Free songs
Home / Keber Ari Ranto / Ekonomi / Ketika Harga Bibit Tak Lagi Berpihak Pada Petani Garam

Ketika Harga Bibit Tak Lagi Berpihak Pada Petani Garam


BIREUN-LintasGAYO.co: Yusniar (35) dengan kedua tangangnya berusaha memasukan garam ke dalam kantong plastic ukuran 1 Kg, dari raut wajah yang di pancarkannya perempuan janda ini terlihat ia begitu lelah. Maklum keseharian dirinya untuk mencukupi kebutuhan hidup untuk tiga anaknya yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar perempuan berkulit hitam manis ini terpaksa harus bermain api untuk memasak garam di tempat pengolahan garam miliknya di Desa Tanoh Anoe Kecamatan Jangka Kabupaten Bireuen.

Sekilas potret yang terlihat, Senin,(10/4/2017) ketika media ini mengunjungi tempat pembuatan garam di Desa Tanoh Anoe Kecamatan Jangka. Desa ini tak jauh dari tempat tinggal Gubernur Aceh terpilih Irwandi Yusuf dari Desa Cot Bada Kecamatan Peusangan jaraknya hanya sekitar lebih kurang 8 km.

Kepada media ini, Yusniar sedikit berbagi kisah tentang proses pembuatan garam, mulai biaya modal sampai biaya keutungan yang didapat yang sudah mulai ia lakukan sejak belasan tahun.

Pekerjaan ini ia lakukan merupakan pekerjaan tetap untuk mencari nafkah, tak hanya Yusniar, hampir semua warga Desa Tanoh Anoe melakukan pekerjaan membuat garam.

Diakibatkan harga penjualan bibit garam yang mahal, hasil yang dapatkan petani garam ini tak sebahagian seperti tahun-tahun sebelumnya.

Proses pembuatan garam yang sudah ia geluti untuk sekarang ini untuk hasil keuntunganya tak lagi sebahagian yang didapatkan dulu. Memasuki tahun 2017 ini akibat mahalnya pembelian bibit dalam sekali memasak Garam petani garam hanya mendapatkan keutungan 18-20 ribu.

Satu bibit garam dengan berat 50 Kilogram dijual dengan harga Rp.125 ribu. Dalam ukuran 50 Kg bibit hanya mampu menghasilkan garam 50 Kg, dengan harga jual garam kepada agen Rp.5000 ribu. Bibit garam ini dibeli dari Madura yang didatangkan oleh agen-agen untuk dijual kepada mereka.

“Kalau sekarang keutungan yang kami dapat kecil. Ini karena harga bibit garam sudah mahal, Tahun 2014-2016 harga bibitnya murah sedikit sekitar dembolan puluh ribu rupiah sampai dengan seratus ribu rupiah. Untuk tahun 2017 ini harga bibit sudah mahal. Keutungan yang kami dapat pun sudah kecil,” begitu keluh wanita yang biasa dipanggil Niar ini.

Lamanya proses memasak garam yang memakan waktu hampir 3 hingga 4 jam dalam sehari petani garam hanya mampu memasak 3 kali. Dalam satu kali masak bibitnya ukuran 50 Kg menghasilkan garam 60 kg berarti dalam sehari hanya mampu memasak 3 kali keutungan yang didapatkan dalam sehari cuma 60 ribu dengan durasi 1 kali masak mempunyai keutungan dua puluh ribu rupiah. Harga garam tersebut mereka jual kepada agen dengan harga lima puluh ribu rupiah per Kg.

“Uang 60 ribu hanya cukup untuk beli ikan untuk kebutuhan rumah dan biaya jajan sekolah anak-anak. Belum di potong biaya beli kayu bakar untuk masak Garam, makanya kehidupan kami petani garam tak akan sejahtera,” kata Niar didampingi beberapa petani garam lainya.

Untuk biaya pembelian kayu bakar petani garam membeli kayu dari agen yang diantar ketempat dengan harga kayu satu mobil Svehrote Rp.250.000 ribu, untuk kayu pohon kelapa yang didatangkan dari kilang kayu diangkut dengan menggunakan truk dump kayu mereka beli satu mobil truk dump Rp.500.000.

Keluhan yang sama juga di ungkapkan Junaida (57), perempuan ini sampai saat ini belum menemukan kendala yang berarti dalam mengolah garam, kendala yang mereka hadapi rata-rata dikarenakan mahalnya harga bibit tidak sesuai dengan biaya kebutuhan yang dikeluarkan ketika proses memasak garam. Pengeluaran yang dimaksud petani garam ini mulai beli kayu sampai pada proses penjualannya yang murah.

“Hak drojih kameuhai tablo bibit, wate tapubloe sira kon beu meuhai,(Seharusnya ketika bibit mahal dibeli, harga jual garam juga dibeli dengan harga mahal),” keluh Junaida.

Harapan Kepada Pemimpin Terpilih

Mewakil seluruh petani garam di Desa Tanoh Anoe, Yusniar dan Junaida berharap kepada Gubernur dan Bupati yang terpilih baru Irwandi Yusuf dan Bupati Bireuen dibawah tangan H.Saifannur, S,Sos, untuk dapat memberi perhatian lebih bagi mereka petani garam dipesisir kecamatan Jangka.

Dengan cara mensubsidikan harga pembelian bibit garam, atau menyediakan tempat khusus bagi mereka petani garam untuk membuat bibit sendiri tanpa harus mendatangkan bibit dari Madura, yang mungkin harga jual bibitnya sudah diolah oleh para agen.

“Semoga pemimpin yang kamoe pilih baroesa, jeut geubrie perhatian leubeh kepada kamoe petani garam, dengan cara beugeu baye sitigoh harga bloe bibit le pemerintah, untuk keringan bagi kamoe wate meubloe bibit garam,” demikian harapan petani garam Desa Tanoh Anoe. Semoga jerit petani garam ini bisa didengar oleh pemimpin kita yang baru terpilih. Semoga..!

(Fajri Bugak)

Comments

comments

Install Lintasgayo for Android Smartphone

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top