Free songs
Home / Beru Bujang / Pokat Kocok dan Pemuda Big Bro

Pokat Kocok dan Pemuda Big Bro


Menjadi pebisnis tidak perlu banyak modal, yang penting ilmunya. Jika ada orang bertanya, memang dengan ilmu itu cukup untuk menjadi pebisnis hebat tanpa uang? Jawabannya hanya singkat. Uang tidak akan ada lantaran karena berawal dari ilmu. Sedangkan ilmu tidak mesti harus memakai uang”

Oleh Junaidi A. Delung

MENARIK, saya baru mendengar namanya di kota Kutaraja ini. Namanya mungkin terbilang asing di telinga kita, khususnya bagi masyarakat tetap kota Banda Aceh. Akan tetapi pada umumnya, bagi mahasiswa Gayo yang tinggal di kota berjuluk serambi mekah ini, tentunya sudah tahu menahu bahwa hal tersebut memang benar adanya.

Sebelumnya saya menjadi penasaran atas apa yang ia ucapkan,  dan terpaku heran hingga bertanya-tanya, mungkin kah itu benar? Pasalnya, saya baru tau betul tentang nama itu,  dan kalaupun ada, pasti hanya nama bahannya yang sama, tidak untuk cara pengolahannya.

Berbeda dari yang sebenarnya, memang sudah seharusnya dan wajar. karena hal tersebut merupakan bagian dari teknis dari para pembisnis untuk menarik konsumen sebanyak-banyaknya, sehingga banyak dikenal dan mendapat keuntungan yang banyak. Familiar dan banyak dicari orang-orang luar. Nah itu berbicara teknisnya.

Kembali ke semula, bahwasanya rasa penasaran akan membuat seseorang betul-betul serius untuk mendapatkan kepastian dan mencari tau jawaban yang sebenarnya, seiring rasa pensaran yang masih memuncak. Dilihat dari gambarannya memang terlihat unik, bahkan dari namanya juga kelihatan menarik. Pastinya, itu akan menarik sekali lantaran jarang didengar dan heran kalaupun mendengarkannya. Kalau bagi yang awam pemikirannya dia akan tersenyum dan tertawa. ya tertawa, realitanya demikian.

Modal utamanya hanya satu saja, cukup buah Alpokat. Ya, buah pokat, begitu urang Gayo menyebutkan. Buah yang segar yang kemudian diolah semenarik mungkin. seperti halnya jus-jus yang telah ada pada umumnya. Namun ini sedikit berbeda dari jus yang biasanya, beda tipis dan pastinya masih steril rasa alpokatnya. Serat dan rasanya masih asli dibandingkan dengan jus biasanya yang rasa buah alpokatnya sudah berkurang. Dengan itulah pemuda ini menamainya dengan Pokat Kocok Big Bro. Pokat yang dikocok dengan kekhasannya, yang diinovasi oleh seorang pria berbadan besar.

Nama pokat kocok mengingatkan saya pada sebuah warung makan di jalan lintas Meulaboh-Banda Aceh, tepatnya di kecamatan Johan Pahlawan. Namun sedikit berbeda dengan yang disana. Rumah makan itu menamainya dengan Mie Kocok. Mie yang sama halnya dengan mie pangsit, namun disisi pengolahannya yang berbeda. biasa-biasa saja, tapi yang terlihat beda, dari namanya.

Kembali ke Pokat Kocok Big Bro, dari pemuda pebisnis yang luar biasa. Itulah namanya, bagi yang mendengarnya pasti tersenyum dan terheran. Namun tidak bagi pemuda asal Takengon ini. Ia akan terus berkreasi untuk menjadi pembisnis yang handal, pebisnis yang baik, dan tentu menjadi seorang yang cerdas dalam membuat sesuatu hal yang baru yang bisa menjadi inspirasi untuk berjalannya bisnis tersebut.

Disamping itu, ia ternyata seorang yang berjiwa besar untuk bisa meminimalisir dan mengolah sesuatu buah, hasil dari tanah kelahirannya sendiri. Ia mencoba menjadi penengah dalam memanfaatkan hasil dari buah-buahan di kampung halamannya (Gayo), dan memikirkannya untuk mendapat keuntungan yang besar.

Selepas ditanyakan, ia memaparkan bahwa ternyata ia mempunyai ukuran dan tujuan tertentu dari mengolah buah segar yang biasa, dan kemudian menjadi luar biasa.

“Disini kita mencoba sesuatu yang unik, yang dapat dimanfaatkan dan dijadikan sebagai sesuatu makanan yang menarik. Disamping bagaimana caranya dari harganya yang berkisaran Rp. 2.000 perkilonya, bisa menjadi Rp. 10.000 perbuahnya,” jelasnya dengan semangat.

Lalu bagaimana bisa muncul ide kreatif tersebut? Lontarku menanyakannya kembali. Ia menjawab, “apa salahnya kita menjadi pembisnis yang hebat. Ya kita coba aja untuk menjadi yang terbaik, yang penting halal dan tidak ada sangkut paut,” tegasnya dengan suaranya yang fals itu.

Di Aceh, khususnya Gayo terkenal dengan buah pokat, sayur-mayur dan kopinya yang mendunia. Berbagai negara melirik kopi arabika Gayo, lantaran karena kenikmatannya yang luar biasa. Dengan demikian, selain hasil yang dipaparkan dan dilirik dunia lewat kopi tersebut, pemuda ini juga mencoba mengembangkan pokat kocok big bro nya menjadi lebih berkembang juga. Tidak hanya di Aceh, akan tetapi dikacamata nasional dan internasional, sebagaimana makanan-makanan yang lain.

Bagi Usman Qari, pemuda Alumnus Fisip Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) ini, pokat kocok big bro adalah suatu nama yang ulasannya sangat menarik bagi dirinya, dan tentunya mempunyai makna penting dalam kepribadiannya. sebuah nama yang filosofisnya diambil dari dirinya sendiri, yang menggambarkan orang besar, tapi luar biasa. Dengan bekal ide yang tinggi, apapun yang ingin dicapai akan terus ditingkatkan dengan daya pikir dan nilai ilmunya yang selama ini ia kuasai.

Bekal ilmu yang pernah ia pelajari sebelumnya di jurusan perpajakan Universitas Syiah Kuala itu, menjadi catatan penting baginya, dan memanfaatkan hal tersebut dalam sebuah perdangangan dan bisnis. Dari ilmu ia dapat, walaupun tidak selesai pada akhirnya, akan tetapi hal tersebut luar biasa sekali dalam pandangannya. Dan ia mencoba menerapkannya dan hanya membutuhkan tempat, dan hari ini ia berada di Maroon Cafee, di Lampineung, tempat dimana banyak mahasiswa Gayo berkumpul disetiap malamnya sambil internetan dan tentunya ngopi khas ala Gayo.

Selain itu, sebagai seorang berjiwa bisnis ia juga pernah menjajaki beberapa bisnis lainnya seperti menjual barger di tempat yang sama beberapa tahun yang lalu. Namun sayang, ia hanya bertahan hanya sampai 6 bulan saja, karena keadaan dan peminat yang kurang menjangkau. Dari bisnis-bisnis lain, dirinya juga mengatakan sebelumnya juga ada beberapa tahap yang ia jual untuk melanjutkan bisnisnya itu. Namun lagi-lagi tidak bisa bertahan lama sesuai dengan harapannya. Merental mobil, menjual biji kopi, dan seterusnya, dan pada akhirnya hingga menemukan bisnis baru menjadi penjual pokat kocok.

Mantan Ketua Himapol Unsyiah ini juga mengharapkan agar pekerjaan ini nantinya dapat menjadi berharga di masyarakat, khususnya masyarakat Gayo.

“Do’akan saja, setidaknya jika sudah memungkinkan dapat disebarluaskan lagi di beberapa kota, membuka cabangnya dimana-mana, dan membawa nama Big Bro,” pungkasnya.

Usman Qari S.IP, merupakan salah satu aktifis mahasiswa di Banda Aceh yang aktif di berbagai bidang kesenian dan organisasi. Ia juga pernah menjadi ketua Himpunan Mahasiswa Politik Unsyiah Banda Aceh periode 2014 yang lalu.

Pemuda yang beralamatkan Arul Putih, Silih Nara, Aceh Tengah itu, juga merupakan salah satu anggota dari kesenian Pang Uten. Group seni musik yang lumayan terkenal di Banda Aceh dan sekitarnya. Beberapa tahun ini, karya mereka mulai lengket di tengah masyarakat Aceh bahkan bisa jadi di luar Aceh.

Tepat pada tanggal 15 April 2017, ia dan kawan-kawan akan mengisi acara di Aceh Barat, yang di undang untuk memeriahkan cafe baru milik kawannya yang kebetulan baru dibuka. Semoga berhasil dan sukses terus.[]

Comments

comments

Install Lintasgayo for Android Smartphone

Comments are closed.

Scroll To Top