produksi kopi, namun kuantitas produksi dinilai masih rendah, berkisar di 750 kilogram per hektar per tahun. (baca : Jokowi Sentil Rendahnya Produksi Kopi Arabika Gayo)

Jokowi tentu punya fakta akurat menyentil persoalan ini. Dia gemas karena “Kampung Keduanya” belum bekerja maksimal menyelaraskan diri dengan konsep Nawacita yang digulirkan dalam pemerintahannya.

Jangankan program berat yang visioner jauh kedepan, ide sederhana sekalipun tidak mencuat semisal tugu atau penamaan sarana publik yang ditabalkan dengan Jokowi. Bahkan mengubah penamaan gang sempit pun tidak terpikirkan.

Buku Jejak Jokowi di Gayo yang ditulis Khalisuddin bersama Murizal Hamzah

Gayung tidak bersambut, wajar-wajar saja jika Jokowi dan para pihak disekitarnya tidak menaruh perhatian, tidak salah jika mereka bersikap gere gatal sana si kayo (tidak gatal untuk apa di garuk). Beda sekali dengan perlakuan istimewa kepada sejumlah tokoh non Gayo beberapa tahun silam, semisal Bustanil Arifin didaulat menjadi Urang Gayo Kehormatan dan tokoh-tokoh lainnya yang jauh dari tarap Presiden.

Padahal bisa saja seperti Aman Thur yang ketiban rezeki menerima hadiah satu unit mobil baru dari pihak tertentu di sekeliling Jokowi. (baca : Jokowi ke Gayo, Aman Thur Dihadiahi Mobil). Alasannya tidak lain adalah balas budi, karena Aman Thur dianggap sangat berjasa karena membantah berita menyudutkan Jokowi sebagai non muslim.

Kembali mengutip pidato Jokowi di Bandara Rembele, dengan tegas bernada perintah dikatakan :

Ini nanti Bandar Udara Rembele ini menjadi percuma kalau tidak diiringi dengan tahapan-tahapan berikutnya, step-step berikutnya. Apa? Pelayanan perizinan tadi, sehingga arus modal, arus uang menjadi masuk kesini.

Yang kedua, pariwisata, promosi. Baik Bupati Bener Meriah, Bupati Aceh Tengah, Gubernur semuanya harus mulai konsentrasi promosi bahwa di kawasan ini, di Bener Meriah, di Aceh Tengah ini ada yang namanya Danau Laut Tawar kanan kirinya gunung yang sangat indah. Dipromosikan sehingga berdatangan wisatawan ke kawasan ini.

Kerja sama dengan Kementerian Pariwisata. Kalau ndak, ya nanti pesawat yang datang kesini meskipun runway-nya sudah diperpanjang 2.260, sudah panjang, Boeing 737 sudah bisa, yang kecil sudah bisa masuk yang 300, tapi kalau tidak ada yang datang menjadi percuma bandar udara ini.

“Oleh sebab itu, semuanya harus menggerakkan, harus bergerak,” kata Jokowi. (buka dan baca : Pidato Joko Widodo saat Resmikan Bandar Udara Rembele).

Sepertinya ada yang salah soal perhatian timbal balik ini. Informasi yang diterima Jokowi tentang Gayo, khususnya perpolitikan bisa dibilang sepertinya tidak sempurna. Bisa ditebak, tentu saja soal permintaan pemekaran Provinsi Aceh yang pasti sangat diwanti-wanti oleh elit politik di Aceh sebagai sesuatu yang haram terlaksana. Tak hanya itu, nada halus beraroma sindiran juga sempat terucap dari mulut Jokowi soal polemik ganti rugi lokasi Bandara Rembele. (baca : Soal ganti rugi, warga demo Bandara Rembele)

“Tadi saya bisik-bisik, ini rumah saya dulu kok sudah hilang, saya tanya ke Pak Menteri, di mana rumah saya? Mohon maaf Pak sudah digusur untuk perluasan Airport (Bandara) Rembele. Ya mestinya kalau mau gusur rumah Presiden itu izin. Izinnya baru pagi-pagi tadi, Pak, rumah Bapak mohon maaf kami gusur. Mestinya mau gusur kan sebelumnya, saya perbolehkan atau tidak. Tapi kalau untuk kepentingan umum yang sangat diperlukan oleh masyarakat, saya sampaikan, ya, silakan. Ini untuk kepentingan umum, bukan untuk kepentingan perorangan atau pribadi bandara ini,” kata Presiden Jokowi dalam pidatonya dalam peresmian operasional Bandara Rembele tersebut.

(baca : Pidato Joko Widodo saat Resmikan Bandar Udara Rembele)

Kalimat ini terucap tentu ada sebabnya, patut diduga Jokowi menerima laporan polemik ganti rugi areal Bandara tersebut. Jelas jika Jokowi ingin mengajak komponen bangsa ini saling tarik ulur demi lancarnya roda pembangunan semasa kepemimpinannya.

Saya pribadi menilai ada perang dalam bathin Jokowi, dia sangat faham polemik budaya yang ‘doeloe’ terjadi antara Aceh pesisir dengan Gayo yang saat ini nyatanya sudah sangat jauh memudar seiring kemudahan informasi saat ini serta pudarnya gagasan pemekaran provinsi Aceh dengan nama Aceh Leuser Antara (ALA), Aceh Barat Selatan (ABAS) atau gabungan keduanya, ALABAS. Terlebih pasca pelaksanaan Pilkada 2017 dimana 2 tokoh Gayo, Nasaruddin dan Nova Iriansyah maju sebagai calon Wakil Gubernur dan ternyata Nova Iriansyah yang berpasangan dengan Irwandi Yusuf berhasil memenangi perebutan suara rakyat Aceh.

Irmansyah dampingi Jokowi

Jangka waktu 3 tahun bukan sebentar, itulah yang dialami Jokowi usai menerima ijazah dari Universitas Gadjah Mada (UGM), dia langsung terjun ke masyarakat, dan daerah tersebut adalah Gayo, Aceh. Jokowi pasti tau betul bagaimana karakter Urang Gayo serta alamnya. Begitu juga dengan Aceh khususnya Lhokseumawe dan Banda Aceh yang kerap dikunjungi semasa bekerja di PT. KKA.

Bukti nyata besarnya perhatian Jokowi terhadap Gayo adalah saat gempa yang meluluhlantakkan Ketol tahun 2013 silam. Spontan Jokowi yang saat itu masih sebagai Gubernur DKI Jakarta mengucurkan bantuan Rp. 3 Milyar yang langsung ke Gayo dengan rincian Rp 1 Milyar untuk Bener Meriah dan Rp 2 Milyar untuk Aceh Tengah. Informasi tentang gempa Gayo saat itu tidak lepas dari peran Irmansyah; Putra Gayo Sang Wakil Walikota Jaksel.

Jokowi, menurut Irmansyah sangat mengenal Gayo. “Dia menceritakan tentang keberadaannya di Gayo kepada saya,” kata Irmansyah yang mendapat informasi awal jika Jokowi pernah berdomisili di Gayo dari ayahnya, Wahab Rahmadsyah.

Selama 5 bulan, Irmansyah keseharian tugasnya bersama Jokowi, termasuk pergi kemana-mana karena jabatannya sebagai kepala biro Kepala Daerah dan Kerjasama Luar Negeri Pemerintah DKI Jakarta yang membawahi 4 bagian, Tata Usaha Pimpinan, Kerjasama Luar Negeri, Pelayanan Korps Diplomatik, serta bagian Protokol.

“Saat pak Jokowi sebagai Gubernur hubungan kita bisa langsung-langsung saja, namun sekarang setelah jadi Presiden tentunya harus melewati protokoler ketat Paspampres,” ungkap Irmansyah.

Pemahaman orang nomor satu di Indonesia ini jelas tidak dimanfaatkan dengan baik oleh pihak terkait di Aceh, terlebih Bener Meriah. Salahsatu buktinya, belum ada gelontoran program yang menohok untuk kemajuan Gayo. Baik itu urusan pinus, kopi, tebu, atau bidang budaya. Padahal, keseharian Jokowi selama berada di Gayo adalah dengan hal-hal tersebut, tidak terkecuali Danau Lut Tawar dimana dia kerap mandi di Ujung Baro lokasi hotel Renggali bersama rekan-rekannya. Begitu juga dengan even pacuan kuda Gayo di Musara Alun sangat disenangi Jokowi. Dia tau Didong, bahkan dia pernah bersama-sama muguel canang (memainkan alat musik canang) bersama seniman Gayo, Ceh To’et.

Ekspresi Mahmuddin, sahabat Jokowi di Gayo saat bertemu di Redelong Bener Meriah. (foto Setkabgoid)

Pengalaman penulis di peluncuran buku Jejak Jokowi di Gayo disela Kongres Persatuan Penulis Indonesia (SatuPena) di Aston Hotel, Solo, 26-29 April 2017 (baca : SatuPena Solo Luncurkan Buku Jejak Jokowi di Gayo) dalam beberapa perbincangan dengan peserta kongres maupun warga Solo, Jokowi kerap pulang ke kampung halaman pertamanya tersebut, terang-terangan atau diam-diam. Tentu ini sangat manusiawi dan tidak perlu diperdebatkan, perlakuan terhadap Solo ini sangat mungkin terjadi untuk Gayo selaku kampung halaman keduanya.

Bukan hendak mengusik ketenangan mantan Bupati Bener Meriah, Ruslan Abdul Gani yang beberapa waktu belakangan ini berdiam di Suka Miskin dan konon sudah hampir hafal 30 Juz Al Qur’an. Namun layak dicontoh keberaniannya yang menyatakan salahsatu batu akik milik Jokowi berasal dari Samar Kilang yang diberitakan oleh banyak media, tentu yang pertama LintasGAYO.co (baca : Batu Cincin Jokowi berasal dari Gayo Samar Kilang). Tujuan Ruslan sederhana, agar orang ramai berkunjung ke kawasan marjinal tersebut, tentu ini juga sebagai upaya menarik perhatian Jokowi agar ingat Gayo, Kabupaten Bener Meriah.

Akhir tulisan ini, diluar urusan politik Pemilihan Presiden (Pilres) mendatang dan tidak berkaitan dengan Pemilihan Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo itu masih sebagai Presiden dan masih berpeluang menjabat lagi untuk periode berikutnya. Pintu masih terbuka untuk Gayo, bukan nepotisme, hanya memanfaatkan kelumrahan saja. Mari ajak dia bicara kopi, infra struktur, wisata dan budaya, dia cinta Gayo. Bagaimanapun hari-hari bahagianya sebagai pengantin baru bersama Iriana nyaris dihabiskan di kaki Burni Telong hingga usia kehamilan putra pertamanya 7 bulan. Jangan berlama-lama membiarkan kecintaannya kepada Gayo bertepuk sebelah tangan.

Tembok istana tetap buatan manusia, selalu ada jalan untuk di bobol terlebih untuk kebaikan. Tidak mesti langsung ke dia yang dipagari aturan protokol kepresidenan yang ketat. Pintu lain ada bisa melalui istrinya, anaknya, adiknya, ibunya dan tentu saja melalui jalur resmi pemerintahan, yakni para mentri-mentrinya. Enti daten nge liwet keperas i sempak jele (jangan sudah lewat ikan Keperas baru dilempar jala). []

Penulis saat peluncuran buku Jejak Jokowi di Gayo, Solo 28 April 2017. (foto : Ning Kintamani )

Comments

comments

Install Lintasgayo for Android Smartphone

Comments are closed.

Scroll To Top