Free songs
Home / Keber Ari Gayo / Rizalihady : Jangan Main-Main Dengan Pendidikan !

Rizalihady : Jangan Main-Main Dengan Pendidikan !


BAGI kalangan pendidikan di Aceh Tengah tentu tidak asing dengan nama Drs Rizalihady, sosok berpostur tinggi besar dengan kepala selalu botak ini lahir 17 Agustus 1963 di Kampung Toweren Toa Kecamatan Laut Tawar.

Masa kecilnya tenaga pendidik yang akrab di panggil Rizal menamatkan Sekolah Dasar di Toweren, Sekolah Menengah Pertama Negeri 2 Takengon, Sekolah Pendidikan Guru Agama (PGA selama 6 Tahun) dan Rizalihady mengambil S1 di Universitas Negeri Medan, Fakultas Sastra Jurusan Bahasa Inggris 1988.

Sosok yang memiliki motto “Jangan Main-Main dengan Pendidikan Bung” ini telah menjadi guru sejak 1991 di  SMA Negeri 2 Aceh Singkil selama 4 tahun. Selanjutnya pindah sebagai guru ke SMA Negeri 3 Takengon yang saat ini menjadi SMA Negeri 4 Takengon.

Berkat dedikasi dan lulus menjadi calon Kepala Sekolah (Cakep) untuk pertama kalinya Drs. Rizalihady di percaya mengelola Sekolah Menengah Pertama di 1 Bebesen yang sekarang SMPN 1 Bebesen di Ratawali Kecamatan Kute Panang selama dua tahun.

Kemudian berkat kemampuannya mengelola Sekolah Tingkat Pertama ini, Rizal dipercaya menjadi kepala SMP Percontohan Negeri 1 Pegasing selama lebih satu Repelita (6 tahun).

Sejalan dengan program pemerintah dan kebijakan kepala Dinas Pendidikan Aceh Tengah Rizalihady dimutasikan lagi  sebagai kepala sekolah pada SMP Negeri 6 Takengon, selama satu tahun.

Selanjutnya, untuk pertama kalinya Rizalihady dipercaya sebagai kepala SMA  Negeri 6 Takengon di Kecamatan Silih Nara selama 2 Tahun, SMP unggul 10 Takengon Kebet Kecamatan Bebesen.

Foto Zulhams Syam

Pernah menjadi pengawas Sekolah Menengah Pertama di Dinas Pendidikan Kabupaten Aceh Tengah, 2014 selama 4 bulan, dan  terakhir beliau ditugaskan mengelola Sekolah di  Sekolah Menengah Pertama Negeri 27 Takengon di Kecamatan Bintang sampai dengan sekarang.

Dimanapun tempat bertugas, Drs. Rizalihady tetap berkomitmen untuk memprioritaskan peningkatan kualitas pendidikan bila dibanding dengan sarana fisik sekolah kendatipun hal tersebut merupakan salah satu faktor penunjang peningkatan pendidikan.

Selama dia mengelola Sekolah  Drs. Rizalihadi, kerap memberikan motivasi terhadap tenaga pendidik maupun siswanya dengan memberikan rewod terhadap prestasi di masing-masing bidang studi di sekolahnya.

Kebersihan dan kenyamanan lingkungan sekolah dimanapun Drs. Rizalihady ditugaskan tetap menjadi perhatian disamping mengejar target kelulusan siswa asal dia memimpin sekolah.

Diusianya, setengah abad lebih ini, Drs. Rizalihady mendarmabaktikan tenaga dan pikirannya pada dunia pendidikan, begitupun disetiap kesempatan ia berbicara selalu membawa motto Jangan main-main dengan pendidikan bung.

Drs. Rizalihady, selain sebagai pengelola sekolah juga aktif diberbagai organisasi kepemudaan seperti di kelembagaan Pemuda Panca Marga (PPM), dan pernah menjadi ketua Pemuda Laskar Merah Putih Provinsi Aceh,  terlibat aktif sebagai pembina di Pramuka hingga saat ini.

Berbicara dengan kondisi pendidikan Aceh Tengah saat ini, Drs. Rizalihady menyatakan perlu adanya pembenahan sistem pendidikan karena menurutnya pendidikan di tanoh Gayo ini jauh tertinggal bila di banding dengan daerah lain di Aceh.

Menurutnya pendidikan di Aceh Tengah pernah jaya di Aceh dan nasional bahkan Takengon pernah menjadi lokomotif pendidikan Aceh.

Untuk itu, Drs. Rizalihady mengharapkan sudah saatnya tenaga pendidik dan para pemikir dunia pendidikan baik di Aceh Tengah maupun tokoh masyarakat Gayo yang peduli pendidikan yang saat ini berdomisili di luar daerah agar dapat memberi saran dan kontribusi pemikiran sehingga pendidikan Negeri Antara ini dapat kembali merebut kejayaannya seperti  masa lalu.

Foto FB Zulham Syam

Diakhir, pembicaraannya, sosok yang berpenampilan sederhana ini mengharapkan kepada pimpinan daerah yang baru, dapat memperhatikan sektor pendidikan ini, karena menurutnya pendidikan merupakan investasi tak dapat dinilai bagi kemajuan Aceh Tengah kedepan.

Untuk itu, dalam konteks pendidikan dia berharap agar dilakukan seleksi yang ketat atau fit and proper test khusus untuk jajaran Dinas Pendidikan tersebut.

“Begitu juga harapan kita terhadap para kepala dinas, badan, kantor maupun camat agar dilakukan hal serupa sehingga tidak ada indikasi kolusi maupun neopotisme yang mengarah pada sistem feodal (rezim),” harap guru ini.

Disinggung apa yang harus menjadi salah satu syarat mutlak menjadi pimpinan, Rizal menyatakan antara lain yang bersangkutan harus cinta terhadap merah putih, memiliki jiwa  Bhineka Tunggal Ika dan cinta terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia, selain persyaratan khusus lainnya. [Abdul Rahman]

Comments

comments

Install Lintasgayo for Android Smartphone

Comments are closed.

Scroll To Top