Free songs
Home / Opini / Cilet-cilet: Gerakan Sadar Lingkungan Perupa Aceh di HUT Kota Banda Aceh 2017

Cilet-cilet: Gerakan Sadar Lingkungan Perupa Aceh di HUT Kota Banda Aceh 2017


Oleh Dedy Afriadi

BERAWAL dari sebuah diskusi ringan di tepi krueng Aceh mengawali silaturrahim. Jumpa teman lama, ceritanya. Kami bernostalgia. Bercerita panjang lebar, mengulang kenangan, mengingat memori, agenda, kekonyolan hingga hal-hal penting maupun tidak penting Semuanya meulawok-lawok dari siang menjelang sore.  Pertemuan itu pada awal pada bulan Januari silam.

Adalah Adi Klat, Flas dan Kamar Agam yang memulainya dengan masing-masing cerita. Hingga bermuara  pada tekad untuk membuat sebuah acara kesenian, yang ketika itu masih iya atau tidak, mampu atau tidak. Hingga mereka mencoba untuk lebih spesifik pada acara pameran seni rupa.

Seiring pameran seni rupa yang coba di usung pun serasa makin serius  dan fokus. Serta mencari ivent lain yang waktu pelaksanaannya dengan pameran bisa bersamaan. Paling tidak sama-sama mendukung kedua acara. Hingga akhirnya sampailah pada titik pembicaraan tentang Hari Bumi yang juga bertepatan  dengan hari jadi kota Banda Aceh ke 812 tahun.

Diskusi demi diskusi dilakukan. Sampai pada titik disepakatinya tajuk “cilet-cilet”. Agak terasa satir memang. Maklum saja karena membuat pameran yang mengikuti standar bukanlah perkara gampang. Dana besar harus dikeluarkan bahkan jika tanpa sponsor pelaksanaan pameran ini menjadi semakin sulit. Oleh karena itu meskipun “cilet-cilet” karya yang dipresentasikan nanti tidaklah “cilet-cilet”.

Pelaksanaan pameran-pun di upayakan sebaik mungkin. Suasana rapat dalam menyusun waktu, tema, materi serta hangatnya forum diskusi menggerakkan 3 trio ini untuk mengajak rekan-rekan perupa lainnya untuk urung rembuk demi kesuksesan sebuah pameran. Keyakinan untuk membuat pameran ini pun menjadi semangat tatkala hadirnya seorang dosen Unsyiah, Pak Ismawan  yang juga perupa lulusan Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta.

Proses panjang persiapan pameran dari Januari hingga Awal April semakin matang. Dukungan para perupa terus mengalir. Perlahan lahan menjadi nyata. Meskipun sempat pada awalnya mengalami kesulitan administrasi. 50 kuota lukisan yang di targetkan untuk mengisi ruang pameran di gedung tertutup Taman Seni dan Budaya Aceh akhirnya terpenuhi.

Pameran seni rupa berjudul Cikaci Kaci dalam rangka hari bumi ini diharapkan dapat tumbuh kesadaran masyarakat untuk menjaga lingkungan agar stabilitas bumi tetap terjaga. Jangan karena batu permata lalu gunung diporak-porandakan demi kesenangan semata. Hari ini pohon menjadi spesies langka. Manusia dengan mudah memotong tanpa menanam kembali. Pohon tumbang banjir datang dan yang terjadi adalah penghuni negeri tiada tempat berpijak. Ini potret miris dunia hari ini. Setiap musim hujan, longsor dan banjir bandang sepertinya menjadi sahabat penduduk masyarakat planet ini.

Para perupa Aceh yang mengambil andil dalam pameran hari ini setidaknya menawarkan pesan baru kepada masyarakat melalui karya seninya tentang arti kehidupan dan untuk kota Banda Aceh yang sudah memasuki hari jadinya yang ke-812  tahun.

Karya seni yang dipresentasikan ke ruang publik adalah kado kecil kami, bahwa para seniman dan parupa Aceh masih mengingatmu. Harapan dan doa kami semoga esok lebih baik dari hari dan Aceh lebih bermantabat di mata dunia.

Akhirnya tulisan dalam ruang kecil ini adalah sebuah proses para penggagas  dan  ilustrasi dasar kepada para penikmat dan apresiator untuk masuk dan melihat metafor-metafor baru melalui karya seni perupa Aceh. Selamat berpameran.[SY]

Penulis adalah alumnus magister Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, dosen di Jurusan Seni Rupa dan Desain, Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Aceh

Comments

comments

Install Lintasgayo for Android Smartphone

Comments are closed.

Scroll To Top