Free songs
Home / Features / Ketika Cinta tak Bertasbih

Ketika Cinta tak Bertasbih


Oleh: Husaini Muzakir Algayoni*

“Di dunia ini siapa bisa hidup tanpa hati ?”

Tergelatak dan tak berdaya dalam alunan cinta, ia terbaring diatas sajadah dengan tetesan air mata. Merenung dikegelapan malam membawa kesedihan, dengan suasana sunyi ia hanya ditemani oleh desahan angin malam serta rintikan air hujan yang menyapa jiwanya yang lagi bergejolak. Rindu membawa luka itu ia hempaskan dipesisir pantai saat senja hari, rindu yang dimanjakan dengan bahasa cinta yang begitu indah namun bahasa yang indah itu berubah menjadi sebuah tragedi yang menakutkan hingga ia hampir menjadi musyahid cinta.

Tatkala suatu keadaan datang dengan pilu, ia merenung dan menyendiri dalam keramaian orang. Ia hanya menggoreskan pena dengan lafaz yang berasal dari hati dengan butiran-butiran kelabu dan juga dengan sentuhan kerinduan disaat tak bisa berbicara.

Sang musyahid cinta itu boleh saja cintanya tak bertasbih namun ia berusaha untuk tidak menjadi musyahid cinta yang sesungguhnya seperti dalam novel “Musyahid Cinta”, ia lukiskan kesedihannya melalui goresan pena diatas kertas untuk menghilangkan rasa luka yang ada dalam hatinya. Sang musyahid cinta itu boleh saja cintanya tak kesampaian pada seseorang yang ia idamkan namun ia tak mau hilang semangat hidupnya, oleh karena itu ia tuangkan semangat hidupnya melalui goresan pena dan dengan goresan pena itulah ia bertasbih dengan melantunkan butiran-butiran hikmah yang menyejukkan hati.

Ketika cinta seseorang tak kesampaian maka bagi orang yang berpikir dengan akal jernih ia bisa mengambil ibrah dari apa yang telah ia alami, entah ia menjadi sosok yang lebih baik dari sebelumnya atau boleh jadi seperti tulisan diatas ia mendapat inspirasi menulis; dengan rasa galau ia goreskan pena diatas kertas dan setiap kata yang ia tulis mengalir begitu saja seperti aliran air mata ketika ia menangis diatas sajadah.

Sebuah kisah dari novel yang sangat penulis favoritkan bahkan novel itu menjadi inspirasi bagi penulis sendiri untuk bisa merangkai kata, sebuah kisah yang cintanya tak kesampaian hingga akhirnya ia terjatuh tak berdaya dan hanya bisa menangis diatas kasur. Zainuddin namanya dalam novel itu, bola matanya basah saat permatanya hilang namun ia bangkit dari keterpurukan cinta dan semangat menuju kesuksesan Zainuddin tekadkan walaupun dalam keadaan berlinangan air mata.

Dari penjelasan diatas bahwa kita dapat mengambil hikmah dari apa yang telah kita rajut dalam merangkai kisah hidup ini, kisah cinta dikalangan anak muda merupakan suatu kisah yang tetap ada sampai kapanpun dan dalam perjalanan kisah itu terkadang ada rasa luka maupun rasa suka, ketika rasa luka datang bisa kita arahkan kepada hal yang benar seperti menulis dengan hati bukan kepada jalan yang salah seperti bunuh diri atau lain sebagainya yang tidak bermanfaat; (Baca: Hilang Cinta bukan Berarti Hilang Cita-Cita).

Cinta tak kesampaian bisa membuat seseorang berada dalam penyakit asmara yang mengusik akal sehatnya, karena penyakit itu berawal dari lamunan dan khayalan tentang seseorang yang dicintai. Gila dalam arti yang sesungguhnya bisa saja karena ulah cinta yang tak kesampaian bahkan naik statusnya menjadi musyahid cinta. Seorang ahli syair Ibn Hazm dari Cordoba (Spanyol) yang lahir pada tahun 384 H/994 M, memberikan syairnya bahwa orang yang telah terjangkit virus gila karena cinta maka harus diobati dengan penawar cinta kepada seseorang yang dicintainya.

Hatinya t’lah kau curi, di dunia ini siapa bisa hidup tanpa hati

Dia, dengan segenap rasa, temui dan obati

Hidupmu akan mulia dan bergelimang pahala

Kalau kau masih membiarkannya begitu saja

Mungkin, ia kan lepaskan segala

Perhiasan dipergelangan kakinya

Pesonamu sungguh memikat hati, laiknya mentari pagi

Sehingga cintanya padamu, semua penghuni bumi mengetahui.

Kisah yang selalu menyala dan tak pernah padam, kisah yang diekspresikan dengan puisi dan dilantunkan dengan nyanyian itulah kisah cinta dan ketika cinta itu tak kesampaian sehingga cinta tak bisa bertasbih dengan lafaz-lafaz indah harus disimpan dalam hati dan berada pada tempat yang jauh dalam kesunyian yaitu cinta dalam diam.

*Penulis: Kompasianer dan Blogger, Kolumnis Media Online LintasGAYO.co.

Comments

comments

Install Lintasgayo for Android Smartphone

Comments are closed.

Scroll To Top