Free songs
Home / Features / Guru Matematika Penyebab Korupsi?

Guru Matematika Penyebab Korupsi?


[Features]

Zuhra Ruhmi *

Zuhra Ruhmi

TERINGAT ketika awal-awal menjadi mahasiswa pada tahun 2017. Menjadikan saya sebagai calon guru matematika merenung. Benarkah salah satu penyebab korupsi di negeri ini adalah guru matematika?

Bermula ketika salah seorang dosen, Pak Hasan Munir bertanya kepada kami para mahasiswanya tentang operasi matematika yang sangat sederhana yaitu tentang pengurangan. Ya, pengurangan sederhana sebagaimana yang telah dipelajari sejak kelas satu sekolah dasar.

“Bagaimana caranya jika ingin mengurangkan 5 dari 7” tanya pak Hasan Munir ketika membuka kelas siang itu. Salah seorang teman menjawab dengan menunjukkan 7 jari dan menutup 5 jari yang lain. Sisa jari yang tidak ditutup adalah hasil pengurangannya yaitu 2.

“Benar” kata pak Munir, dosen geometri ini.

Kemudian beliau kembali bertanya, bagaimana jika 25 yang dikurangkan dengan 7.  Kelas riuh, “saya pak”, “saya pak” kata mahasiswa saling bersahutan satu dengan yang lain. Lagi-lagi pertanyaan mudah. Salah satu mahasiswa yang ditunjuk oleh pak Munir manjawab. Pertama angka lima dikurang 7 pak, karena 5 tidak bisa dikurang tujuh maka dipinjam dari angka 2 pada puluhan yang di depannya, sehingga 5 menjadi 15. Kemudian angka 15 dikurang dengan 7 hasilnya 8. Karena angka 2 telah dipinjam 1 maka bersisa 1. Jadi 25 dikurang 7 adalah 18.

Semua setuju” Kata Pak Munir. “setuju Pak”, jawab kami para mahasiswa bersemangat.

“Sejak kapan kalian tahu cara ini?”, tanya Pak Munir lagi.

“Sejak sejak sekolah dasar Pak”, jawab salah seorang teman yang juga mewakili jawaban semua mahasiswa di kelas itu.

Ketika tadi angka 5 tidak bisa dikurangkan dengan 7 dan kalian meminjam 1 dari angka 2 yang terletak pada puluhan. “kapan kalian kembalikan?” Tanya pak Munir. Kami semua mulai berfikir karena tidak pernah mengembalikan pinjaman dari puluhan itu.

Nah, inilah yang menyebabkan korupsi merajalela kata pak Munir lagi. Kalian diajarkan untuk meminjamkan sesuatu namun tidak di ajarkan untuk mengembalikan lagi. Inilah kenyataan yang sedang kita hadapi sekarang. Hanya mengajarkan cara meminjamkan tapi lupa mengajarkan setiap barang yang dipinjam harus dikembalikan

“Jadi harusnya bagaimana pak?” tanya seorang teman.

Harusnya kalian jangan mengajarkan untuk meminjam yang kemudian tidak dikembalikan. Tapi kata pinjam diganti dengan kata meminta. “apakah ketika kita meminta sesuatu kita harus mengembalikannya lagi?” tanya pak Munir.

“Tidak pak” jawab mahasiswa serentak.

Semua kita pasti pernah belajar pengurangan bukan? Apakah anda juga di ajarkan pengurangan dengan cara meminjam? Jika jawabannya “ya” maka mulai dari sekarang mari kita ubah kata pinjam pada pengurangan berganti dengan kata meminta. Maka disana kita akan mengajarkan karakter suka menolong dan berbagi. Karena pada pengurangan, kita tidak akan meminta jika tidak benar-benar butuh dan angka yang terletak di depannya (puluhan ratusan dan seterusnya) akan memberi karena memang ia punya kelebihan dan kelapangan untuk bisa berbagi.

Tulisan ini tidak ingin menyalahkan guru-guru yang telah memberikan ilmu pengurangan. Tapi bertujuan untuk membenarkan sesuatu yang keliru. Karena tujuan pendidikan tidak hanya menjadikan siswa mempunyai nilai dalam bentuk angka yang tinggi hingga memenuhi kriteria ketuntasan minimum sekolah tapi juga harus berperan untuk meningkatkan nilai sosial dan keagamaan yang tinggi pula.[SY]

*Penulis adalah Mahasiswa Pascasarjana Unsiyah, wartawan LG.co dan Panitia Puisi Menolak Korupsi  (PMK – #45) Takengon.

Comments

comments

Install Lintasgayo for Android Smartphone

Comments are closed.

Scroll To Top