Free songs
Home / Bage / Beragamakah Suku Manti ?

Beragamakah Suku Manti ?


Oleh: Husaini Muzakir Algayoni*

“Agama yang dianut oleh umat manusia ada yang bersifat primitif dan ada yang telah meninggalkan fase keprimitifan. Kita memang telah memeluk tauhid monoteisme karena telah meninggalkan fase keprimitifan tapi suku manti yang jauh di pedalaman  hutan sana apakah masih hidup dalam keprimitifan atau tidak.”

SUKU Manti menjadi trending topic beberapa pekan pasca beredarnya video yang menampakkan sosok misterius dan dalam video tersebut disebut-sebut suku Manti. Kemudian beberapa pakar pun angkat bicara tentang keberadaan suku manti ini sampai Menteri Sosial pun memberikan perhatian khusus kepada suku pedalaman yang ada di Indonesia walaupun sebelumnya telah banyak dibahas oleh media online lintasgayo.co maupun dalam tabloid LintasGAYO.

Keberadaan suku Manti hanya mitos belaka dan ada juga yang mengatakan suku manti ini benar-benar ada, jika keberadaan suku manti ini benar-benar ada maka keberadaannya sangatlah primitif sekali karena dari  penjelasan para pakar maupun yang pernah melihat sosok misterius ini bahwa ia jauh dari kehidupan khalayak ramai, tempat tinggalnya di gua-gua, makanannya Kumer (salak hutan), ikan mentah, tidak mau bertemu dengan orang lain dan tidak pakaian seperti layaknya manusia modern sekarang.

Kalau memang benar adanya sosok misterius ini maka yang menjadi tanda tanya bagi  penulis sendiri adalah, apa kepercayaan atau agama yang di anut oleh suku manti ini ?. Apakah sudah memeluk agama Islam atau tidak punya agama sama sekali, dari kalangan pembaca mungkin ada yang mengetahui agama suku manti ini maka harapan  penulis untuk bisa menjelaskan kepada pembaca tentang agama manti tersebut yang sebenarnya. Karena penjelasan dalam tulisan ini hanyalah bersifat pemikiran dari salah satu pemikir Islam yang ada di Indonesia.

Harun Nasution seorang pemikir Islam dan pakar dalam bidang teologi Islam memberikan penjelasan bahwa agama yang dianut oleh umat manusia ada yang bersifat primitif dan ada yang telah meninggalkan fase keprimitifan. Adapun agama-agama yang terdapat dalam masyarakat primitif ialah agama dinamisme, animisme dan politeisme. Sedangkan masyarakat yang telah meninggalkan fase keprimitifan tersebut agamanya adalah agama monoteisme.

Agama dinamisme adalah agama yang mengandung kepercayaan pada kekuatan gaib yang misterius, dalam bahasa ilmiah kekuatan gaib itu disebut mana dan dalam bahasa Indonesia tuah atau  sakti. Tujuan beragama disini ialah mengumpulkan mana sebanyak mungkin, dengan jalan demikian seorang anggota masyarakat primitif dapat memperoleh mana yang diperlukan untuk memelihara keselamatan dirinya dari  bahaya-bahaya yang selalu mengancam hidup manusia.

Animisme adalah agama yang mengajarkan bahwa tiap-tiap benda, baik yang bernyawa maupun yang tidak bernyawa mempunyai  roh. Tujuan agama dari sini ialah mengadakan hubungan  baik dengan roh-roh yang ditakuti dan dihormati itu dengan senantiasa berusaha menyenangkan hati mereka.

Sementara politeisme mengandung kepercayaan pada dewa-dewa, dewa-dewa dalam politeisme telah mempunyai tugas-tugas tertentu dan mereka meyakini bahwa dewa-dewa lebih berkuasa. Oleh karena itu tujuan hidup beragama disini bukanlah hanya memberi sesajen dan persembahan-persembahan kepada dewa-dewa itu tetapi juga menyembah dan berdo’a kepada mereka untuk menjauhkan amarahnya dari masyarakat yang bersangkutan.

Dalam pemahaman politeisme disini perlu dicatatat bahwa kalau dewa terbesar itu saja disembah dan  dihormati sedang dewa-dewa lain ditingkalkan paham tersebut telah  keluar dari politeisme dan meningkat pada Henoteisme. Henoteisme ini mengakui satu tuhan untuk satu bangsa dan bangsa-bangsa lain mempunyai tuhannya sendiri-sendiri seperti Yahudi mempunyai tuhan nasional yang bernama Yahweh.

Kemudian dalam masayarakat yang telah meninggalkan fase keprimitifan agama yang dianut bukan lagi agama dinamisme, animisme, politeisme atau henoteisme tetapi agama monoteisme, agama tauhid. Dasar ajaran monoteisme adalah Tuhan satu, Tuhan Maha Esa, Pencipta Alam Semesta.

Disinilah letak perbedaan agama-agama primitif dengan agama monoteisme, dalam agama primitif manusia menyogok dan membujuk kekuasaan supernatural dengan penyembahan dan saji-sajian supaya mengikuti kemauan manusia, sedangkan dalam agama monoteisme manusia sebaliknya tunduk kepada kemauan Tuhan.

Demikian penjelasan secara singkat dari agama-agama primitif tersebut dan diakhiri dengan agama Tauhid yang kita pegang dan kita peluk dalam ajaran agama Islam. Untuk lebih jauh mengetahui tentang permasalahan ini bisa dibaca dalam buku (IDBA) Islam ditinjau dari  berbagai aspeknya jilid I. Dalam buku yang ditulis oleh Harun Nasution ini, ada pemikir Islam lain yang tidak setuju tentang agama yang dianut oleh manusia dari primitif ke pasca primitif. Seolah-olah tauhid itu ada revolusi  padahal semenjak Nabi Adam telah dibawakan agama tauhid yang sebenarnya yaitu hanya menyembah pada Allah  swt.

Namun disini tidak membahas masalah perdebatan buku ini yang mana inti dari tulisan singkat ini seperti judul diatas hanya mempertanyakan apa kira-kira agama suku manti ini ?, apakah agamanya dinamisme, animisme atau politeisme karena kalau dilihat cara ia hidup maka ia bisa kita bilang masih berada dalam kehidupan yang primitif sekali. Atau siapa tahu walaupun ia hidup dipedalaman hutan yang jauh dari khalayak ramai, mungkin saja ia telah memegang keyakinan dengan agama monoteisme. والله أعلم بالصّواب

*Penulis: Mahasiswa Prodi Aqidah Filsafat Islam, Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-Raniry Banda  Aceh. Kolumnis Media Online LintasGAYO.co. Email: delungtue26@yahoo.co.id

Comments

comments

Install Lintasgayo for Android Smartphone

Comments are closed.

Scroll To Top