Free songs
Home / Features / Kunamai Ia Negeri Eceng Gondok

Kunamai Ia Negeri Eceng Gondok


Oleh : Junaidi A Delung*

Tidak terbayang rasanya dalam benakku. Keberadaannya meyakinkan hati saya, seperti yang dikatakan orang-orang. Saya mengira, hal itu tidaklah mungkin terjadi dalam kehidupan yang sebenarnya. Yang saya tahu, paling enggak, hanya sedikit saja keberadaannya. Faktanya itu lah. Bahkan saya sudah beberapa hari tinggal disana. Tapi kok tidak menjanjikan dan tidak meyakinkan dengan keberadaan tumbuhan itu.

Suatu hari, saya dan teman-teman yang lain akhirnya bisa menelusuri tumbuhan itu dengan para ibu-ibu masyarakat setempat. Tadinya mengira, tanaman tersebut sangat banyak sekali  sebanyak yang disampaikan dalam pembekalan pada bulan Januari 2017 lalu. Namun setelah menjejakiya, akan tetapi tidak banyak yang saya lihat seperti yang di bayangkan sebelumnya. Jika adapun palingan tidak sedemikian banyak.

Setelah berhari-hari disana, masih belum terasa yakin seperti yang dibayangkan. “banyaknya, luasnya, yang berada disetiap sisi kampung sekitar”, karena  banyaknya tumbuhan itu tumbuh memenuhi sepanjang sungai-sungai masyarakat sekitar kecamatan Arongan Lambalek.  Namun hal tersebut juga masih belum meyakinkan saya.

Tibalah saatnya. suatu pagi tepat pukul 9 lewat, saya dan 3 teman lainnya pergi kesuatu kampung untuk mengadakan rapat kecamatan untuk mengindahkan program-program yang kami tawarkan kepada masyarakat di 3 kampung waktu itu. “bruemm bruem..bruemm…” suara kreta yang kami tumpangi. Honda supra X 125 baru, sepertinya keluaran tahun 2016

Perjalanan santai. Saking santainya salah melewati jalan yang tenga kami tempuh. Dan  percaya dirinya hingga sempat tersesat alias salah arah.

Saya yang sok tahu kebingungan melihat ada sebuah jalan rusak menuju arah kampung Pelanteu, dari kampung kami yang menjadi central tempat penginapan, Cot Jurumudi.

Akhirnya saya menanyakan kepada teman saya Mirza. “Bukankah itu jalan ke Pelanteu?”.

“waduh, mana yang betul ini?”. Nanyak balik, sambil melihat kawan kami yang 2 orang melewati melaju kencang terus tanpa henti. Akhirnya kami tanyakan kepada masyarakat sekitar. “wahhh..”kami harus memutar balik lagi kereta kebelakang.

“Ayo putar lagi kebelakang, kampung pelanteu masih jauh disana, lurus terus!”. Ujar bapak yang kami tanyai tadi. Akhirnya berputar dan mebikuti jalan yang ditunjukkan itu tadi. Wahh pemandangannya hijau menyelimuti hari kami, angin yang segar., dan pohon yang rindang menghibur kami diperjalanan.

“waduh, itu apa ya?” tanyaku dengan pensaran.

Lama-kelamaan semakin mendekat terlihat jelas. Rupanya sebuah jembatan ayunan yang pajangnya kurang lebih lima puluh kilo meter.

Sampai ditengah jembatan itu, “Subhanallah”, banyaknnya tumbuhan ini. Luas kali ya dan banyak tumbuhan eceng gondoknya. Melihat tersebut, benar-benar luar biasa banyak dan luasnya sungai dan panjangnya seolah memenuhi semua perairan sekitar dengan tumbuhan eceng gondok.

Suara jembatanpun bising. Karena penyanggahnya papan yang dibuat oleh masyarakat sekitar. Lewatlah jembatan itu. Tiga puluh meter kemudian. Sontak ada tumbuhan yang semuanya rapi.

“Apakah itu tanaman ya?” tanyaku lagi

Wah luar biasa, rupanya tumbuhan eceng gondok tadi memenuhi pandangan-pandangan kami dan masyarakat sekitar yang melewati dan menetap disana. Mulai dari ujung sini hingga sana kebanyakan dipenuhi dengan eceng gondok, apa yang terjadi? Penasaran tinggi saat berada diatas kereta. Hinga akhirnya dalam benak, ingin sekali memberinya suatu hal. Dan jadilah, Kunamai ia Negeri Eceng Gondok.

Jika anda kesini pasti terpukau melihat tanaman itu. Anda pasti tidak yakin dengan semuanya. Bahwa eceng gondoklah yang memenuhi sungai-sungai di desa-desa itu. Dan tanaman itu benar-benar ada dan sangat banyak.

Menariknya, dikehidupan masyarakat tidak terhalang sama sekali dengan melihat dan memandang eceng gondok setiap harinya. Dan hal itu juga mebaut masyarakata yang tidak nyaman ketika hujan turun sekitaran masyarakat tersebut. karena seringnya terjadinya fenomena banjir, maka pemerintah akhirnya turun dan membuat program dan memetik beberapa tangkai eceng gondok untuk dibuat sebuah tas yang menarik dengan menganyamnya. Hingga terkenal dengan tas eceng gondok.  Hal tersebut juga berguna sebagai meningkatkan nilai ekonomi masyarakat disana.

Dari itu, tas tersebut hanya dapat dibeberapa bagian saja di Indonesia, yang saat ini, program tersebut didampingi oleh mahasiswa Universitas Islam Negeri Ar-raniry Banda Aceh yang diadakan oleh Lembaga Pengembangan Penelitian Masyarakat (LP2M) yang bekerjasama dengan Kolaborasi Masyarakat dan pelayanan untuk Kesejahteraan (KOMPAK).  Salah satunya di Aceh, di Kabupaten Aceh Barat ini. Tepatnya lagi di tiga kampung; Kampung Kubu, Cot Jurumudi dan Kampung Pelanteu.

*Penulis merupakan Mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Universitas Islam Negeri Ar-raniry Banda Aceh, email; junaidiad51@gmail.com

Comments

comments

Install Lintasgayo for Android Smartphone

Comments are closed.

Scroll To Top